Cari Blog Ini

Minggu, 03 Mei 2020

Kehidupan di Jakarta

Setelah lulus kuliah , saya mulai cari kerja .Ternyata mencari pekerjaan sulit , apalagi saya lulusan FKIP dan kembali ke daerah.Menjadi guru di daerah sama sulitnya dengan pekerjaan lain , hal itu yang saya rasakan.Akhirnya ada lowongan pegawai negeri untuk menjadi guru.Tetapi jaman Orde Baru semua memakai uang pelicin jutaan rupiah untuk menjadi pegawai negeri.Saya uang sepeserpun tidak punya akhirnya hanya ngumpulin berkas saja ke panitia.Paling gampang akhirnya saya melamar jadi sales , tiga bulan saya jadi sales barang-barang elektronik .Dari pagi sampai malam saya jadi sales tetapi barang hanya satu - dua terjual dengan kridit.
Setelah adik saya lulus dari kuliah , Oom saya yang ada di Jakarta menawarkan adik saya dan saya untuk bekerja di Jakarta.Adik saya diterima di perusahaan Bayer dimana Oom saya menjadi direktur pemasaran sedangkan saya sendiri cari pekerjaan sendiri. Adik saya diterima dan ditempatkan di Surabaya .Saya akhirnya sendirian di Jakarta menempati tempat kost di daerah Cempaka Putih Jakarta Pusat .Saya satu kost dengan saudara Oom yang namanya Nurhadi bekerja di perusahaan Oom yaitu di Astra. Saya yang jebolan Pendidikan tidak mungkin bekerja di perusahaan sehingga saya cari pekerjaan sendiri. Puluhan surat lamaran saya kirim , hampir tiap hari saya cari lowongan di surat kabar .Untungnya Oom saya baik hati mau membiayai saya selama di Jakarta.Hampir satu bulan saya cari pekerjaan belum dapat juga tetapi akhirnya saya dapat juga di Untag untuk menjadi guru bimbingan belajar .Hanya tiga bulan saya mengajar dan akhirnya saya menganggur lagi .Selama menggangur saya sering jalan-jalan ke Atrium , ke Blok M atau bengong di Pasar Senen.Ternyata setelah di Blok M Plaza saya bertemu dengan teman lama saya kuliah yaitu Bunthomi , saya di suruh mampir dan diberi kartu nama.Pertemuan singkat menjadi pertemuan selanjutnya, Saya menjumpai Bunthomi bahkan disuruh menginap di rumah kost di Palmerah Jakarta Selatan kemudian ke Cawang .Saya akhirnya menginap di rumah kost Bunthomi .Sekarang Bunthomi bekerja di BCA Pusat di jalan Thamrin menjadi staf HRD bagian media BCA Pusat sehingga Bunthomi sering ke luar kota untuk mengunjungi atau wawancara .Tetapi beberapa bulan kemudian Buntomi menyuruh saya pulang dan saya disuruh menunggu kalau ada telpon dari saya .Satu Minggu kemudian saya mendapat telpon dari Stanley yang waktu itu menjadi wartawan Majalah Jakarta-Jakarta teman Bunthomi bahwa nanti kalau ada yang datang polisi dari Salatiga yang mencari Bunthomi ngomong saja kalau Bunthomi sudah di Jerman.Benar beberapa hari kemudian datang polisi mencari Bunthomi , saya kaget karena polisi begitu cepat tahu alamat Bunthomi termasuk saya .Polisi itu datang sambil membawa foto Bunthomi dan saya disuruh menyebutkan alamatnya sayapun menjawab seperti disuruh oleh Stanley .Sayapun menelpon Stanley kalau saya sudah melakukan seperti yang dikatakannya.Sayapun bertanya kepada Stanley ada apa sebenarnya dengan Bunthomi , lalu dia cerita bahwa Bunthomi pernah terlibat menjual kalender tanah untuk rakyat yang berisi kritik terhadap Orde Baru dan dibuka kasus itu sehingga dia dicari oleh Intel Polisi Salatiga.Setelah Reformasi saya baru tahu kalau Bunthomi tidak di bawa ke Jerman tetapi ke Medan dan sekarang menjadi direktur KIPPAS Medan dan menjadi redaktur koran Analisa Medan .Setelah berpisah dengan Bunthomi saya kembali ke kost lama.Tetapi hidup dengan Bunthomi saya belajar menulis lagi sampai akhirnya beberapa tulisan dimuat di Koran Republika dan Warta Kota.Dari tulisan itu lumayan untuk makan .Kemudian saya diterima di sekolah swasta di pinggiran Jakarta Utara tepatnya di Jalan Teluk Gong .Saya mengajar dari pagi hingga petang . Pagi hari saya mengajar di SMP dan SMA dan siang sampai petang saya mengajar di SD .Sekolah itu berseberangan dengan Diskotik dan melewati lokalisasi Kalijodoh.Kalau petang hari musik diskotik sudah mulai terdengar dan lampu malam mulai nyala . Demikian juga dengan Kalijodoh , mulai banyak wanita keluar menawarkan kemolekan tubuhnya.Metro mini arah Grogol - Teluk gong terkenal copet dan penodongan di tengah jalan.Sopir sudah kerjasama dengan pencopet , biasanya kalau seperti ini uang sudah saya simpan di kaos kaki di bawah sepatu.Di dompet tinggal ktp saja . Hampir tiap hari ada penodongan , dengan pisau belati mereka mengancam dan mengambil kalung , uang di dompet dan semua barang tetapi karena saya sudah paham dengan kondisi tersebut maka uang saya simpan di kaos kaki di bawah sepatu.Hampir 90 % siswa yang sekolah di tempat saya mengajar merupakan keturunan TiongHoa kelas menengah ke bawah .Sebagian besar orang tuanya nelayan dan pedagang di pasar .Saya sebagai guru waktu itu takut-takut juga karena sebagian besar siswa susah diatur .Anaknya bandel dan punya aturan sendiri bahkan kelakuaannya mendekati kriminal. Bolos , tidak pernah mandi kalau ke sekolah atau bawa senjata itu contoh perbuatan yang  setiap hari dilakukan . Sering terjadi tawuran antar sekolah dan ini yang membuat guru seperti saptam.Walaupun demikian kami sebagai guru fun-fun saja.Karena Yayasan dipegang individu yaitu Kepala Sekolah merangkap ketua yayasan , jadi secara organisatoris sebenarnya tidak sah sebagai sebuah sekolah .Hal ini yang berdampak terhadap keuangan yayasan , seringkali gaji terlambat dan ketika tanggal gajian sering kepala sekolah tidak ada di tempat.Tetapi saya yang masih bujangan biasanya saya castbon dulu ke TU , nanti dipotong akhir bulan pas gajian .Maka tidak heran kalau uang saya tinggal separoh waktu gajian.Memang kalau bujangan gaji cepat habis buat nonton , beli baju ,sepatu dan tetek bengek lainnya.Tiga tahun saya mengajar di sekolah itu karena siswa mulai sedikit akhirnya guru-guru mulai meninggalkan sekolah itu .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Organisasi Bayangan versi Nadiem

                   Nadiem dengan belajar merdeka "Pendikan adalah paspor untuk masa depan karena hari esok adalah milik mereka yang mem...