| Foto : Kementrian kesehatan |
Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang. (Amsal 17 : 22)
Covid 19 hidup diantara kita , hal itu terjadi dalam keluarga saya .Tanggal 22 Juni 2021 istri saya merasakan badan tidak enak ,pusing dan tidak dapat mencium bau .Wah pikir saya istri saya terkena Covid ,lalu esok harinya saya suruh swab di rumah sakit Husada Jakarta tempat istri saya bekerja . Kemudian diperiksa dan pagi hari mendapat WA bahwa istri saya positif . Tanpa pikir panjang saya suruh keesokan hari seluruh keluarga diswab di rumah sakit Husada Jakarta sambil memeriksa istri saya . Ternyata tidak ada tempat untuk menampung istri saya karena semua kamar penuh .Tetapi kata dokter tidak usah menginap karena gejalanya ringan hanya diberi resep obat dan disuruh isolasi mandiri di rumah . Saya ,anak-anak dan mertua diswab tetapi hasilnya baru esok hari diberitahu lewat WA .Ternyata hasilnya saya negatif , anak dan mertua saya positif . Anak saya hanya gejala batuk-batuk sedangkan mertua tanpa gejala karena gejala ringan diputuskan untuk isolasi mandiri dan saya melapor kepada ketua RT . Saya mulai bertanya dari mana asal penularan covid 19 ini kemudian saya telusuri .Sebelum istri saya terkena gejala covid 19 , anak saya yang sudah bekerja memang disuruh periksa Antigen karena ada satu orang yang terkena covid 19 di tempat kerjanya .Lalu anak saya diperiksa , hasilnya negatif sehingga dia mulai bekerja lagi .Setelah dua hari kerja saya suruh anak saya diswab agar ada kepastian tertular atau tidak . Ternyata hasilnya positif . Dengan kondisi seperti ini maka saya mulai menjalankan isolasi mandiri keluarga . Saya suruh yang terkena covid 19 tidur di kamar atas sedangkan saya di kamar bawah tidak boleh masuk ke kamar saya dan dibatasi pertemuan sehingga makannyapun terpisah , mandi terpisah dan hubungan lewat video call. Saya mulai beli obat bedasarkan resep dokter , vitamin dan keperluan makanan untuk satu minggu .Puji Tuhan para tetangga memberi bantuan .Dari snak sampai kebutuhan makanan mulai dari minyak ,beras , minuman vitamin , buah-buahan dan masker . Ternyata nilai gotong-royong masih ada di lingkungan terdekat kita yaitu para tetangga kita .
Hampir tujuh hari isolasi mandiri berlangsung . Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang. Itu yang menjadi dasar iman sehingga keluarga kami menjalankan dengan suka cita dan doa . Puji Tuhan mulai berangsur-angsur sakitnya menghilang .Istri saya sudah bisa mencium , pusing sudah hilang dan tidak lemas lagi . Anak dan mertua sudah mulai menghilang batuk-batuknya .Tetapi kami masih tetap menjalankan protokol kesehatan dan semoga Tuhan memberikan kekuatan , kesabaran dan penyembuhan sampai berakhirnya isolasi mandiri.(abc)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar