Mengenang ayah…
“ Kamu anak pertama , harus bisa menjaga keluarga …”
Tiga
tahun yang lalu kepergian ayah tidak terduga karena baru satu minggu kami
bertemu di rumah sakit karena ada serangan jantung sehingga harus diopname
selama hampir lima hari . Kami sekeluarga bertemu di rumah sakit dan menjaga
ayah gantian dengan adik-adik saya . Karena sudah sehat dan dokter menyarankan
untuk kembali ke rumah akhirnya ayah saya di bawa pulang . Kemudian saya pamit
pulang ke Jakarta tetapi di awal hari lebaran , malam takbiran saya ditelpon
dikabarkan ayah meninggal pukul 10.00 malam . Saya kaget dan akhirnya jam 04.00
pagi saya pulang dengan istri . Saya menjemput adik di Pulo Gebang sampai
akhirnya kami berempat naik mobil menuju kampung saya . Kalau perjalanan hari
biasa hanya membutuhkan 7 jam perjalanan tetapi karena hari takbiran pertama
macet sudah di depan mata , arah Bekasi sampai
Cikampek macet sehingga jam 12.00 siang baru melewati Cikampek dan
sampai di kota saya hampir jam 07.00 pagi sehingga hampir 24 jam kami dalam
perjalanan . Sampai di rumah kondisi sudah sepi karena jenazah sudah
dikebumikan satu hari yang lalu . Saya dan adik saya pergi ke pemakaman pagi
hari jam 09.00 pagi untuk menabur bunga dan menghormati ayah yang telah pergi
untuk selamanya .
“ Kamu anak pertama
, harus bisa menjaga keluarga …” kata-kata ayah ketika kita sedang bicara di
ruang tamu .Kata- kata terakhir itu
yang memberi kesadaran bahwa anak sulung punya tanggungjawab berat
sebagai penganti orang tua untuk menjaga keluarga . Beliau cerita tentang
masa lalunya dan itu setiap kali diceritakan kepada kami . Sudah beberapa kali Ayah cerita hal yang sama tetapi kami hanya diam dan mendengarkan . Usia yang
sudah uzur 86 tahun sehingga memori masa lalu masih diingat . Ayah saya belum
pikun mungkin ini disebabkan ayah suka membaca dan memang saya sering memberi
buku bacaan dari ilmu pengetahuan sampai buku rohani . Dari membaca buku-buku
kemudian membuat kotbah di malam hari
untuk dikotbahkan pada hari Minggu .Dalam usia yang senja memang tidak
sebanyak masa muda untuk berkotbah . Ayah saya bukan seorang pendeta tetapi
hanya panatua saja di gereja . Usia 86 tahun , tubuh ayah masih sehat .
Jalannya masih tegak , tidak memakai tongkat hanya pendengaranya memang sudah
tidak mendengar lagi sehingga dibantu
dengan alat pendengaran.
Sejak usia pensiun , kesehatan ayah
saya mulai menurun . Sesak nafas dan alergi debu berdampak terhadap flu dan
batuk-batuk . Apalagi sejak usia muda ayah saya perokok berat sehingga
menimbulkan rasa sakit di dada . Saat itu ternyata terserang jantung sehingga
rokoknya dihilangkan dan mulai melakukan gerak jalan setiap pagi . Minum obat
tiap hari untuk menjaga jantung yang semakin lemah. Dalam kondisi tubuh semakin
lemah dengan nafas tersendak-sendak karena usia sudah lanjut mengantar ayah
untuk lebih berhati-hati untuk menjaga kesehatannya . Ibu yang selalu melayani
tiap hari kebutuhan ayah selalu dengan setia menyiapkan keperluan ayah . Mulai
dari obat-obatan sampai dengan makanan harus dijaga dengan baik . Di masa tua
ayah dan ibu bagaikan dua sejoli saling memahami dan mengerti di antara
keduanya . Ibu adalah istri kedua dari ayah , karena istri pertama ayah
meninggal . Sejak 10 tahun ditinggal istri pertama , nenek atau ibu ayah
menyarankan untuk menikah kembali agar ada yang merawat dan menjaga ayah .
Ternyata di kampung nenek ada seorang janda dengan satu anak telah ditinggal
suaminya . Akhirnya nenek melamar menjadi istri ayah saya . Perkawinan kedua
ayah saya berlangsung sederhana dan hanya dihadiri oleh keluarga . Satu rumah
dengan istri yang kedua menjadi tempat tinggal keluarga kami . Ayah saya pulang
kampung setelah merantau di luar kota . Memang benar kata nenek saya kalau ayah
membutuhkan seorang teman daripada hidup sendirian . Ibu sambung saya ternyata
orang baik . Beliau selalu memperhatikan ayah saya dan anak-anak dari ibu saya
yang dulu . Tidak ada yang bahagia kalau tidak bisa membahagiakan orang lain .
Itu prinsip ibu saya yang sekarang . Tidak heran saat ayah saya sedang sakit ,
ibu selalu memperhatikan dengan kasihnya sampai akhirnya ayah saya meninggal .
Ayah saya adalah orang yang dituakan
di kampung kelahirannya . Anak pertama dari lima bersaudara keluarga Iskiel .
Kampung kelahiran ayah saya merupakan kampung Kristen dan orang Kristen pertama
adalah kakek saya . Kakek saya bekerja menjadi mantri kesehatan jaman Belanda .
Ada cerita tentang kakek saya ketika ditangkap oleh tentara Belanda dan ketika
akan dibunuh dengan senjatanya kakek saya berdoa dengan menyebut nama Tuhan
Yesus .Akhirnya kakek saya dibebaskan karena satu iman dengan tentara Belanda
yang beragama Kristen . Sejak kecil kalau pergi ke rumah kakek saya selalu naik
becak kalau ke gereja di kota. Namun karena jarak rumah nenek saya dengan
gereja jauh sehingga disamping rumah nenek saya yang dulunya rumah pak Lik saya
dijadikan gereja pepathan . Setiap pagi jam 07.00 pagi diadakan sekolah minggu
dan jam 09.00 diteruskan dengan kebaktian . Beberapa tahun kemudian setelah
jemaatnya banyak , tempatnya tidak mencukupi di beli sebidang tanah untuk
didirikan sebuah gereja . Dari gereja pepathan menjadi gereja induk di kampung
dan mentasbihkan seorang pendeta . Sejak ayah datang ke kampung dipilihlah
menjadi ketua majelis dan sampai akhirnya aktif di Manula . Ayah saya menjadi
pinisepuh untuk menasehati setiap permasalahan di gereja .
Sejak muda setelah menamatkan
sekolah di SGTA di Jakarta , ayah
kembali ke kota kecil menjadi guru SMP . Tahun 1960-an , ayah melamar di SMP
Kristen dan menjadi pegawai negeri yang diperbantukan di sekolah swasta . Teman
satu angkatan dengan ayah saya sudah menjadi pengawas tetapi ayah saya tetap
menjadi guru swasta di SMP Kristen . Dalam hati ayah ingin melayani anak-anak yang belum mengenal
Kristus .Biji yang di tanam , tumbuh , berkembang dan berbuah.Sekarang
anak-anak yang dididik ayah sudah ada yang percaya dan menerima Kristus sebagai
juru selamat.Sekolah Kristen di kotaku sebagian besar siswanya adalah muslim
hampir 80% sehingga ayah saya ada kerinduan untuk mengabarkan Injil kepada
murid-muridnya.Banyak tuian tetapi sedikit pengarapnya .Itulah yang selalu
diingat oleh ayah saya sampai akhir hidupnya. Setelah pensiun ayah saya masih
mengajar agama. Dan aktif di gereja di bidang panatalayan gereja. Seluruh
hidupnya untuk Tuhan , ketika pulang libur natal saya selalu minta didoakan.
Doa orang benar , besar kuasanya .Itu permintaan saya ketika ayah masih hidup
dan selalu saya ingat setiap waktu……
Foto Bapak dalam kenangan



Tidak ada komentar:
Posting Komentar