In memoriam Ibu Yus...
“ Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi kesitu untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ." ( Yoh 14: 2 - 4 )
 |
Kenangan terindah |
Berita duka diterima melalui wa istri hari Rabu tanggal 1 Februari 2023 jam 06.30 wib , isinya telah dipanggil Tuhan ibu tadi pagi . Mengejutkan dan mengagetkan karena setiap hari dikabarkan keadaan ibu Yus bertambah baik . Terakhir kali bertemu ibu Yus bulan Desember 2022 saat itu ibu Yus merasakan sakit karena baru saja ada cairan di paru-paru dikeluarkan melalui selang . Satu jam bisa keluar cairan satu sampai lima liter terbuang . Rasa sakit dirasakan , hampir semua tubuh terasa sakit dari ubun-ubun sampai kaki merasakan sakitnya. Kadang kala orang yang melihat tidak mampu merasakan rasa kesakitan itu. Seringkali berkata kalau bisa jangan dibuang cairan di paru - paru karena terasa sakit setelah dikeluarkan cairan tersebut . Itu kemauan ibu tetapi dokter berkata lain untuk penyembuhan dilakukan tindakan tersebut. Lima tahun yang lalu ibu Yus terkena kanker payudara , melalui kemoterapi dan operasi bisa sembuh tuntas . Tetapi mulai akhir September 2022 , terasa sesak nafas sehingga kalau bicara terasa berat . Kemudian diperiksa dan didiagnosa dokter mengatakan ada cairan di paru-paru sehingga perlu ditangani dengan cara menyedot cairan tersebut . Akibat cairan itu oksigen tidak masuk sehingga terasa sesak untuk bernafas. Untuk itu dipakailah tabung oksigen , setiap hari dibutuhkan tabung berisi 40 liter . Ternyata kanker sudah menyerang paru-paru , salah satu paru-paru sudah tidak berfungsi . Hal inilah yang memberatkan aktivitas ibu Yus . Tubuh sudah melemah , makan pun terasa tidak enak , setiap hari tiduran . Doa memberi kekuatan dan nafas kehidupan untuk mengisi hari-hari yang kian sepi…
 |
Berkunjung selalu dilakukan |
Ibu Yus lahir dengan nama Yustina Siti Rowijah di Magelang tanggal 20 Agustus 1942 , anak bungsu dari tujuh bersaudara keluarga Wirjodimedjo menikah dengan Yustinus Karso Surjosupono dikaruniai tiga putra dan empat cucu . Setelah menikah kembali ke tempat kelahiran suaminya pak Karso di Banyumas . Semasa hidupnya Ibu Yus bekerja di Rumah Sakit Umum Banyumas sebagai tenaga kesehatan sedangkan Pak Karso sebagai kontraktor . Banyumas kota kecil , kota kecamatan tentu setiap orang kenal dengan ibu Yus . Setiap hari selalu naik becak pak Nadam langganannya menuju rumah sakit tempat pekerjaannya . Aktif dalam organisasi sosial mulai dari penggerak PKK , Wanita Katolik dan organisasi profesi lainnya di tempat pekerjaan . Di dalam gereja sosok Bu Yus menjadi teladan bagi umatnya. Auranya selalu terpancar dalam wajahnya , suaranya lembut menyejukkan hati , kata-katanya selalu memberikan inspirasi bagi pendengarnya . Ramah dan tidak pernah marah terlihat dalam kehidupannya. Hatinya dermawan , sudah banyak orang-orang yang diasuh hidup mandiri dan mentas bahasa jawanya . Termasuk salah satu istri saya yang diasuh sejak SD sampai bekerja menjadi perawat di Jakarta . Jiwa misionaris sudah tertanam dalam gerak dan aksinya . Sudah berapa jiwa dimenangkan untuk mengikut Yesus . Dalam kehidupan gerejawi ibu Yus mempunyai peran yang sangat penting . Berdirinya Paroki St. Maria Imakulata, Banyumas tidak terlepas dari pasutri Karso - Yustina .
 |
Gereja St.Maria Imakulata Banyumas |
Para Oblat sejak hari Pantekosta 1972 mulai berkarya di Paroki St Yosep, Kaliputih, Purwokerto Timur. Pada tahun tersebut, Banyumas masih merupakan salah satu stasi di Paroki St. Yosep. Umatnya saat itu berjumlah sekitar 75 orang. Dua puluh tahun kemudian, ketika Para Oblat menyerahkan kembali Paroki St. Yosep kepada pihak Keuskupan Purwokerto, mereka memilih Banyumas sebagai medan misi mereka. Tidak lama setelah kedatangan para Oblat itu, tepatnya pada tanggal 3 Mei 1992, Banyumas, yang sebelumnya merupakan sebuah stasi dinyatakan sebagai sebuah paroki baru, meski umatnya hanya sekitar 480 orang atau 175 KK. Wilayah Paroki ini meliputi kecamatan: Banyumas, Kalibagor, Somagede, dan Kemranjen. Pastor Yohanes Kevin Casey OMI menjadi gembala paroki Banyumas yang pertama.
Gedung gereja permanen yang sampai sekarang digunakan untuk perayaan sakramen/sakramentali telah ada sejak tahun 1981, meski baru diberkati oleh Bapak Uskup Purwokerto Mgr P.S. Hardjosoemarto MSC (Alm.) pada 2 Maret 1984. Sebagian umat Paroki Banyumas berlatar belakang pekerjaan sebagai pedagang. Kehidupan sehari-hari paroki lebih diwarnai orang-orang tua dan anak-anak. Kaum remaja dan mudanya kelihatan lebih banyak di saat liburan sekolah atau semesteran. Sejak beberapa tahun terakhir Paroki Banyumas memiliki tiga lingkungan yaitu, Imakulata, St. Albertus dan St. Yosep serta sebuah stasi, St Mateus Karangrau. Terdapat beberapa kelompok kategorial dalam paroki ini, misalnya OMK, Legio Mariae dan kelompok Meditasi.
Pada Januari 2011, di paviliun samping aula Wisma Serayu dibuka sebuah Panti Asuhan yang diberi nama “Bunda Serayu”. Pengelolaan Panti Asuhan ini oleh Bapak Uskup Purwokerto dipercayakan kepada para suster dari tarekat JMJ (Jesus Maria Josep). Panti Asuhan ini menerima anak-anak yatim/piatu yang berasal dari berbagai kota, termasuk dari luar Pulau Jawa.
 |
Tahun 1972 berkarya di Banyumas |
Pada tahun 2012, pastor FX. Sudiman OMI membuat sejumlah perubahan (renovasi) pada bangunan rumah pastoran dan kantor paroki, termasuk menambahkan di samping luar gereja sebuah ruang doa devosi dan meditasi yang diberi nama panti semedi “Ndherek Dewi Maria”.
Para Pastor OMI yang pernah berkarya di Paroki ini sejak 1992-sekarang :Yohanes Kevin Casey OMI (1992-1998), Dominikus Pareta OMI (1998-2005) , Ig. Yulianto OMI (2005-2008) Tarcisius Riswanta OMI (2008-2012) , FX. Sudirman OMI (2012 – skrg) , Gua Maria Kaliori, Banyumas
Setelah meninggalkan Paroki St. Yosep, Purwokerto Timur, OMI pindah ke paroki Banyumas. Selama beberapa waktu Oblat yang berkarya di paroki tersebut bertempat tinggal di Wisma OMI di Kaliori. Wisma OMI di Kaliori diresmikan pada tanggal 15 Mei 1993 oleh Bupati Banyumas, Bpk. Djoko Sudantoko dan diberkati oleh Superior Jendral OMI Pastor Marcello Zago, OMI pada tanggal 16 Mei 1993. Dari Kaliori (sambil menunggu tersedianya rumah pastoran), pastor OMI menggembalakan Paroki Banyumas sekaligus juga melayani kebutuhan para peziarah di Gua Maria Kaliori.
 |
Gua Maria Kaliori Banyumas |
Gua Maria Kaliori diberkati oleh Mgr.Paskalis Hardjosoemarto MSC pada tanggal 8 Desember 1989. Ide adanya sebuah tempat ziarah Gua Maria di wilayah keuskupan Purwokerto ini berasal dari sejumlah umat yang baru saja pulang dari mengikuti retret Pembaharuan Karismatik Katolik (PKK) yang diselenggarakan di Ngadireso, Tumpang, Malang maupun di Wisma Serayu, Banyumas antara tahun 1985-1986. Ide untuk memiliki Gua Maria di wilayah keuskupan ini makin kuat karena mereka melihat bahwa ada banyak umat Katolik yang kesulitan pergi ziarah ke Gua Maria di Sendangsono atau di Kerep, Ambarawa karena alasan jarak yang lumayan jauh dari tempat asal mereka. Setelah serangkaian pertemuan pada tahun 1986 -1988 untuk menggodok ide tersebut dengan berbagai pihak, antara lain dengan Paroki St.Yosep, Purwokerto Timur yang saat itu digembalakan oleh Pastor Patrick Mc Anally, OMI dan dengan pihak Keuskupan, akhirnya ide itu siap diwujudkan.
Peletakan batu pertama pada tanggal 15 Agustus 1988 bertepatan dengan penutupan Tahun Maria. Patung Maria yang berdiri di dalam gua tersebut diberkati oleh Sri Paus Yohanes Paulus II saat beliau berkunjung ke Indonesia, tepatnya saat beliau memimpin perayaan ekaristi akbar bersama segenap umat di Keuskupan Semarang dan sekitarnya pada tanggal 10 Oktober 1989 di lapangan Adi Sucipto, Maguwo, Yogyakarta.
Komplek Gua Maria Kaliori merupakan sebuah areal yang luasnya sekitar 15 Ha. Di dalam komplek tersebut, selain terdapat Gua Maria berikut halamannya yang luas, yang bisa menampung sampai 1.000 orang peziarah, juga terdapat semacam hutan buatan yang ditumbuhi aneka pohon, seperti mahoni, akasia, dan serta kebun pohon jati. Selain itu juga terdapat sebuah kapel dan komplek pemakaman Katolik.
Ada banyak tokoh awam yang bekerja keras sehingga di desa Kaliori ini terdapat sebuah tempat ziarah yang cukup luas dan memiliki fasilitas yang lumayan lengkap. Beberapa nama bisa disebut disini, misalnya Bapak Karso Suryosupono, Eddy Setio dan Wawan Darmawan, dll.
Komplek yang luas menuntut pemeliharaan dan perawatan yang melibatkan cukup banyak pegawai dan biaya yang tidak kecil setiap bulannya. Maka sudah sejak tahun-tahun pertama keberadaan Gua Maria ini, para pengurus Gua Maria Kaliori menyelenggarakan kegiatan arisan yang para pesertanya mencapai ratusan orang bahkan lebih dari seribu orang agar bisa menghasilkan sejumlah dana untuk mendukung biaya rutin dan pengembangan di tempat ziarah ini.
 |
ME pasutri katolik |
Sejak berdirinya hingga sekarang, setiap tahun selama sembilan bulan, setiap minggu ketiga di halaman Gua Maria Kaliori diselenggarakan Misa dan Novena Bunda Maria. Bukan hanya Bapa Uskup dan para imam dalam Keuskupan Purwokerto, tetapi juga imam dari berbagai kota/kongregasi diundang untuk memimpin novena ini. Banyak umat menghadiri misa dan novena ini. Rata-rata jumlah umat yang hadir bisa mencapai sekitar 750 orang. Jumlah yang hadir biasanya lebih banyak lagi pada saat pembukaan atau penutupan novena. Selain itu, pada bulan Mei dan Oktober juga banyak rombongan peziarah dari berbagai paroki atau kota berkunjung ke Gua Maria Kaliori ini. Sejarah berdirinya Paroki St. Maria Imakulata, Banyumas menjadi bagian hidup ibu Yus sebagai misionaris awam untuk mengabarkan kabar kesukaan di daerah Banyumas . Banyak hal sudah dilakukan oleh Ibu Yus menjadi anggota Dewan Paroki , ME (Marriage Encounter), Choice, Antiokhia, Wanita Katolik, Karismatik, dll. Tahun 1984 saat itu ibu Yus mengajak bapak dan ibu serta bu lik saya mengikuti ME . Marriage Encounter adalah suatu kegiatan positif dan pengalaman pribadi pasutri yang mempelajari: Teknik berkomunikasi atas dasar cinta kasih. Cara untuk melihat lebih dalam pribadi pasangannya terhadap dirinya sendiri, orang lain dan Tuhan.
 |
Choice tempat pembentukan karakter |
Kemudian tahun 1985 saya mengikuti Choice selama tiga hari di Wisma Serayu Banyumas . CHOICE adalah gerakan Katolik yang didedikasikan untuk melayani muda mudi dewasa yang mendambakan kebangkitan rohani kristiani ; untuk mencintai umat manusia seperti halnya Yesus mencintai kita, tanpa syarat. Saat itu Pasutri Karso - Yustina menjadi mentor saya selama tiga hari . Secara pribadi saya mendapatkan pembelajaran yang luar biasa . Saya yang dulunya pemalu , pendiam dan rendah diri . Setelah mengikuti choice telah merubah karakter saya . Saat itu saya ditanya oleh Ibu Yus setelah lulus SMA mau ke mana ? Saya memang baru lulus SMA dan dengan percaya diri , saya menjawab ingin menjadi guru . Lima tahun kemudian , setelah saya lulus menjadi guru sampai dengan pensiun . Semua itu doa dari Pak Karso dan Bu Yus , doa orang benar besar kuasanya .
 |
Doa Rosario selalu didoakan |
Di Akhir perjalanan hidup , Ibu Yus masih aktif menggereja di Paroki St. Maria Imakulata, Banyumas. Satu tahun sebelum penyakit menyerang Ibu Yus masih ikut misa harian jam 06.00 pagi . Setiap hari jam 05.00 pagi dengan mengendarai sepeda pergi ke gereja yang berjarak 2 km dari rumah . Setengah jam perjalanan dilalui , sampai di gereja jam 05.30 dan menunggu setengah jam di gereja . Setiap pagi dilakukan selama bertahun-tahun . Disiplin telah menjadi karakter ibu Yus , hal ini terlihat sampai akhir hayatnya ibu Yus dipercaya menjadi seksi liturgi di gereja. Liturgi adalah jantung dari ibadah gereja . Persiapan selalu dilakukan dengan cermat mulai dari misa , doa , devosi dan perayaan liturgi lainnya . Saat sedang sakit pun selalu komunikasi dengan anggota seksi lainnya . Sedikit bicara tetapi banyak kerja itu yang dilakukan oleh di ibu Yus , semua kegiatan liturgi gereja selalu dikerjakan dengan baik. Dalam kondisi sakit ibu Yus beribadah melalui live streaming di hp , kadang kala tiga sampai empat kali mengikuti misa live streaming . Kerinduan dan ingin dekat dengan Tuhan menjadi bagian iman ibu Yus .
" Saya sudah siap dan pasrah , kapanpun dipanggil Tuhan , Romo " kata - kata terakhir ibu Yus ketika Romo Niko mengunjungi pagi hari di rumah untuk mendoakan kesehatan ibu Yus . Setiap hari Romo Niko pastor gereja Paroki St. Maria Imakulata datang ke rumah umat untuk mengunjungi dan mendoakan umat . Dengan berjalan kaki sambil olah raga pagi , dengan wajah ceria menyapa dan bergaul dengan umat . Doa menjadi nafas hidup ibu Yus , dalam sehari saya melihat ibu Yus selalu membawa doa rosario . Pagi , siang , sore dan malam hari selalu mendaraskan doa Rosario . Devosi terhadap Bunda Maria menjadi kekuatan iman dalam kehidupan rohani ibu Yus .
 |
Tuhan memanggil dengan kedamaian |
Hari Rabu tanggal 1 Februari 2023 jam 21.00 wib , saya dan istri sampai di rumah almarhum ibu Yus . Keadaan rumah cukup ramai , saudara dan tetangga sekitarnya berkumpul untuk mengucapkan duka cita . Di luar rumah berbagai karangan bunga dari berbagai pihak berjajar memenuhi halaman rumah , menandakan ibu Yus menjadi bagian kehidupan banyak orang . Setelah bersalaman , saya dan istri berdoa di depan peti mati dihiasi berbagai bunga dan karangan bunga sebagai tanda duka cita . Wajahnya tenang dengan bibir tersenyum menandakan ibu Yus pergi ke rumah Bapa dengan damai .
Pagi hari , Kamis tanggal 2 Februari 2023 diadakan misa Requiem di gereja jam 10.00 . Sebelum keberangkatan ke gereja diadakan adat Jawa dengan berjalan keliling di bawa peti oleh keluarga .
 |
Mengantar ke tempat peristirahatan |
Setelah itu berangkat ke gereja St.Maria Imakulata Karang Sawah Banyumas . Misa Requiem dibawakan oleh lima pastor Kongregasi OMI berbagai paroki di keuskupan Purwokerto . Hal ini sebagai penghargaan dan penghormatan terhadap ibu Yus karena telah berperan aktif dan berjasa dalam perkembangan gereja di paroki Banyumas . Misa dihadiri oleh umat hampir penuh gereja untuk mengantarkan kepergian ibu Yus .
Kemudian jenazah diantar ke pemakaman gua Maria Kaliori Banyumas . Dari debu kembali menjadi debu tetapi roh kembali kepada Allah . Sebidang tanah sudah disiapkan , berdampingan dengan suami pak Karso di sebelahnya . Lokasi pemakaman khusus untuk para pendiri dan perintis gua Maria Kaliori , Pak Karso dan Ibu Yus termasuk di dalamnya . Bahkan pak Karso terlibat awal pembangunan gua Maria .
 |
Selamat jalan ibu Yus.... |
Waktu Tuhan adalah waktu yang terbaik , tugas sudah selesai di dunia , waktu Tuhan memanggil hambaNya menuju rumah Bapa di surga . Sakit penyakit , kecelakaan dan usia tua adalah cara Tuhan untuk memanggil manusia menuju kehidupan kekal . Kematian bukan akhir segalanya tetapi awal kehidupan baru . Sebagai manusia kita tinggal menunggu , kapan kita dipanggil ? Doa,nyanyian dan semerbak bunga melati mengantar penguburan ibu Yus ke liang lahat . Selamat jalan ibu Yus , doa kami menyertai…..(abc)