Cari Blog Ini

Selasa, 26 Mei 2020

Kenangan adikku 2


Keterangan foto tidak tersedia.
Mengenang Adik….

Mas ….kalau saya meninggal nanti akan di beri kaki baru di surga ..”

Adik saya bernama Titik , anak bungsu dari lima saudara lahir 14 Maret 1976 . Sejak dalam kandungan ibunya , ibu berpesan kalau yang lahir nanti perempuan akan dinamakan Titik artinya sudah selesai tidak akan melahirkan lagi . Bagaikan noktah diakhir kalimat selalu ditandai dengan simbol bulatan kecil untuk menandakan bahwa kalimat  telah berakhir. .Itulah nama panggilan adik saya , nama lengkapnya adalah Elsih Setyawati .Namanya berpaduan dari bahasa Yahudi dengan Jawa. , Elsih dari kata Ellsadah yang artinya Tuhan menyertainya dan Setya artinya setia kepada firman Tuhan. Di harapkan nantinya anak ini menjadi anak yang setia kepada firman Tuhan dan Tuhan akan menyertainya . Itu pesan ayah ketika memberi anak bungsunya bernama Elsih Setyawati .
Hidup Titik apa adanya mengalir seperti sungai , sejak TK telah terlihat  bakatnya berdeklamasi , menyanyi atau aktivitas lainnya .Di SDpun bakatnya mulai diasah ,sering ikut lomba membaca puisi atau menulis puisi dan pernah menjadi ketua pasukan berbaris pada saat lomba Proklamasi Kemerdekaan . Di SMP mulai aktif di kepanitian dan menjadi pengurus OSIS dan dalam kehidupan bergereja , sejak SMP sudah mengajar sekolah minggu dan ikut main drama ketika peringatan hari natal dan paskah . Karena merasa nilai akademiknya pas-pasan setelah lulus SMP tidak melanjutkan ke SMA tetapi dia memilih SMPS yaitu Sekolah Menegah Pekerja Sosial di Magelang . Selama tiga tahun belajar dan hidup di asrama . Setelah lulus SMPS dia mulai mencari pekerjaan di Jakarta dan di terima di Rehabilitasi Korban Narkoba di Puncak . Hanya dua tahun dia menjalani pekerjaannya lalu melanjutkan di Panti Rawinala di Jakarta yang menyelenggarakan layanan bagi anak anak tuna netra ganda.  Saat itulah penyakit diabetes terdeteksi karena ketika akan menjalani operasi kista ternyata gula darahnya tinggi sejak itulah dia menjalani perawatan penyakit gula dengan minum obat untuk menurunkan kadar gulanya .
Hampir lima tahun hidup di Jakarta dan kemudian melanjutkan kehidupannya di Surabaya . Di Surabaya ikut kakaknya dan mulai bekerja sebagai guru TK . Melayani sebagai guru TK memang penuh kesabaran dan kesetian  karena harus mendidik karakater seorang anak yang akan menjadi bekal di kemudian hari . Takut akan Tuhan adalah permulaan  pengetahuan selalu diajarkan sehingga mulai sedikit demi sedikit menulis renungan harian  untuk anak-anak . Untuk menambah pengetahuan dan profesionalisme sebagai guru maka mulai membagi waktu untuk kulaih di perguruan tinggi swasta sampai akhirnya lulus S1 di bidang pendidikan . Karier Titik mulai maju sehingga di beri tugas untuk memimpin TK di Surabaya . Karena usianya mulai meginjak 35 tahun lebih maka tahun 2011 Titik menikah dengan seorang laki-laki pilihannya kemudian mereka berdua hidup di Surabaya .Satu tahun kemudian Titik hamil tetapi bayi dalam kandungannya meninggal diusia hampir delapan bulan . Lalu mulai melanjutkan kehidupannya di Surabaya tetapi baru beberapa bulan di Surabaya ternyata kadar gula selalu naik dan sampai akhirnya harus menjalani HD atau cuci darah karena ginjalnya sudah tidak berfungsi . Kondisi tubuh yang semakin lemah membuat dirinya untuk pulang ke rumah dan mengundurkan diri menjadi guru . Ahirnya dia bergelut dengan penyakitnya , penyakit diabetes yang sudah lama ternyata merogoti tubuhnya . Matanya mulai rabun dan bobot tubuhnya mulai merosot ,luka kadang-kadang tidak sembuh-sembuh sehingga membusuk sampai akhirnya diamputasi jempol kakinya . Dalam kondisi seperti ini sering mempertanyakan tentang kehidupan sebagai manusia yang tidak ada artinya , lebih baik mati daripada menerima beban seberat ini . Tetapi Tuhan tidak memberi beban melebihi kekuatan kita . Hanya sabar dan semangat menjadi modal untuk menjalani kehidupan ini . Semakin lama semakin merasakan kehidupan menjadi hilang . Dengan perasaan hampa seperti gelap tak ada terang itu yang dirasakan oleh Titik . Tahun demi tahun dia rasakan tetapi beban semakin berat , setelah anaknya dipanggil Tuhan sekarang suaminya mulai meninggalkan dirinya . Dia tahu kenapa dia ditinggalkan , tubuhnya semakin merosot , cuci darah yang dulunya satu kali dalam satu minggu sekarang dua kali dalam satu minggu,sering masuk-keluar rumah sakit mungkin itu yang menyebabkan suaminya hampir tiga tahun tidak pernah menengok ,telpon ataupun WA .
”Saya salah pilih pendamping “ suatu ketika pernah bicara dengan ibu yang selalu mendampingi dan merawatnya. Dia masih ingat beberapa tahun yang lalu ketika bertemu dengan suaminya . Dia memilih lelaki itu karena dia bersedia menerima kondisi penyakitnya sebagai penderita diabet. Akhirnya perkawinan itupun berjalan dan ada janji perkawinan di depan pendeta dan jemaat . Dalam untung dan rugi , dalam bahagia dan derita , dalam hidup dan mati disatukan oleh Tuhan . Janji itu selalu diingat oleh Titik dan dengan kesabaran selalu menunggu kehadiran suaminya untuk mendengarkan certianya . Tetapi janji tinggal janji , lidah tak bertulang dan manusia bisa berubah dan itulah yang menimpa Titik dalam kehidupan perkawinannya .Untuk mengurangi beban dan pikiran Titik akhirnya keluarga memutuskan supaya Titik tidak lagi memikirkan suaminya dan fokus dengan penyakitnya . Akhirnya Titik menyetujui keputusan itu dan mulai dengan semangat mengisi kehidupannya . Dengan dibantu oleh ibu dan ayah , Titik mulai mengetik tulisan tentang renungan harian untuk anak-anak . Tidak tahu dari mana kekuatan itu mendorong Titik untuk menulis renungan tesebut. Tetapi saya mempunyai keyakinan bahwa Roh Kudus sedang bekerja melalui tangan-tangannya . Dalam keterbatasan , dengan mata rabun hanya 20 % dia bisa menyelesaikan 8 jilid renungan harian dengan bahasa anak-anak dalam satu bulan . Dia menulis tema renungan mulai dari penciptaan oleh Tuhan sampai dengan riwayat nabi Nuh . Dibantu oleh pak Pendeta Fajar dan teman-teman satu gereja tulisan itu dijadikan buku dan akhirnya disebarkan kepada anak - anak sekolah minggu dan sekolah TK . Ada kebahagian di hati Titik paling tidak melalui buku renungan itu banyak jiwa yang dimenangkan .
Dalam perjalanan melawan penyakitnya , Titik di bantu oleh Ibu dan Bapak serta Oomnya di rumah . Bapak selalu menyiapkan obat-obatan karena Titik tidak bisa melihat karena rabun matanya . tetapi setelah ayahnya meninggal maka Ibu yang menganti perannya  . Kehilangan seorang ayah bagi Titik menjadi kesedihan tersendiri karena Ayah merupakan teman curhat bagi Titik , dalam kesendirian selalu cerita tentang pergumulannya dan Ayah selalu memberi semangat dan penghiburan . Hal inilah yang menjadi kekuatan bagi Titik untuk mensyukuri kehidupannya .Sosok Ibu juga menjadi perhatian bagi Titik ,  Ibu selalu mengantar ke rumah sakit untuk cuci darah , dalam masa tuanya sebenarnya Ibu sudah mulai istirahat tetapi dengan penuh kasih sayang dan pengorbanan Ibu selalu melayani dengan kasih . Sebenarnya Ibu bukan ibu kandung tetapi pelayanannya melebihi ibu kandung sendiri. Sejak Ibu meninggal , ayah menikah lagi dan serumah dengan ibu sekarang. Kejamnya ibu tiri sebenarnya tidak selalu benar karena itu dirasakan sendiri oleh Titik bahwa ibunya mengasihi seperti anak kandungnya sendiri. Saudara-saudara ibu selalu menolong Titik , sebagai sopir untuk mengantar Titik tiap hari Rabu dan Sabtu untuk cuci darah .
Perawatan penyakit diabet dan gagal ginjal membutuhkan semangat dan doa. Dalam keseharian di rumah atau di rumah sakit perlu ada kegigihan untuk melawan penyakit yang sudah lama dideritanya , itulah yang dirasakan oleh Titik . Teman-teman dalam penderitaan cuci darah bergabung dalam KPCDI ( Komunitas Pasien  Cuci Darah Indonesia ) , mereka bergabung untuk saling mengkuatkan . Mereka sudah menjadi sahabat dan saudara dalam satu penderitaan . Mereka menyatu bahwa masih ada kasih diantara mereka . Tetapi satu , dua atau tiga tahun mereka bersahabat akhirnya merekapun satu,dua meninggalkan mereka . Tuhan memanggil satu-persatu dihadiratNya . Itu yang selalu dirasakan oleh Titik dengan nada guyon selalu mengatakan “kapan giliran saya ya..” ketika teman satu cuci darah telah dipanggil Tuhan .
Bulan Desember tahun yang lalu seperti  biasa saya pulang ke rumah untuk merayakan natal bersama di rumah Ibu. Saya pergi sendirian karena istri tidak cuti dan anak-anak saya masih ujian semesteran sehingga tidak bisa ikut . Di rumah Ibu , datang juga adik saya . Dan saya melihat Titik adik saya duduk di kursi roda dengan dua kaki diamputasi . Ada kesedihan dan kepasrahan melihat penderitaan Titik . Saya berjabat tangan dan berpelukan sambil berucap “ sabar yaa Tuhan tetap menguatkanmu…” Itu kata-kata saya untuk memberi penghiburan dan kekuatan .
“ Mas ….kalau saya meninggal nanti akan di beri kaki baru di surga ..” kata Titik saat pagi ketika saya baru bangun tidur dan duduk di ruang tamu. Titik mulai cerita sebenarnya tidak mau dua kakinya diamputasi karena menurut dia ketika dipanggil Tuhan , tubuhnya harus sempurna . Tetapi situasi dan kondisi memaksakan untuk diamputasi karena kedua telapak kakinya sudah mulai membusuk dan membuat kesakitan yang luar biasa . Namun setelah diamputasi kakinya berangsur-angsur sakitnya menghilang.Akhirnya kakinya dikubur di tanah di tempat pemakaman . Saya mengatakan nanti kakinya bisa diganti dengan kaki palsu . Satu minggu saya di rumah Ibu dan saya memberi semangat terus kepada adik saya Titik . Dan Titik sudah menerimanya bahwa ini rencana Tuhan dan  rencana Tuhan indah pada waktunya .
Hari Jum’at tanggal 21 Februari 2020 jam 07.00 malam saya menerima telpon dari Ibu mengabarkan bahwa Titik dipanggil Tuhan . Saya kaget lalu mulai menghubungi adik saya di Pulo Gebang Jakarta Timur dan di Surabaya baru me-WA kelompok keluarga . Malam itu saya cari kereta api tetapi habis tiket keretanya .Ahkirnya saya dan istri pergi pagi hari jam 06.50 WIB dari stasiun Senen . Jam setengan duabelas saya sudah sampai di rumah . Saya memandangi wajah adik saya . Ada senyuman di bibirnya , seperti sedang tidur . Dalam hati saya mengatakan sudah selesai kamu , sudah menyelesaikan tugasmu dengan baik di bumi. Sekarang waktunya Tuhan memanggil . Pergilah dengan damai.Saya teringat kata-kata terakhir dia bahwa Tuhan akan memberi dua kaki yang baru di surga  . Dan janji itu  ditepati oleh Tuhan .  Padahal kata Ibu kaki palsu sedang dipersiapkan , hari Senin akan diukur kaki Titik . Tetapi Tuhan mempunyai rencana lain , indah waktunya Tuhan . Manusia boleh berencana tetapi Tuhan yang menentukan . Tepat jam dua siang , peti mati dimasukkan ke liang lahat . Dari debu kembali menjadi  debu . Setelah upacara pemakaman selesai , hujan deras membasahi tanah. Seolah-olah mengisyaratkan kepergiaan adik saya .
Minggu malam diadakan kebaktian penghiburan , Ibu selama lima tahun merawat Titik memberi kesaksian dengan membacakan tulisan akhir Titik sebelum dipanggil Tuhan dan kertas itu masih menempel di mesin ketik . Begini tulisannya…

Itulah sepengal cerita adikku selama hidupnya….
Selamat jalan adikku , kini sudah tenang bersama Bapa di surga….

Gambar mungkin berisi: 1 orang

Foto Kenangan Titik dalam kehidupan





















































































































Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Organisasi Bayangan versi Nadiem

                   Nadiem dengan belajar merdeka "Pendikan adalah paspor untuk masa depan karena hari esok adalah milik mereka yang mem...