Setelah pak Presno meninggalkan sekolah kami, tahun pelajaran baru diganti oleh pak Gatot , sosok pak Gatot belum siap menjadi kepala sekolah .Hal ini terlihat sikap sebagai pemimpin belum nampak tetapi bagi saya tidak masalah karena pak Gatot orang baru sehingga adaptasi terhadap lingkungan membutuhkan waktu. Namun setelah beberapa lama pak Gatot sebagai kepala sekolah terlihat kepemimpinannya lemah. Hal ini terlihat tidak adanya ketegasan dari pak Gatot terhadap pengambilan keputusan , justru pak Pras sebagai asisten kepala sekolah yang sering mengambil alih terhadap kepemimpinan pak Gatot. Dua kepemimpinan ini yang menyebabkan terjadi kesalahpahaman terhadap berlangsungnya kepemimpinan di sekolah.Akhirnya pak Pras setahun kemudian menjadi kepala sekolah.Selama pak Pras menjadi kepala sekolah ,guru-guru menerima setengah hati apalagi pak Pras menjadi kubu yang tidak sepaham dengan kami pada saat perjuangan .Namun kami tetap menghargai kepemimpinan pak Pras dan satu tahun kemudian pergantian kepala sekolah diganti dengan hadirnya pak Aang.
Awal tahun pelajaran baru dimulai dan pak Aang membawa konsep School of Future Leader bagi sekolah kami. Mempersiapkan pemimpin masa depan menjadi program yang menjanjikan ada perubahan di sekolah kami.Perubahan itupun di jalankan pada masa kepemimpinan pak Aang .Mulai dari program Future Leader Live - In, Future Leader Observation dan lain sebagainya yang semua berjargon Future Leader.Meningkatkan mutu akademik menjadi cita-cita pak Aang saat itu,mungkin karena latar belakang pak Aang menjadi kepala sekolah dengan prestasi menjadi sekolah unggulan sehingga ada obsesi untuk menjadi sekolah kami unggul dalam bidang akademik. Tentu pemikiran ini sah-sah saja dan ini menjadi investasi terhadap kelangsungan sekolah tersebut.Kita bisa melihat bagaimana sekolah unggulan begitu diminati oleh banyak siswa. Dan ini menjadi strategi bagi pak Aang untuk promosi terhadap sekolahnya.Tetapi saya sebagai guru selalu mengingatkan kepada pak Aang bahwa kita harus melihat realitas di lapangan .Kita melihat bahwa anak-anak yang masuk ke sekolah kami adalah siswa-siswa dengan kecerdasan di bawah rata-rata .Paling tidak hanya sekitar 20 sampai dengan 30 % yang benar-benar diatas rata-rata dan ini bisa kita bina dalam bidang akademik .Tetapi siswa yang hampir 80-70 % kecerdasan di bawah rata-rata mau dimanakan anak-anak ini .Ini menjadi pertanyaan bagi guru-guru karena gurulah garba yang paling depan untuk menghadapi pergumulan ini .Bagi anak -anak dengan kecerdasan diatas rata-rata tentu sangat mudah karena mereka ada minat dan kemampuan sehingga guru bisa dengan segala macam metode dan media pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan mereka.Tetapi bagi siswa di bawah rata-rata tentu membutuhkan perjuangan yang tidak mudah .Kemampuan , minat dan bakat menjadi taruhan bagi guru-guru untuk membina.Kadang kala ada anak yang tidak suka matematika dipaksakan untuk suka , padahal dia lebjh suka menggambar atau main musik .Kalau hal ini terjadi maka kita sebagai guru sering menghakimi anak malas , tidak disiplin dan tidak tahu aturan , karena anak tiduran karena memang dirinya tidak suka matematika.Kasus-kasus seperti ini sering terjadi dan sekolah seharusnya memberikan fasilitas bukannya menyalahkan murid tanpa memberikan solusi bagaimana menanganinya? Untuk itu sekolah perlu berbenah diri menangani siswa-siswa seperti ini yaitu dengan kegiatan-kegiatan yang bisa menyalurkan bakat dan minat siswa sehingga minat dan bakat yang terpendam bisa berkembang dan membuahkan hasil.
Awal tahun pelajaran baru dimulai dan pak Aang membawa konsep School of Future Leader bagi sekolah kami. Mempersiapkan pemimpin masa depan menjadi program yang menjanjikan ada perubahan di sekolah kami.Perubahan itupun di jalankan pada masa kepemimpinan pak Aang .Mulai dari program Future Leader Live - In, Future Leader Observation dan lain sebagainya yang semua berjargon Future Leader.Meningkatkan mutu akademik menjadi cita-cita pak Aang saat itu,mungkin karena latar belakang pak Aang menjadi kepala sekolah dengan prestasi menjadi sekolah unggulan sehingga ada obsesi untuk menjadi sekolah kami unggul dalam bidang akademik. Tentu pemikiran ini sah-sah saja dan ini menjadi investasi terhadap kelangsungan sekolah tersebut.Kita bisa melihat bagaimana sekolah unggulan begitu diminati oleh banyak siswa. Dan ini menjadi strategi bagi pak Aang untuk promosi terhadap sekolahnya.Tetapi saya sebagai guru selalu mengingatkan kepada pak Aang bahwa kita harus melihat realitas di lapangan .Kita melihat bahwa anak-anak yang masuk ke sekolah kami adalah siswa-siswa dengan kecerdasan di bawah rata-rata .Paling tidak hanya sekitar 20 sampai dengan 30 % yang benar-benar diatas rata-rata dan ini bisa kita bina dalam bidang akademik .Tetapi siswa yang hampir 80-70 % kecerdasan di bawah rata-rata mau dimanakan anak-anak ini .Ini menjadi pertanyaan bagi guru-guru karena gurulah garba yang paling depan untuk menghadapi pergumulan ini .Bagi anak -anak dengan kecerdasan diatas rata-rata tentu sangat mudah karena mereka ada minat dan kemampuan sehingga guru bisa dengan segala macam metode dan media pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan mereka.Tetapi bagi siswa di bawah rata-rata tentu membutuhkan perjuangan yang tidak mudah .Kemampuan , minat dan bakat menjadi taruhan bagi guru-guru untuk membina.Kadang kala ada anak yang tidak suka matematika dipaksakan untuk suka , padahal dia lebjh suka menggambar atau main musik .Kalau hal ini terjadi maka kita sebagai guru sering menghakimi anak malas , tidak disiplin dan tidak tahu aturan , karena anak tiduran karena memang dirinya tidak suka matematika.Kasus-kasus seperti ini sering terjadi dan sekolah seharusnya memberikan fasilitas bukannya menyalahkan murid tanpa memberikan solusi bagaimana menanganinya? Untuk itu sekolah perlu berbenah diri menangani siswa-siswa seperti ini yaitu dengan kegiatan-kegiatan yang bisa menyalurkan bakat dan minat siswa sehingga minat dan bakat yang terpendam bisa berkembang dan membuahkan hasil.
Sekolah seharusnya membuat siswa senang dan bahagia bukan justru membuat siswa merasa ketakutan dan tidak betah untuk segera ingin pulang.Kondisi seperti ini yang terjadi di sekolah kami.Tetapi pak Aang tetap mempunyai pendirian untuk meningkatkan dalam bidang akademik.Perbedaan pendapat tentu bukan suatu aib tetapi memperkaya pemikiran untuk suatu perubahan.Selama tiga tahun pak Aang menjadi kepala sekolah tetapi prestasi nilai keunggulan belum muncul juga.
Kemudian Pak Aang diganti oleh Bu Juni yang saat itu menjadi asisten kepala sekolah. Kepemimpinan Bu Juni sebagai kepala sekolah yang baru tentu mempunyai tantangan tersendiri. Selama sekolah kami didirikan baru kali ini dipimpin oleh seorang wanita.Tentu ada perbedaan ketika dipimpin oleh seorang wanita dengan seorang laki-laki.Wanita menggunakan perasaan ketika memimpin ,sehingga sering kali ketika diskusi dengan saya air mata seorang wanita tertumpah .Kalau sudah seperti ini , maka saya hanya memberi kekuatan untuk berjuang lebih keras terhadap kepemimpinan sekolah.
Saya sering mengatakan bahwa kepala sekolah adalah seorang pemimpin . Seorang pemimpin beda dengan seorang manajer . Seorang manajer fokus kepada sistem dan struktur sedangkan seorang pemimpin fokus kepada manusia .Relasi kita sebagai manusia dikalahkan dengan sistem standarisasi yang berfokus kepada peniliaan. Seorang manajer menjalankan status quo sedangkan seorang pemimpin menantang status quo.Kebijakan pusat sering tidak relevan dengan situasi dan kondisi lokasi .Hal ini sering dikorbankan demi menjalankan status quo ,seorang pemimpin seharusnya berani menyatakan kebenaran yang terjadi di lokasi dengan cara menantang status quo tetapi pada kenyataannya tidak ada keberanian sehingga pendapat guru-guru di lokasi dikorbankan , komunikasi dua arah terputus. Kondisi seperti ini mengakibatkan hubungan guru dengan kepala sekolah seperti hubungan kerja antara buruh dengan majikan . Sekolah bukan industri , sekolah adalah institusi pendidian . Tempat untuk memanusiakan manusia itu kata Romo Mangunwijaya . Tempat untuk membangun peradaban manusia itu pendapat Ki Hajar Dewantara bapak pendidikan kita. Sekolah menjadi tempat keramat bagi pendidikan sehingga peran guru menjadi penting,bukan sekedar karyawan atau buruh .
Kemudian Pak Aang diganti oleh Bu Juni yang saat itu menjadi asisten kepala sekolah. Kepemimpinan Bu Juni sebagai kepala sekolah yang baru tentu mempunyai tantangan tersendiri. Selama sekolah kami didirikan baru kali ini dipimpin oleh seorang wanita.Tentu ada perbedaan ketika dipimpin oleh seorang wanita dengan seorang laki-laki.Wanita menggunakan perasaan ketika memimpin ,sehingga sering kali ketika diskusi dengan saya air mata seorang wanita tertumpah .Kalau sudah seperti ini , maka saya hanya memberi kekuatan untuk berjuang lebih keras terhadap kepemimpinan sekolah.
Saya sering mengatakan bahwa kepala sekolah adalah seorang pemimpin . Seorang pemimpin beda dengan seorang manajer . Seorang manajer fokus kepada sistem dan struktur sedangkan seorang pemimpin fokus kepada manusia .Relasi kita sebagai manusia dikalahkan dengan sistem standarisasi yang berfokus kepada peniliaan. Seorang manajer menjalankan status quo sedangkan seorang pemimpin menantang status quo.Kebijakan pusat sering tidak relevan dengan situasi dan kondisi lokasi .Hal ini sering dikorbankan demi menjalankan status quo ,seorang pemimpin seharusnya berani menyatakan kebenaran yang terjadi di lokasi dengan cara menantang status quo tetapi pada kenyataannya tidak ada keberanian sehingga pendapat guru-guru di lokasi dikorbankan , komunikasi dua arah terputus. Kondisi seperti ini mengakibatkan hubungan guru dengan kepala sekolah seperti hubungan kerja antara buruh dengan majikan . Sekolah bukan industri , sekolah adalah institusi pendidian . Tempat untuk memanusiakan manusia itu kata Romo Mangunwijaya . Tempat untuk membangun peradaban manusia itu pendapat Ki Hajar Dewantara bapak pendidikan kita. Sekolah menjadi tempat keramat bagi pendidikan sehingga peran guru menjadi penting,bukan sekedar karyawan atau buruh .
Dalam UU NOMOR 14 TAHUN 2005 tentang Guru dan Dosen disebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama
mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih,
menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan
anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar,
dan pendidikan menengah. Jelas bahwa guru mendidik manusia untuk mencapai kedewasaan baik secara jasmani maupun rohani.Guru mempersiapkan generasi untuk melanjutkan kelangsungan hidup sebuah bangsa .Pater Drost seorang tokoh pendidik Indonesia pernah mengkritik tentang sekolah dijadikan tempat bisnis , menurut beliau sekolah bukan sebuah perusahaan yang mencari keuntungan semata-mata sehingga semua sistem manajerial perusahaan diterapkan dalam sekolah . Perusahaan menghasilkan sebuah produk bagi para konsumen sehingga target penjualan menjadi prioritas untuk mencari keuntungan. sebesar-besarnya . Produk sekolah adalah manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab ( UU N0.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 ). Dengan demikian perlu adanya standarisasi yang berbeda antara guru dengan tenaga profesional lainnya . Para pengambil kebijakan di tingkat Pusat atau Yayasan perlu mempelajari tentang UU Guru dan Dosen sehingga tidak ada kekeliruan dalam pengambilan kebijakan . Alkitabpun mengingatkan tentang posisi guru " Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru ; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat ( Yakobus 3 : 1 ).Menjadi guru mempunyai tanggungjawab yang berat kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat . Modal guru adalah lidah dengan perkataan dan ucapan . Ucapan bisa menjadi berkat dan kutuk bagi murid kita .Menjadi berkat apabila perkataan kita memberi motivasi , penghiburan dan kekuatan bagi murid kita . Menjadi kutuk apabila ucapan kita cercaan , hinaan dan amarah sehingga luka batin ada dalam diri murid kita .Dengan lidah kita memuji Tuhan , Bapa kita ; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah .Dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk . Hal ini saudara-saudaraku tidak boleh demikian terjadi ( Yakobus 3:9-10 ).( TAMAT )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar