Cari Blog Ini

Selasa, 26 Mei 2020

Kenangan untuk ibuku...


Mengenang ibu….
Saya tidak bisa melihat kamu diwisuda….”

Jam menunujukkan pukul 04.00 dini hari , saya dibangunkan karena ada tamu yang mencari saya . Saya kaget , ternyata Gito teman saya  yang datang  dari kampung , dia mengabarkan saya untuk segera pulang karena ibu sakit . Lalu saya pamitan dengan ibu kost . Dalam perjalanan naik bis saya cerita tentang ibu saya . Terakhir saya bertemu dengan ibu ketika ada perkawinan anak bu Lik . Perkawinannya berlangsung meriah tetapi saya lihat wajah ibu banyak diam dan hanya sedikit berkata-kata . Tidak seperti biasanya ibu selalu ceria , sering ngobrol atau cerita hal yang lain . Saat itu saya membawa tustel pinjaman teman saya untuk mendokumentasi perkawinan  tetapi aneh foto tentang ibu saya tidak tercetak di film. Tiba-tiba tustel saya mati tidak bisa digunakan . Itu mungkin tanda-tanda Ibu sedang sakit . Perjalanan ke kampung saya lima jam dan jam 10.00 sudah sampai di kota saya . Gito  teman saya menuntun saya ketika saya turun dari bis dan mengatakan bahwa ibu saya sudah dipanggil Tuhan . Tubuh saya lemas tak bertenaga , untung ada orang-orang yang menolong saya untuk memegang bahu dan tangan saya . Jalan menuju rumah sudah penuh dengan orang-orang yang ingin menyampaikan duka  . Bendera kuning di pojok jalan menuju rumah tertampang untuk memperlihatkan ada kabar kedukaan . Saya menangis meraung dengan kerasnya karena kepergian ibu . Wajah ibu terlihat tenang dengan senyum dibibir memperlihatkan telah siap untuk dipanggil Tuhan . Indah pada waktuNya  , Tuhan mempunyai waktu untuk memanggil anakNya . Tidak terasa saya dimasukkan ke kamar bersama-sama dengan adik-adik saya yang ternyata seperti saya menangis semuanya . Jam dua siang Ibu saya dimakamkan , saya terharu melihat banyak orang untuk mengantar ibu saya menuju ke pemakaman . Hampir satu kilo orang yang mengantar ibu saya ke peristirahatan yang terakhir . Ibu saya bukan artis atau celebritis , bukan juga tokoh penting tetapi banyak orang yang kehilangan ibu saya . Di kota kecil memang ibu saya adalah guru TK , ibu saya ketua IGTK (Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak ) cabang kota kecamatan , selalu berhubungan dengan pak Camat atau pejabat lainnya . Itu yang mungkin membuat orang menjadi kenal dengan ibu saya . Paling tidak banyak orang tua yang menyekolahkan anaknya ke sekolah ibu saya sehingga banyak juga orang yang kenal dengan ibu saya . Seperti saat itu banyak anak-anak yang menangis mengantar gurunya yang telah mengajar dan mendidik dengan kasihnya .
            Sakit diabetes telah mengantar ibu menuju kematiannya . Hampir sepuluh tahun ibu menderita diabetes . Penyakit keturunan dari kakeknya menimpa tubuh ibu . Setiap bulan pergi ke rumah sakit  Karyadi Semarang untuk mengambil obat insulin dan mengecek gula darahnya . Tahun 80 - an memang masih sulit untuk mencari obat insuliin sehingga harus pergi ke rumah sakit propinsi . Dulu tubuh ibu yang gemuk sekarang merosot kurus , diet hanya makan kentang selalu dilakukan .Di saat seperti itulah tubuh yang rapuh ingin istirahat , di malam hari ibu saya tertidur tetapi ketika mendengar lagu Issabela yang dinyanyikan Amy Search di acara Aneka Ria Safari  , dia terbangun untuk menonton TV . Di kursi dia menyanyaikan lagu Issabela larut dalam buaian nyanyian . Setelah itu Ibu ingin istirahat di kamar , tubuhnya dingin dengan bercucuran keringat membuat ayah dan adik saya kebingungan . Lalu adik saya disuruh datang ke Bu Yus tetangga seorang perawat rumah sakit . Kemudian ayah mengendarai sepeda menuju rumah dokter . Namun usaha manusia tidak ada artinya ketika ajal dijemput ,  Ibu dipanggil Tuhan dengan tenang . Tidak ada pesan apapun hanya senyum menghias diwajahnya untuk mengakhiri kehidupannya . Umur Ibu baru 45 tahun ketika dipanggil Tuhan , masih muda umurnya tetapi maut tidak pernah diduga , itu semua takdir Tuhan yang menentukan. Ayah saya hanya bisa menunduk berdoa melihat jasad istrinya , dengan bercucuran keringat karena bersepeda tangannya mengusap di wajah ibu . “ Selamat jalan bu , tugas ibu sudah selesai di dunia…”kata-kata akhir dari ayah ketika malam semakin larut dalam  keheningan. .
Saya jadi teringat ketika pertemuan terakhir di perkawinan anak bu Lik dengan ibu saya .” Saya tidak bisa melihat kamu diwisuda…” kata  ibu saya terakhir terdengar . Saya tidak tahu apa maksud perkataan itu tetapi satu minggu kemudian Ibu dipanggil Tuhan . Apa ini sebuah firasat ketika seseorang akan meninggalkan orang yang dikasihnya ? Saat itu saya hanya berfikir itu hanya gurauan saja . Hubungan saya dengan ibu sangat dekat , karena saya anak pertama sehungga keinginan saya selalu dituruti . Ketika saya di SMA , saya ingin ikut dengan nenek dan sekolah di luar kota . Keinginan sayapun dituruti , lalu mulai saya hidup bersama nenek . Tetapi itu hanya bertahan satu tahun kerena nenek terlalu disiplin sehingga saya tidak mau lagi bersama dengan nenek . Lalu  saya mau dipindahkan di SMA kota kelahiran saya tetapi saya tidak mau karena ada adik saya yang sekolah yang sama . Akhirnya saya tidak jadi pindah sekolah , saya diberi sepeda motor supercub 700 untuk pulang-pergi ke sekolah. Dengan sepeda motor itu saya semakin bandel , hari sabtu sering bolos dan teman saya disuruh membuat surat ijin atau sakit . Tetapi akhirnya ketahuan orang tua saya dipanggil bertemu dengan wali kelas. Saya tidak kapok malahan semakin bandel , tahun 85-an dikenal dengan Break - dance , saya dan teman-teman membentuk kelompok break-dance dan mulai beraksi dengan melawan kelompok break -dance  di kota lain . Malam itu saya dan teman-teman datang ke alun-alun di kota lain  melawan kelompok break-dance dari kota itu tetapi sial polisi datang  menangkap saya ketika saya ngebut dan menghentikan motor saya . Tidak ada STNK dan SIM motor di bawa ke kantor polisi . Saya dan teman-teman disuruh jalan malam itu sampai tidur di rumah teman saya . Pagi hari saya didamprat oleh ibu . Saya tidak kapok mulailah saya berbohong kepada Ibu untuk wawacara dengan penduduk sebagai hasil penelitian untuk karya tulis sebagai persyaratan kelulusan SMA . Padahal saya main-main ke pantai , pulangnya saya menabrak seorang kakek . Untung saya tidak dikeroyok oleh warga di sekitarnya saya di bawa ke rumah sakit untuk mengantar kakek dan motornya di bawa ke kantor polisi . Orang tua akhirnya datang ke kantor polisi dan sayapun minta maaf kepada ibu , sayapun kapok karena satu minggu kemudian saya harus ikut ujian akhir SMA .Teringat kejadian masa lalu saya yang kelam ,  saya sadar untuk memperbaiki hidup yang lebih baik . Di tanah pusara yang memerah saya tertunduk untuk minta maaf kepada ibu .
Ibu saya lahir dari kedua orang tua yang mejadi penjabat pada masanya . Raden Soebroto itu nama ayah Ibu saya , masih ada keturunan ningrat dan menjadi pegawai sosial di kabupaten .Sedangkan istri ayah ibu saya atau nenek saya pernah sekolah di kesehatan tetapi tidak selesai karena harus menikah dengan kakek saya .Ayah ibu saya mempunyai dua istri , saat ibu saya menikah ternyata ayah ibu saya juga mengadakan pernikahan dengan istri keduanya . Hal ini yang membuat ibu tidak senang dengan perbuatan ayahnya tetapi bagaimanapun juga Ibu harus menghormati orang tuanya , apalagi dalam budaya jawa menikahi dua istri sah-sah saja . Apalagi dia keturuanan ningrat , feodalisme masih menjadi adat dan paternilistik masih menjadi prinsip . Hanya pasrah dan taat yang menjadi dasar kehidupan bagi ibu saya . Menikah usia 20 tahun dengan lelaki yang sekarang menjadi ayah saya usianya 32 tahun saat itu . Jarak 12 tahun cukup jauh tetapi  cinta memberi kekuatan untuk hidup bersama . Perkawinan ayah dan ibu saya unik karena sebenarnya ayah saya melirik adik ibu saya bahkan pacaran dengan adik ibu saya , sedangkan ibu sudah tukar cincin dengan lelaki pilihannya yang sudah bekerja di Jakarta. Tetapi jodoh tidak disangka akhirnya adik ibu saya pacaran dengan lelaki dari Madura kakak kelas di sekolah perawat .Ibu akhirnya memutuskan untuk menikah dengan ayah saya dan meninggalkan kekasihnya yang ada di Jakarta. Bagi Ibu mungkin ayah bukan cinta pertamannya tetapi tresno  jalaran soko kulino membuat keduanya menjalin perkawinan . Ibu saya guru TK Kristen sedangkan ayah saya guru SMP Kristen di kota yang sama . Dalam perkawinannya memberi enam anak dan anak pertama adalah saya . Sampai akhir hayatnya ibu  berpesan agar saya menjadi pemimpin keluarga sebagai penganti orang tua…
Itulah sepengal cerita tentang ibu saya yang telah dipanggil Tuhan 32 tahun yang lalu...



 
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Organisasi Bayangan versi Nadiem

                   Nadiem dengan belajar merdeka "Pendikan adalah paspor untuk masa depan karena hari esok adalah milik mereka yang mem...