Cari Blog Ini

Minggu, 18 Juli 2021

FLC ,FLO dan FLL..

 

FLC,FLO dan FLL

"Pendidikan itu bukan sebuah produk seperti gelar, diploma, pekerjaan, atau uang yang dihasilkan; pendidikan itu suatu proses yang tak akan pernah berakhir." - Bel Kaufman


School of future leader menjadi tema SMA K IPEKA Tomang tahun 2011 , saat itu Pak Aang menjadi kepala sekolah memproklamasikan dalam setiap kegiatan pembelajaran baik akademik maupun non-akademik . Selain dalam bidang akademik , ada tiga kegiatan yang menjadi tawaran sekolah untuk mempersiapkan siswa menjadi seorang pemimpin di masa depan yaitu FLC , FLO dan FLL. Kegiatan ini terintegrasi dalam proses pembelajaran untuk mempersiapkan seorang pemimpin di masa depan . Namun menurut saya program School of future leader sudah dirintis sejak tahun 1995 oleh pak John dan pak Presno walaupun belum secara sistematis dijadikan program sekolah .Hanya beda kulitnya saja tetapi isi dan subtansinya sama. Tentu tawaran ini masuk akal untuk menjaring siswa dalam penerimaan siswa baru .


Jamsis SMAK IPEKA TOMANG 2001


Future Leader Camp [FLC] merupakan kegiatan  kelas 10 untuk dilatih disiplin , mandiri dan tanggungjawab .Melalui berbagai kegiatan dalam bentuk latihan berbaris , out-bound , permainan dan jalan lintas alam . Kegiatan ini sudah pernah dilakukan tahun 1995 diadakan Jambore siswa di Cibubur dengan acara bersamaan tetapi diikuti oleh semua siswa dari kelas 1 s/d 3 . Kemudian berlanjut tahun 2001 bahkan pernah menjadi Jamsis tingkat SMA se-IPEKA saat itu bersama dengan SMAK IPEKA Sunter  dan baru tahun 2007 hanya kelas 10 yang mengikuti Jamsis di Gunung Pancar , Bogor . Tahun 2011 dibentuklah Future Leader Camp [FLC]  mengundang dan bekerjasama dengan Maxima Impact Indonesia dibawah pimpinan Denny Tantono . Maxima Impact Indonesia merupakan EO yang membidangi berbagai bidang pelatihan , motivasi dan team work . Dengan program yang sudah tersistimatis dan sesuai dengan visi dan misi Sekolah IPEKA maka kerjasama berlanjut sampai sekarang . Selama tiga hari dua malam siswa digembleng dengan disiplin tingkat tinggi di gunung Pancar Bogor . Hari pertama mereka dilatih dulu di sekolah dengan berbagai sikap dan aturan sebelum mereka terjun di kawah candradimuka . Jam 11.00 siang mereka baru naik truk TNI berombongan ke gunung Pancar . Selama tiga hari dua malam mereka mendapat pelatihan untuk mengenal diri sendiri , bekerja sama dengan teman , saling empati kepada teman , patuh terhadap aturan dan berkomitmen .


Lintas alam berjemur dgn lumpur


Setiap pagi bangun jam lima pagi dan bunyi sirene telah terdengar . Mereka mulai masak untuk sarapan pagi , mandi pagi dan tepat jam tujuh secara kelompok sudah siap di lapangan  untuk mulai kegiatan dengan dibuka renungan pagi dan dilanjutkan materi oleh instruktur dari Maxima Impact Indonesia . Acara sangat padat harus dilakukan secara cepat , waktu menjadi sangat berarti untuk berlatih kedisiplinan dan kepatuhan terhadap aturan . Melalui FLC ini diharapkan siswa mempunyai sikap mandiri , tanggungjawab ,disiplin dan sekaligus empati terhadap sesama . Tiga hari dua malam tubuh mereka sakit , memar dan letih menjadi bukti bahwa mereka telah mengikuti FLC , hasilnya berupa sertifikat telah menyelesaikan pelatihan dan siap menjadi pemmpin masa depan .

Di pabrik Lactona Yogyakarta


Future Leader Observation [FLO] merupakan kegiatan  kelas XI untuk memberi informasi pengetahuan sekaligus mengkaji sebuah  pengamatan kepada siswa yang terintegrasi dengan mata pelajaran sesuai jurusan . Kegiatan ini dahulu dkenal dengan studi lapangan tetapi sekarang menjadi FLO . Selama tiga hari dua malam mereka mengunjungi tempat-tempat untuk mencari informasi dan mengamati sesuai mata pelajaran . Misalnya musium , balai penelitian , universitas atau pabrik . Obyek pengamatan dan pusat informasi di luar kota yaitu , Bogor, Bandung , Serpong , yang jauh ke Yogyakarta atau dalam kota Jakarta . Karena di sekolah ada dua jurusan maka dikelompokkan menjadi IPA dan IPS . Jurusan IPA akan mengunjungi sesuai mata pelajaran IPA misalnya ke Balai penelitian Biologi LIPI di Cibinong , Balai penelitian peternakan di Lembang atau mengamati proses pabrik Jamu di Bawen , Semarang .Untuk jurusan IPS , misalnya ke Musium Geologi di Bandung , ke pabrik susu di Yogyakarta untuk mengamati pemasaran atau mencari informasi dengan mengunjungi UGM untuk mengenal lebih dekat jurusan atau fakultas yang sesuai dengan minat dan passionnya.  Semua tempat dan ruang bisa menjadi sumber belajar .


Sejenak melepaskan lelah di Borobudur

Proses belajar , mengamati , mengkaji dan menganalisa menjadi bagian yang tidak terpisahkan untuk mengasah pikiran dan rasio sebagai manusia pembelajar merdeka. Bukan hanya berisi pengetahuan tetapi juga ada rekreasi yaitu nonton sendratari Ramayana di Prambanan dan Angklung Mang Udjo di Bandung .Lengkap sudah pengetahuan ,seni dan rekreasi yang terpadu dalam FLO.

Future Leader Live-in (FLI),mempersiapkan siswa setelah lulus SMA sehingga diikuti oleh siswa kelas XII .Sebagai kegiatan pamuncak sebelum mereka siswa meninggalkan SMA dibekali dulu dengan kegiatan Live- in .Kalau dulu Live-in disatukan dengan studi lapangan sekarang  terpisah dan menjadi kegiatan tersendiri . Selama tiga hari dua malam mereka akan hidup menyatu dan bersama dengan penduduk. Siswa akan terjun langsung dan merasakan hidup bersama dengan penduduk setempat .Tentu bukan hal yang mudah untuk mereka berhubungan langsung dengan penduduk setempat. Mereka harus beradaptasi dengan saling menghargai dan menghormati.Sikap ini yang sedang mereka pelajari dan dilakukan . Inspirasi dan refleksi menjadi sarana pembelajaran dalam Live-in .

Siap melayani Live-in

Live in pertama di lakukan di daerah Purwakarta ,ada sebuah kampung namanya Tajur di desa Bojong Kecamatan Pesangrahan dijadikan live in selama tiga hari tiga malam .Sebagian besar penduduk kampung Tajur adalah petani sehingga para siswa belajar tentang pertanian dan perikanan .Hampir setiap rumah mempunyai empang untuk memelihara ikan mulai dari mujair , lele dan gurame . Tidak heran kalau tiap hari selalu makan terhidang ikan dan lalap ,makanan khas Sunda.


Suka ria menyatu dengan alam

Tahun 2013 mulai Live-in ke desa wisata di Sleman , Yogyakarta . Pariwisata sudah menjadi industri bagi masyarakat Indonesia . Dengan otonomi daerah bisa mengembangkan potensi yang ada dalam daerahnya sesuai dengan karakter daerah atau istilah sesuai dengan budaya kearifan lokal .Tidak heran sekarang tumbuh desa wisata untuk mengembangkan potensi desa sebagai pariwisata edukatif sekaligus rekreatif . Salah satu adalah desa wisata Gabugan atau DEWIGA , terletak di desa Donokerto , Kecamatan Turi , Kabupaten Sleman , Yogyakarta atau sekitar 17 km dari pusat Yogyakarta menuju arah Utara. Selama dua hari tiga malam siswa menginap di rumah penduduk. Secara profesional para siswa dilayani oleh pemandu . Setiap kelompok ada satu pemandu yang akan menjelaskan informasi tentang desa Gabugan .

Hasil karyaku





Ada lima aktivitas pilihan yang akan dilakukan oleh siswa yaitu : Bertani padi/palawija , membajak sawah , kerajinan batik , Karawitan , tangkap ikan , pengolahan barang bekas , kuliner pedesaan dan susur sungai . Setiap kegiatan tentu mengasyikan bagi siswa karena mereka langsung melakukan dan ada hasilnya yang bisa dilihat . Live in menjadi bagian kehidupan siswa untuk mempersiapkan seorang pemimpin di masa depan .[abc]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Organisasi Bayangan versi Nadiem

                   Nadiem dengan belajar merdeka "Pendikan adalah paspor untuk masa depan karena hari esok adalah milik mereka yang mem...