Mengenang ibu….
“ Saya
tidak bisa melihat kamu diwisuda….”
Jam
menunujukkan pukul 04.00 dini hari , saya dibangunkan karena ada tamu yang
mencari saya . Saya kaget , ternyata Gito teman saya yang datang
dari kampung , dia mengabarkan saya untuk segera pulang karena ibu sakit
. Lalu saya pamitan dengan ibu kost . Dalam perjalanan naik bis saya cerita
tentang ibu saya . Terakhir saya bertemu dengan ibu ketika ada perkawinan anak
bu Lik . Perkawinannya berlangsung meriah tetapi saya lihat wajah ibu banyak
diam dan hanya sedikit berkata-kata . Tidak seperti biasanya ibu selalu ceria ,
sering ngobrol atau cerita hal yang lain . Saat itu saya membawa tustel
pinjaman teman saya untuk mendokumentasi perkawinan tetapi aneh foto tentang ibu saya tidak
tercetak di film. Tiba-tiba tustel saya mati tidak bisa digunakan . Itu mungkin
tanda-tanda Ibu sedang sakit . Perjalanan ke kampung saya lima jam dan jam
10.00 sudah sampai di kota saya . Gito
teman saya menuntun saya ketika saya turun dari bis dan mengatakan bahwa
ibu saya sudah dipanggil Tuhan . Tubuh saya lemas tak bertenaga , untung ada
orang-orang yang menolong saya untuk memegang bahu dan tangan saya . Jalan
menuju rumah sudah penuh dengan orang-orang yang ingin menyampaikan duka . Bendera kuning di pojok jalan menuju rumah
tertampang untuk memperlihatkan ada kabar kedukaan . Saya menangis meraung
dengan kerasnya karena kepergian ibu . Wajah ibu terlihat tenang dengan senyum
dibibir memperlihatkan telah siap untuk dipanggil Tuhan . Indah pada
waktuNya , Tuhan mempunyai waktu untuk
memanggil anakNya . Tidak terasa saya dimasukkan ke kamar bersama-sama dengan
adik-adik saya yang ternyata seperti saya menangis semuanya . Jam dua siang Ibu
saya dimakamkan , saya terharu melihat banyak orang untuk mengantar ibu saya
menuju ke pemakaman . Hampir satu kilo orang yang mengantar ibu saya ke
peristirahatan yang terakhir . Ibu saya bukan artis atau celebritis , bukan
juga tokoh penting tetapi banyak orang yang kehilangan ibu saya . Di kota kecil
memang ibu saya adalah guru TK , ibu saya ketua IGTK (Ikatan Guru Taman
Kanak-Kanak ) cabang kota kecamatan , selalu berhubungan dengan pak Camat atau
pejabat lainnya . Itu yang mungkin membuat orang menjadi kenal dengan ibu saya
. Paling tidak banyak orang tua yang menyekolahkan anaknya ke sekolah ibu saya
sehingga banyak juga orang yang kenal dengan ibu saya . Seperti saat itu banyak
anak-anak yang menangis mengantar gurunya yang telah mengajar dan mendidik
dengan kasihnya .
Sakit diabetes telah mengantar ibu
menuju kematiannya . Hampir sepuluh tahun ibu menderita diabetes . Penyakit
keturunan dari kakeknya menimpa tubuh ibu . Setiap bulan pergi ke rumah
sakit Karyadi Semarang untuk mengambil
obat insulin dan mengecek gula darahnya . Tahun 80 - an memang masih sulit
untuk mencari obat insuliin sehingga harus pergi ke rumah sakit propinsi . Dulu
tubuh ibu yang gemuk sekarang merosot kurus , diet hanya makan kentang selalu
dilakukan .Di saat seperti itulah tubuh yang rapuh ingin istirahat , di malam
hari ibu saya tertidur tetapi ketika mendengar lagu Issabela yang dinyanyikan
Amy Search di acara Aneka Ria Safari ,
dia terbangun untuk menonton TV . Di kursi dia menyanyaikan lagu Issabela larut
dalam buaian nyanyian . Setelah itu Ibu ingin istirahat di kamar , tubuhnya
dingin dengan bercucuran keringat membuat ayah dan adik saya kebingungan . Lalu
adik saya disuruh datang ke Bu Yus tetangga seorang perawat rumah sakit .
Kemudian ayah mengendarai sepeda menuju rumah dokter . Namun usaha manusia
tidak ada artinya ketika ajal dijemput ,
Ibu dipanggil Tuhan dengan tenang . Tidak ada pesan apapun hanya senyum
menghias diwajahnya untuk mengakhiri kehidupannya . Umur Ibu baru 45 tahun
ketika dipanggil Tuhan , masih muda umurnya tetapi maut tidak pernah diduga ,
itu semua takdir Tuhan yang menentukan. Ayah saya hanya bisa menunduk berdoa
melihat jasad istrinya , dengan bercucuran keringat karena bersepeda tangannya
mengusap di wajah ibu . “ Selamat jalan bu , tugas ibu sudah selesai di
dunia…”kata-kata akhir dari ayah ketika malam semakin larut dalam keheningan. .
Saya
jadi teringat ketika pertemuan terakhir di perkawinan anak bu Lik dengan ibu
saya .” Saya tidak bisa melihat kamu
diwisuda…” kata ibu saya terakhir
terdengar . Saya tidak tahu apa maksud perkataan itu tetapi satu minggu
kemudian Ibu dipanggil Tuhan . Apa ini sebuah firasat ketika seseorang akan
meninggalkan orang yang dikasihnya ? Saat itu saya hanya berfikir itu hanya
gurauan saja . Hubungan saya dengan ibu sangat dekat , karena saya anak pertama
sehungga keinginan saya selalu dituruti . Ketika saya di SMA , saya ingin ikut
dengan nenek dan sekolah di luar kota . Keinginan sayapun dituruti , lalu mulai
saya hidup bersama nenek . Tetapi itu hanya bertahan satu tahun kerena nenek
terlalu disiplin sehingga saya tidak mau lagi bersama dengan nenek . Lalu saya mau dipindahkan di SMA kota kelahiran
saya tetapi saya tidak mau karena ada adik saya yang sekolah yang sama .
Akhirnya saya tidak jadi pindah sekolah , saya diberi sepeda motor supercub 700
untuk pulang-pergi ke sekolah. Dengan sepeda motor itu saya semakin bandel ,
hari sabtu sering bolos dan teman saya disuruh membuat surat ijin atau sakit .
Tetapi akhirnya ketahuan orang tua saya dipanggil bertemu dengan wali kelas.
Saya tidak kapok malahan semakin bandel , tahun 85-an dikenal dengan Break -
dance , saya dan teman-teman membentuk kelompok break-dance dan mulai beraksi
dengan melawan kelompok break -dance di
kota lain . Malam itu saya dan teman-teman datang ke alun-alun di kota
lain melawan kelompok break-dance dari
kota itu tetapi sial polisi datang
menangkap saya ketika saya ngebut dan menghentikan motor saya . Tidak
ada STNK dan SIM motor di bawa ke kantor polisi . Saya dan teman-teman disuruh
jalan malam itu sampai tidur di rumah teman saya . Pagi hari saya didamprat
oleh ibu . Saya tidak kapok mulailah saya berbohong kepada Ibu untuk wawacara
dengan penduduk sebagai hasil penelitian untuk karya tulis sebagai persyaratan
kelulusan SMA . Padahal saya main-main ke pantai , pulangnya saya menabrak
seorang kakek . Untung saya tidak dikeroyok oleh warga di sekitarnya saya di
bawa ke rumah sakit untuk mengantar kakek dan motornya di bawa ke kantor polisi
. Orang tua akhirnya datang ke kantor polisi dan sayapun minta maaf kepada ibu
, sayapun kapok karena satu minggu kemudian saya harus ikut ujian akhir SMA
.Teringat kejadian masa lalu saya yang kelam ,
saya sadar untuk memperbaiki hidup yang lebih baik . Di tanah pusara
yang memerah saya tertunduk untuk minta maaf kepada ibu .
Ibu
saya lahir dari kedua orang tua yang mejadi penjabat pada masanya . Raden
Soebroto itu nama ayah Ibu saya , masih ada keturunan ningrat dan menjadi
pegawai sosial di kabupaten .Sedangkan istri ayah ibu saya atau nenek saya
pernah sekolah di kesehatan tetapi tidak selesai karena harus menikah dengan
kakek saya .Ayah ibu saya mempunyai dua istri , saat ibu saya menikah ternyata
ayah ibu saya juga mengadakan pernikahan dengan istri keduanya . Hal ini yang
membuat ibu tidak senang dengan perbuatan ayahnya tetapi bagaimanapun juga Ibu
harus menghormati orang tuanya , apalagi dalam budaya jawa menikahi dua istri
sah-sah saja . Apalagi dia keturuanan ningrat , feodalisme masih menjadi adat
dan paternilistik masih menjadi prinsip . Hanya pasrah dan taat yang menjadi
dasar kehidupan bagi ibu saya . Menikah usia 20 tahun dengan lelaki yang
sekarang menjadi ayah saya usianya 32 tahun saat itu . Jarak 12 tahun cukup
jauh tetapi cinta memberi kekuatan untuk
hidup bersama . Perkawinan ayah dan ibu saya unik karena sebenarnya ayah saya
melirik adik ibu saya bahkan pacaran dengan adik ibu saya , sedangkan ibu sudah
tukar cincin dengan lelaki pilihannya yang sudah bekerja di Jakarta. Tetapi
jodoh tidak disangka akhirnya adik ibu saya pacaran dengan lelaki dari Madura
kakak kelas di sekolah perawat .Ibu akhirnya memutuskan untuk menikah dengan
ayah saya dan meninggalkan kekasihnya yang ada di Jakarta. Bagi Ibu mungkin
ayah bukan cinta pertamannya tetapi tresno
jalaran soko kulino membuat keduanya menjalin perkawinan . Ibu saya guru
TK Kristen sedangkan ayah saya guru SMP Kristen di kota yang sama . Dalam
perkawinannya memberi enam anak dan anak pertama adalah saya . Sampai akhir
hayatnya ibu berpesan agar saya menjadi
pemimpin keluarga sebagai penganti orang tua…
Itulah
sepengal cerita tentang ibu saya yang telah dipanggil Tuhan 32 tahun yang
lalu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar