Cari Blog Ini

Senin, 31 Mei 2021

1 Juni 1945

Foto : Bobo.ID-Grid.ID

“Aku tidak mendapat wahyu , aku bukan nabi” kata Bung Karno .”Aku sekedar mengali Pancasila di bumi Indonesia sendiri “ ( Pidato Bung Karno , memperingati lahirnya Pancasila ,1 Juni 1961)


Pidato Ir.Soekarno tanggal 1 Juni 1945 dalam sidang BPUPKI untuk menjawab pertanyaan ketua BPUPKI Dr. KRT Radjiman Wedyodiningrat tentang dasar Indonesia Merdeka . Tanpa teks Ir.Soekarno mengemukakan lima dasar yang disebut dengan Pancasila yaitu Kebangsaan Indonesia , Internasionalisme atau Perikemanusian , Mufakat atau demokrasi  , Kesejahteraan Sosial dan Ketuhanan yang berbudaya . Rumusan pidato Ir.Soekarno kemudian diterima dalam sidang BPUPKI dan dilanjutkan untuk dibahas lebih lanjut .

Kemudian  dibentuklah Panitia Kecil atau Panitia Sembilan yang bertugas untuk merumuskan dasar negara . Panitia Kecil ini terdiri dari sembilan tokoh dan Ir.Soekarno menjadi ketua dan wakilnya Moh.Hatta . Pada 22 Juni 1945, Panitia Sembilan menandatangani kesepakatan yang dikenal dengan nama Piagam Jakarta atau Jakarta Charter. Piagam tersebut memuat arah dan tujuan bernegera serta lima rumusan dasar negara (Pancasila). Ketika disahkan, Piagam Jakarta kala itu mendapat sambutan hangat. Naskah inilah yang kemudian juga dijadikan Pembukaan UUD 1945. Namun setelah proklamasi kemerdekaan dan sebelum dasar negara secara resmi disahkan, terdapat perubahan pada isi Piagam Jakarta. Tujuh kata yakni, "...dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya" dihapus.  Tokoh-tokoh dari Timur menyatakan keberatan mereka atas sila pertama yang menyiratkan bahwa rumusan itu tidak berlaku bagi pemeluk agama lain. Mereka mengutarakan pendapat tersebut kepada Muhammad Hatta. Maka untuk menghindari perpecahan, Hatta mengadakan pembicaraan dengan tokoh-tokoh Islam. KH. A. Wahid Hasyim adalah seorang tokoh wakil Islam dari Nahdlatul Ulama yang turut mendiskusikan rumusan sila pertama Pancasila. Dikutip dari jurnal Islam Sebagai Dasar Negara (Perdebatan dalam PPKI dan Konstituante) oleh Saoki, KH. A. Wahid Hasyim mengusulkan kepada para pimpinan Islam untuk mengubah asas Ketuhanan dengan ditambah kata-kata Yang Maha Esa, yang juga berimplikasi tauhid bagi umat Islam.  

Dikutip dari buku Berangkat dari Pesantren tulisan Saifuddin Zuhri, K.H. A. Wahid Hasyim menjelaskan sikapnya dengan argumen berikut:

  1. Kondisi saat itu sangat membutuhkan persatuan untuk menghadapi Belanda yang berusaha kembali ke daerah jajahan mereka.

  2. Beliau telah menerima dengan pemahaman bahwa kewajiban mengikuti syariat Islam bagi umat Islam akan mendapatkan tempatnya dalam penerapan yang jujur terhadap pasal 29 UUD 1945 yang menjamin kebebasan setiap warga negara untuk memeluk agama dan mengamalkan menurut agamanya masing-masing. 

KH. A. Wahid Hasyim kala itu menginginkan persatuan umat, baik sesama umat Islam, maupun dengan umat agama lain dalam bingkai negara Indonesia. Akhirnya, sila pertama Pancasila diganti menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. 

        Ini adalah salah satu peristiwa penting yang dapat dijadikan contoh untuk pendewasaan warga negara Indonesia. Yaitu kesediaan kelompok nasionalis Islam dalam persidangan BPUPKI menerima kelima sila dalam Pancasila sebagai dasar negara dan tidak menuntut tempat khusus bagi umat Islam dalam konstitusi negara, padahal mereka mewakili kelompok dominan. Hal ini sebagaimana menurut catatan dari rohaniawan Franz Magnis Suseno yang dikutip dari buku Pendidikan Kewarganegaraan Demokrasi, HAM dan Masyarakat Madani karya A. Ubaedillah dan Abdul Rozak. Kemudian tanggal 18 Agustus 1945 , PPKI mengesahkan UUD 1945 yang mencantumkan Pancasila sebagai dasar negara .

Belajar dari sejarah lahirnya Pancasila 1 Juni 1945 kita bisa bercermin dari para pendiri bangsa yang telah sepakat Pancasila sebagai dasar negara . Dengan jiwa persatuan dan kesatuan mereka bisa berpandangan luas untuk mendirikan sebuah negara diatas kepentingan kelompok,golongan  dan individu . Pancasila adalah rumah kita , sudah ada nilai-nilai dan jiwa yang menyatu dalam diri bangsa Indonesia . Sudah bukan waktunya kita mementingkan ego kita , kelompok kita ,suku kita dan agama kita .Mari  kita melangkah  untuk mewujudkan negara bersatu , berdaulat ,adil dan makmur…(abc)


Organisasi Bayangan versi Nadiem

                   Nadiem dengan belajar merdeka "Pendikan adalah paspor untuk masa depan karena hari esok adalah milik mereka yang mem...