Cari Blog Ini

Kamis, 15 Juli 2021

Ciranjang...

Gereja GKP Palalangon


 Sebelum menjadi kupu-kupu yang amat indah, betapa banyak waktu dan perjuangan serta metmorfose yang dilalui dalam kepompong.


Hidup bersama dan menyatu dengan masyarakat pedesaan menjadi tujuan live-in bagi siswa kelas tiga sebelum mereka meninggalkan SMA . Setelah tiga tahun belajar dipersiapkan untuk menikmati kehidupan bersama di lingkungan keluarga masyarakat pedesaan . Tentunya ada perbedaan kehidupan di antara mereka , hidup di kota dengan fasilitas semua ada dengan kehidupan desa yang serba kekurangan dan apa adanya . Tiga hari dua malam , siswa belajar tentang hidup dan kehidupan di tengah-tengah masyarakat yang jauh dari kehidupan keseharian mereka . Adaptasi terhadap lingkungan itu menjadi anugerah yang diberikan Tuhan untuk menjaga rasa kemanusian dengan sesama manusia . Itu ajaran Kristen yang diajarkan oleh Kristus untuk mengasihi sesama manusia seperti dirimu sendiri .


Siap melayani

T
ahun 2007 , SMAK IPEKA Tomang mengadakan live-in di Ciranjang , Cianjur Jawa Barat . Ciranjang nama kecamatan di kabupaten Cianjur dan disitu terdapat kampung komunitas Kristen yaitu di kampung Palalangon dan Rawaselang. Menurut Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan GKP Palalangon (disusun oleh Pdt. Alex Fernando Banua, S.Th.), kekristenan di Ciranjang merupakan hasil pelayanan Nederlandsche Zendings Vereeniging (NZV), sebuah lembaga misi pekabaran Injil yang berkedudukan di Rotterdam, Belanda nun di tahun 1901. Karena prihatin dengan kondisi komunitas orang Kristen pribumi, dalam hal ini orang Sunda, NZV mengutus B. M. Alkema untuk mencari lahan yang cocok untuk pemukiman jemaat. Ekspedisi untuk menemukan lahan pemukiman itu dimulai dengan menyusuri aliran Sungai Citarum. Akhirnya mereka menemukan sebuah hutan untuk dijadikan lahan pemukiman dan menamainya Palalangon (menara).

GKP Palalangon adalah gereja tertua di wilayah Ciranjang. Setahun kemudian pada 1902 berdiri Gereja Kerasulan Pusaka di Rawaselang, tak jauh dari Palalangon. Dari dua gereja ini kemudian berkembang beberapa jemaat lokal baru di wilayah itu karena alasan pengembangan atau perpecahan. Kini tercatat sebelas gereja lokal yang berdiri di Ciranjang, yakni GKP Palalangon, GKP Sindangjaya, GKP Ciranjang, Gereja Kerasulan Pusaka Rawaselang, Gereja Kerasulan Baru Rawaselang, Gereja Persekutuan Injili Eliezer, GPdI Pasirnangka, Gereja Pantekosta Ciranjang, GKI Ciranjang, Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh dan Gereja Persekutuan Oikumene Indonesia (GEPKOIN).

Di dua gereja yaitu GKP Palalangon dan Gereja Kerasulan Pusaka di Rawaselang kami mengadakan ibadah . Di tengah - tengah gereja tedapat banyak jemaat dan umat lain yang saling bertoleransi .Dengan motto ‘Gerbang Marhamah’ (Gerakan Membangun Masyarakat Berakhlakul Karimah), Cianjur adalah salah satu kabupaten yang menerapkan Syariat Islam. Meski demikian tidak ada gesekan dan permasalahan berarti bagi warga Nasrani di Kecamatan Ciranjang.


Hamba Tuhan dengan Jemaat 
Potret toleransi terlihat ketika ada warga yang meninggal. Masyarakat Kristen – Muslim, bahu-membahu untuk mengurus segala keperluan dan perlengkapan hingga pemakaman dilaksanakan. Sebagai kelompok Kristen yang hidup di tengah-tengah masyarakat Sunda yang berbudaya, mereka sadar betul arti memelihara warisan leluhur. Mereka, misalnya, masih mempertahankan tradisi ‘Sedekah Bumi’ (pesta panen) yang lazim dirayakan kebanyakan orang Sunda. Perayaan setiap 13 Juni ini sekaligus diperingati sebagai hari ‘Kabudalan’ atau masuknya kekristenan ke wilayah itu.

Beras Cianjur lumbung padi nasional


Hampir 80% jemaat yang tersebar di Desa Kertajaya dan Sindangjaya menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Meski ada beberapa yang berwiraswata dan menjadi PNS, kebanyakan jemaat berprofesi sebagai buruh tani (petani penggarap). Selama ini Cianjur dikenal khalayak sebagai lumbung padi nasional. . Untuk membantu perekonomian jemaat, ada sebuah lembaga pelayanan dari Bandung yang melatih kaum ibu di sejumlah gereja untuk membuat selimut.

Ayo ...live - in


Selama live in , siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dan hidup bersama dalam satu keluarga . Mereka hidup sesuai dengan kebiasaan keluarga , bagi keluarga yang bermata pencaharian petani , mereka pagi hari ke sawah ,mencangkul atau menanam padi sampai siang hari dan makan di persawahan dan sore baru pulang . Bagi keluarga pedagang makanan , pagi hari mulai beli bahan makanan , masak kemudian ke pasar untuk ikut jualan dan sore hari baru pulang . Bagi keluarga yang mempunyai kebun ,pagi hari ikut membersihkan kebun dan sore hari pulang sambil membawa kelapa muda atau buah-buah yang lain untuk dinikmati bersama di rumah . 


Live in belajar hidup dan kehidupan

Para siswa bukan hanya belajar dan menerima dari keluarga , siswapun memberi dengan memberi pelajaran bagi anak-anak  seperti bahasa Inggris , matematika dan IPA . Anak-anak senang dan bahagia menerima pelajaran dari kakak-kakak yang berasal dari kota Jakarta . Saling memberi dan menerima itulah ajaran kasih yang diajarkan bagi murid-murid Kristus . Setiap siswa diberi buku acara yang berisi tentang pedoman , renungan pagi dengan keluarga dan refleksi . Di bagian refleksi ini siswa diberi kesempatan di malam hari untuk mencatat peristiwa apa saja dengan keluarga untuk direnungkan dalam dirinya . Tentu semua itu ada rencana Tuhan terhadap dirinya untuk belajar memahami , mengerti dan empati terhadap sesama .

Hari kedua live - in ada pertandingan sepak bola antara guru dan siswa melawan kesebelasan pemuda gereja . Melawan mereka tentu kalah , mereka berlatih tiap hari sedangkan kita kesebelasan asal tanding . Setelah diadakan pertandingan diadakan ramah tamah dengan makan kolak dan pisang goreng tak lupa kopi panas terasa betapa bahagianya hidup ini .

Pulang ke Jakarta


Malam hari sebelum perpisahan esok hari , kami mengadakan kebaktian pengucapan syukur dengan dilayani oleh para siswa dan hamba Tuhan dari GKP Palalangon. Setelah kebaktian dilanjutkan dengan ramah - tamah dan hiburan oleh para siswa . Acara cukup khidmat dan menghibur .Pagi hari jam sembilan ,kami pulang ke Jakarta . Ada pembelajaran dan pengalaman hidup bersama satu saudara di Ciranjang...;[abc]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Organisasi Bayangan versi Nadiem

                   Nadiem dengan belajar merdeka "Pendikan adalah paspor untuk masa depan karena hari esok adalah milik mereka yang mem...