Nadiem dengan belajar merdeka |
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Anwar Makarim menyampaikan pidato di markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, Amerika Serikat (AS) dalam rangkaian kegiatan Transforming Education Summit. Dalam kesempatan ini, dia membahas mengenai teknologi dalam pendidikan. Sambutan tepuk tangan mewarnai pidato Nadiem tentang idenya mengenai transformasi digital pendidikan di Indonesia . Sebelum masuk ke pemerintahan, Nadiem dikenal sebagai bos start up decacorn GoJek. Ia kemudian menjadi Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbud Ristek) dengan usia muda di kabinet Indonesia Maju. Kegigihannya dalam dunia pendidikan membuatnya rela menghabiskan masa SMA di Singapura dan melanjutkan kuliah di Amerika Serikat. Nadiem pun berhasil mendapatkan gelar sarjananya di jurusan Hubungan Internasional di Brown University. Ia kemudian melanjutkan pendidikan magisternya di Harvard University dengan gelar Master of Business Administration. Dengan latar belakang pendidikan yang mumpuni dan pengalaman di bidang IPTEK tidak mengherankan visi dan misi pendidikan ingin mentransformasi pendidikan berbasis teknologi di Indonesia .
Transformasi pendidikan begitu cepat |
Nadiem menginginkan sistem pendidikan di Indonesia ditransformasikan dari pola yang manual berorientasi ke arah digital . Artinya kondisi Indonesia mempunyai wilayah yang sangat luas , beragam tingkat masyarakat dan akses informasi yang sangat terbatas ingin adanya terobosan baru . Misalnya bagaimana sekolah di Aceh agar standarnya sama dengan di Papua atau sekolah negeri di Jakarta standarnya sama dengan sekolah di Kalimantan . Hal ini tidak bisa dilakukan secara manual , mendatangi guru-guru ke daerah untuk mengikuti pelatihan atau guru-guru datang ke Jakarta untuk mendengarkan simposium . Tentu membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang tidak sedikit . Untuk itu perlu ada transformasi pendidikan dengan membangun platform besar untuk melakukan transformasi agar dunia pendidikan kita guru-guru , para murid , mahasiswa dan orang tua murid semua bisa memanfaatkan platform besar ini . Dan kemudian target semua orang-orang yang terlibat dunia pendidikan ikut dalam akselerasi , ikut bergerak maju .
Guru menjadi kurikulum yang sebenarnya |
Suara Nadiem di PBB |
Tehnologi pendidikan |
Perubahan banyak tantangan yang akan dihadapi , bagi pihak dalam zona nyaman akan sulit dan mau menerima perubahan . Hal ini bisa dilihat di sekolah , bagi guru dari Gen X : kelahiran 1965-1980 , berusia antara 43-58 tahun pada 2023 dan Baby Boomers: kelahiran 1946-1964 , berusia antara 59-77 tahun pada 2023 akan sulit menerima perubahan karena mereka sudah nyaman dan tidak mau berubah sebab mereka gaptek sehingga harus belajar lagi mengenai aplikasi komputer . Para guru generasi X dan Baby Boomers akan tetap menggunakan metode ceramah karena sudah nyaman dan tidak mau ditinggalkan . Beda dengan guru dari Gen Z kelahiran 1997-2012 , berusia antara 10-25 tahun pada 2022 dan Gen Y atau Millennials: kelahiran 1981-1996 dan berusia antara 26-41 tahun pada 2022 yang sudah melek teknologi sehingga mereka dengan mudahnya dapat mengikuti perkembangan teknologi . Generasi Z dan Y (millennials) tidak hanya metode ceramah yang digunakan tetapi berbagai metode bisa digunakan tanpa pertanyaan .Hal tersebut di atas bisa terjadi dalam diri Nadiem ketika rapat di DPR dengan Komisi X . Nadiem mewakili generasi Gen Y atau Millennials karena kelahiran tahun 1984 berhadapan dengan anggota DPR Komisi X yang sebagian besar dari generasi X dan Baby Boomers , tentu hal ini terjadi pertarungan pendapat karena Nadiem berpikiran ke depan secara makro dengan kebijakan untuk pemerataan dan peningkatan mutu pendidikan di Indonesia dengan cara transformasi digital . Tetapi di kritik secara pedas oleh anggota Komisi X DPR RI Anita Jacoba Gah. Anita menyindir Nadiem soal guru honorer dan P3K yang gajinya belum dibayarkan hingga 6 bulan lamanya. Kritikan ini salah alamat seharusnya disampaikan ke pemerintahan daerah , kalau guru itu guru SD - SMP disampaikan ke pemerintahan Kabupaten / Kota atau kalau guru itu guru SMA disampaikan ke Provinsi . Karena gaji guru menjadi kewenangan di pemerintahan daerah kabupaten atau provinsi . Kalau guru swasta itu kewenangan Yayasan , misalnya kekurangan dana bisa minta dana BOS melalui SUDIN setempat . Aturan dan ketentuan perundangan seperti itu . Jadi kritikan itu jangan dilimpahkan kepada Nadiem . Tidak heran kalau pemikiran Nadiem lebih dihargai di PBB dibandingkan oleh anggota DPR . Tetapi kritikan itu dari anggota DPR perlu dihargai dan dihormati .
Nadiem dengan segala konfrontasinya selalu berpandangan ke depan untuk kemajuan pendidikan di Indonesia.(ABC)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar