
Mengenang Adik….
“ Mas ….kalau saya meninggal nanti akan di
beri kaki baru di surga ..”
Adik saya bernama Titik , anak
bungsu dari lima saudara lahir 14 Maret 1976 . Sejak dalam kandungan ibunya ,
ibu berpesan kalau yang lahir nanti perempuan akan dinamakan Titik artinya
sudah selesai tidak akan melahirkan lagi . Bagaikan noktah diakhir kalimat
selalu ditandai dengan simbol bulatan kecil untuk menandakan bahwa kalimat telah berakhir. .Itulah nama panggilan adik saya , nama lengkapnya adalah Elsih
Setyawati .Namanya berpaduan dari bahasa Yahudi dengan Jawa. , Elsih dari kata
Ellsadah yang artinya Tuhan menyertainya dan Setya artinya setia kepada firman
Tuhan. Di harapkan nantinya anak ini menjadi anak yang setia kepada firman
Tuhan dan Tuhan akan menyertainya . Itu pesan ayah ketika memberi anak
bungsunya bernama Elsih Setyawati .
Hidup Titik apa adanya mengalir
seperti sungai , sejak TK telah terlihat
bakatnya berdeklamasi , menyanyi atau aktivitas lainnya .Di SDpun
bakatnya mulai diasah ,sering ikut lomba membaca puisi atau menulis puisi dan
pernah menjadi ketua pasukan berbaris pada saat lomba Proklamasi Kemerdekaan .
Di SMP mulai aktif di kepanitian dan menjadi pengurus OSIS dan dalam kehidupan
bergereja , sejak SMP sudah mengajar sekolah minggu dan ikut main drama ketika
peringatan hari natal dan paskah . Karena merasa nilai akademiknya pas-pasan
setelah lulus SMP tidak melanjutkan ke SMA tetapi dia memilih SMPS yaitu
Sekolah Menegah Pekerja Sosial di Magelang . Selama tiga tahun belajar dan
hidup di asrama . Setelah lulus SMPS dia mulai mencari pekerjaan di Jakarta dan
di terima di Rehabilitasi Korban Narkoba di Puncak . Hanya dua tahun dia
menjalani pekerjaannya lalu melanjutkan di Panti Rawinala di Jakarta yang menyelenggarakan
layanan bagi anak anak tuna netra ganda.
Saat itulah penyakit diabetes terdeteksi karena ketika akan menjalani operasi
kista ternyata gula darahnya tinggi sejak itulah dia menjalani perawatan
penyakit gula dengan minum obat untuk menurunkan kadar gulanya .
Hampir lima tahun hidup di Jakarta dan kemudian melanjutkan
kehidupannya di Surabaya . Di Surabaya ikut kakaknya dan mulai bekerja sebagai guru TK . Melayani sebagai guru TK memang penuh kesabaran dan kesetian karena harus mendidik karakater seorang anak
yang akan menjadi bekal di kemudian hari . Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan selalu diajarkan sehingga mulai
sedikit demi sedikit menulis renungan harian
untuk anak-anak . Untuk menambah pengetahuan dan profesionalisme sebagai
guru maka mulai membagi waktu untuk kulaih di perguruan tinggi swasta sampai
akhirnya lulus S1 di bidang pendidikan . Karier Titik mulai maju sehingga di
beri tugas untuk memimpin TK di Surabaya . Karena usianya mulai meginjak 35
tahun lebih maka tahun 2011 Titik menikah dengan seorang laki-laki pilihannya
kemudian mereka berdua hidup di Surabaya .Satu tahun kemudian Titik hamil tetapi
bayi dalam kandungannya meninggal diusia hampir delapan bulan . Lalu mulai
melanjutkan kehidupannya di Surabaya tetapi baru beberapa bulan di Surabaya
ternyata kadar gula selalu naik dan sampai akhirnya harus menjalani HD atau
cuci darah karena ginjalnya sudah tidak berfungsi . Kondisi tubuh yang semakin
lemah membuat dirinya untuk pulang ke rumah dan mengundurkan diri menjadi guru
. Ahirnya dia bergelut dengan penyakitnya , penyakit diabetes yang sudah lama
ternyata merogoti tubuhnya . Matanya mulai rabun dan bobot tubuhnya mulai
merosot ,luka kadang-kadang tidak sembuh-sembuh sehingga membusuk sampai
akhirnya diamputasi jempol kakinya . Dalam kondisi seperti ini sering
mempertanyakan tentang kehidupan sebagai manusia yang tidak ada artinya , lebih
baik mati daripada menerima beban seberat ini . Tetapi Tuhan tidak memberi
beban melebihi kekuatan kita . Hanya sabar dan semangat menjadi modal untuk
menjalani kehidupan ini . Semakin lama semakin merasakan kehidupan menjadi
hilang . Dengan perasaan hampa seperti gelap tak ada terang itu yang dirasakan
oleh Titik . Tahun demi tahun dia rasakan tetapi beban semakin berat , setelah
anaknya dipanggil Tuhan sekarang suaminya mulai meninggalkan dirinya . Dia tahu
kenapa dia ditinggalkan , tubuhnya semakin merosot , cuci darah yang dulunya
satu kali dalam satu minggu sekarang dua kali dalam satu minggu,sering
masuk-keluar rumah sakit mungkin itu yang menyebabkan suaminya hampir tiga
tahun tidak pernah menengok ,telpon ataupun WA .
”Saya salah pilih pendamping “ suatu ketika pernah bicara
dengan ibu yang selalu mendampingi dan merawatnya. Dia masih ingat beberapa
tahun yang lalu ketika bertemu dengan suaminya . Dia memilih lelaki itu karena
dia bersedia menerima kondisi penyakitnya sebagai penderita diabet. Akhirnya
perkawinan itupun berjalan dan ada janji perkawinan di depan pendeta dan jemaat
. Dalam untung dan rugi , dalam bahagia dan derita , dalam hidup dan mati
disatukan oleh Tuhan . Janji itu selalu diingat oleh Titik dan dengan kesabaran
selalu menunggu kehadiran suaminya untuk mendengarkan certianya . Tetapi janji
tinggal janji , lidah tak bertulang dan manusia bisa berubah dan itulah yang
menimpa Titik dalam kehidupan perkawinannya .Untuk mengurangi beban dan pikiran
Titik akhirnya keluarga memutuskan supaya Titik tidak lagi memikirkan suaminya
dan fokus dengan penyakitnya . Akhirnya Titik menyetujui keputusan itu dan
mulai dengan semangat mengisi kehidupannya . Dengan dibantu oleh ibu dan ayah ,
Titik mulai mengetik tulisan tentang renungan harian untuk anak-anak . Tidak
tahu dari mana kekuatan itu mendorong Titik untuk menulis renungan tesebut.
Tetapi saya mempunyai keyakinan bahwa Roh Kudus sedang bekerja melalui
tangan-tangannya . Dalam keterbatasan , dengan mata rabun hanya 20 % dia bisa
menyelesaikan 8 jilid renungan harian dengan bahasa anak-anak dalam satu bulan
. Dia menulis tema renungan mulai dari penciptaan oleh Tuhan sampai dengan
riwayat nabi Nuh . Dibantu oleh pak Pendeta Fajar dan teman-teman satu gereja
tulisan itu dijadikan buku dan akhirnya disebarkan kepada anak - anak sekolah
minggu dan sekolah TK . Ada kebahagian di hati Titik paling tidak melalui buku
renungan itu banyak jiwa yang dimenangkan .
Dalam perjalanan melawan penyakitnya , Titik di bantu oleh
Ibu dan Bapak serta Oomnya di rumah . Bapak selalu menyiapkan obat-obatan
karena Titik tidak bisa melihat karena rabun matanya . tetapi setelah ayahnya
meninggal maka Ibu yang menganti perannya
. Kehilangan seorang ayah bagi Titik menjadi kesedihan tersendiri karena
Ayah merupakan teman curhat bagi Titik , dalam kesendirian selalu cerita
tentang pergumulannya dan Ayah selalu memberi semangat dan penghiburan . Hal
inilah yang menjadi kekuatan bagi Titik untuk mensyukuri kehidupannya .Sosok
Ibu juga menjadi perhatian bagi Titik ,
Ibu selalu mengantar ke rumah sakit untuk cuci darah , dalam masa tuanya
sebenarnya Ibu sudah mulai istirahat tetapi dengan penuh kasih sayang dan
pengorbanan Ibu selalu melayani dengan kasih . Sebenarnya Ibu bukan ibu kandung
tetapi pelayanannya melebihi ibu kandung sendiri. Sejak Ibu meninggal , ayah
menikah lagi dan serumah dengan ibu sekarang. Kejamnya ibu tiri sebenarnya
tidak selalu benar karena itu dirasakan sendiri oleh Titik bahwa ibunya
mengasihi seperti anak kandungnya sendiri. Saudara-saudara ibu selalu menolong
Titik , sebagai sopir untuk mengantar Titik tiap hari Rabu dan Sabtu untuk cuci
darah .
Perawatan penyakit diabet dan gagal ginjal membutuhkan
semangat dan doa. Dalam keseharian di rumah atau di rumah sakit perlu ada
kegigihan untuk melawan penyakit yang sudah lama dideritanya , itulah yang
dirasakan oleh Titik . Teman-teman dalam penderitaan cuci darah bergabung dalam
KPCDI ( Komunitas Pasien Cuci Darah
Indonesia ) , mereka bergabung untuk saling mengkuatkan . Mereka sudah menjadi
sahabat dan saudara dalam satu penderitaan . Mereka menyatu bahwa masih ada
kasih diantara mereka . Tetapi satu , dua atau tiga tahun mereka bersahabat
akhirnya merekapun satu,dua meninggalkan mereka . Tuhan memanggil satu-persatu
dihadiratNya . Itu yang selalu dirasakan oleh Titik dengan nada guyon selalu
mengatakan “kapan giliran saya ya..” ketika teman satu cuci darah telah
dipanggil Tuhan .
Bulan Desember tahun yang lalu seperti biasa saya pulang ke rumah untuk merayakan
natal bersama di rumah Ibu. Saya pergi sendirian karena istri tidak cuti dan
anak-anak saya masih ujian semesteran sehingga tidak bisa ikut . Di rumah Ibu ,
datang juga adik saya . Dan saya melihat Titik adik saya duduk di kursi roda
dengan dua kaki diamputasi . Ada kesedihan dan kepasrahan melihat penderitaan
Titik . Saya berjabat tangan dan berpelukan sambil berucap “ sabar yaa Tuhan
tetap menguatkanmu…” Itu kata-kata saya untuk memberi penghiburan dan kekuatan
.
“ Mas ….kalau saya meninggal nanti akan di beri kaki baru
di surga ..” kata Titik saat pagi ketika saya baru bangun tidur dan duduk
di ruang tamu. Titik mulai cerita sebenarnya tidak mau dua kakinya diamputasi
karena menurut dia ketika dipanggil Tuhan , tubuhnya harus sempurna . Tetapi
situasi dan kondisi memaksakan untuk diamputasi karena kedua telapak kakinya
sudah mulai membusuk dan membuat kesakitan yang luar biasa . Namun setelah
diamputasi kakinya berangsur-angsur sakitnya menghilang.Akhirnya kakinya
dikubur di tanah di tempat pemakaman . Saya mengatakan nanti kakinya bisa
diganti dengan kaki palsu . Satu minggu saya di rumah Ibu dan saya memberi
semangat terus kepada adik saya Titik . Dan Titik sudah menerimanya bahwa ini
rencana Tuhan dan rencana Tuhan indah
pada waktunya .
Hari Jum’at tanggal 21 Februari 2020 jam 07.00 malam saya
menerima telpon dari Ibu mengabarkan bahwa Titik dipanggil Tuhan . Saya kaget
lalu mulai menghubungi adik saya di Pulo Gebang Jakarta Timur dan di Surabaya
baru me-WA kelompok keluarga . Malam itu saya cari kereta api tetapi habis
tiket keretanya .Ahkirnya saya dan istri pergi pagi hari jam 06.50 WIB dari
stasiun Senen . Jam setengan duabelas saya sudah sampai di rumah . Saya
memandangi wajah adik saya . Ada senyuman di bibirnya , seperti sedang tidur .
Dalam hati saya mengatakan sudah selesai kamu , sudah menyelesaikan tugasmu
dengan baik di bumi. Sekarang waktunya Tuhan memanggil . Pergilah dengan
damai.Saya teringat kata-kata terakhir dia bahwa Tuhan akan
memberi dua kaki yang baru di surga .
Dan janji itu ditepati oleh Tuhan . Padahal kata Ibu kaki palsu sedang
dipersiapkan , hari Senin akan diukur kaki Titik . Tetapi Tuhan mempunyai
rencana lain , indah waktunya Tuhan . Manusia boleh berencana tetapi Tuhan yang
menentukan . Tepat jam dua siang , peti mati dimasukkan ke liang lahat . Dari
debu kembali menjadi debu . Setelah upacara pemakaman selesai , hujan deras
membasahi tanah. Seolah-olah mengisyaratkan kepergiaan adik saya .
Minggu malam diadakan kebaktian penghiburan , Ibu selama
lima tahun merawat Titik memberi kesaksian dengan membacakan tulisan akhir
Titik sebelum dipanggil Tuhan dan kertas itu masih menempel di mesin ketik .
Begini tulisannya…

Itulah sepengal cerita adikku selama hidupnya….
Selamat jalan adikku , kini sudah tenang bersama Bapa di
surga….


Foto Kenangan Titik dalam kehidupan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar