Cari Blog Ini

Selasa, 26 Mei 2020

Kenangan untuk ayahku....


Mengenang ayah…
“ Kamu anak pertama , harus bisa menjaga keluarga …”

Tiga tahun yang lalu kepergian ayah tidak terduga karena baru satu minggu kami bertemu di rumah sakit karena ada serangan jantung sehingga harus diopname selama hampir lima hari . Kami sekeluarga bertemu di rumah sakit dan menjaga ayah gantian dengan adik-adik saya . Karena sudah sehat dan dokter menyarankan untuk kembali ke rumah akhirnya ayah saya di bawa pulang . Kemudian saya pamit pulang ke Jakarta tetapi di awal hari lebaran , malam takbiran saya ditelpon dikabarkan ayah meninggal pukul 10.00 malam . Saya kaget dan akhirnya jam 04.00 pagi saya pulang dengan istri . Saya menjemput adik di Pulo Gebang sampai akhirnya kami berempat naik mobil menuju kampung saya . Kalau perjalanan hari biasa hanya membutuhkan 7 jam perjalanan tetapi karena hari takbiran pertama macet sudah di depan mata , arah Bekasi sampai  Cikampek macet sehingga jam 12.00 siang baru melewati Cikampek dan sampai di kota saya hampir jam 07.00 pagi sehingga hampir 24 jam kami dalam perjalanan . Sampai di rumah kondisi sudah sepi karena jenazah sudah dikebumikan satu hari yang lalu . Saya dan adik saya pergi ke pemakaman pagi hari jam 09.00 pagi untuk menabur bunga dan menghormati ayah yang telah pergi untuk selamanya .
“ Kamu anak pertama , harus bisa menjaga keluarga …” kata-kata ayah ketika kita sedang bicara di ruang tamu .Kata- kata terakhir itu yang memberi kesadaran bahwa anak sulung punya tanggungjawab  berat  sebagai penganti orang tua untuk menjaga keluarga . Beliau  cerita tentang masa lalunya dan itu setiap kali diceritakan kepada kami . Sudah beberapa kali Ayah  cerita hal yang sama tetapi kami hanya diam dan mendengarkan . Usia yang sudah uzur 86 tahun sehingga memori masa lalu masih diingat . Ayah saya belum pikun mungkin ini disebabkan ayah suka membaca dan memang saya sering memberi buku bacaan dari ilmu pengetahuan sampai buku rohani . Dari membaca buku-buku kemudian membuat kotbah di  malam hari untuk dikotbahkan pada hari Minggu .Dalam usia yang senja memang tidak sebanyak masa muda untuk berkotbah . Ayah saya bukan seorang pendeta tetapi hanya panatua saja di gereja . Usia 86 tahun , tubuh ayah masih sehat . Jalannya masih tegak , tidak memakai tongkat hanya pendengaranya memang sudah tidak mendengar lagi  sehingga dibantu dengan alat pendengaran.

            Sejak usia pensiun , kesehatan ayah saya mulai menurun . Sesak nafas dan alergi debu berdampak terhadap flu dan batuk-batuk . Apalagi sejak usia muda ayah saya perokok berat sehingga menimbulkan rasa sakit di dada . Saat itu ternyata terserang jantung sehingga rokoknya dihilangkan dan mulai melakukan gerak jalan setiap pagi . Minum obat tiap hari untuk menjaga jantung yang semakin lemah. Dalam kondisi tubuh semakin lemah dengan nafas tersendak-sendak karena usia sudah lanjut mengantar ayah untuk lebih berhati-hati untuk menjaga kesehatannya . Ibu yang selalu melayani tiap hari kebutuhan ayah selalu dengan setia menyiapkan keperluan ayah . Mulai dari obat-obatan sampai dengan makanan harus dijaga dengan baik . Di masa tua ayah dan ibu bagaikan dua sejoli saling memahami dan mengerti di antara keduanya . Ibu adalah istri kedua dari ayah , karena istri pertama ayah meninggal . Sejak 10 tahun ditinggal istri pertama , nenek atau ibu ayah menyarankan untuk menikah kembali agar ada yang merawat dan menjaga ayah . Ternyata di kampung nenek ada seorang janda dengan satu anak telah ditinggal suaminya . Akhirnya nenek melamar menjadi istri ayah saya . Perkawinan kedua ayah saya berlangsung sederhana dan hanya dihadiri oleh keluarga . Satu rumah dengan istri yang kedua menjadi tempat tinggal keluarga kami . Ayah saya pulang kampung setelah merantau di luar kota . Memang benar kata nenek saya kalau ayah membutuhkan seorang teman daripada hidup sendirian . Ibu sambung saya ternyata orang baik . Beliau selalu memperhatikan ayah saya dan anak-anak dari ibu saya yang dulu . Tidak ada yang bahagia kalau tidak bisa membahagiakan orang lain . Itu prinsip ibu saya yang sekarang . Tidak heran saat ayah saya sedang sakit , ibu selalu memperhatikan dengan kasihnya sampai akhirnya ayah saya meninggal .

            Ayah saya adalah orang yang dituakan di kampung kelahirannya . Anak pertama dari lima bersaudara keluarga Iskiel . Kampung kelahiran ayah saya merupakan kampung Kristen dan orang Kristen pertama adalah kakek saya . Kakek saya bekerja menjadi mantri kesehatan jaman Belanda . Ada cerita tentang kakek saya ketika ditangkap oleh tentara Belanda dan ketika akan dibunuh dengan senjatanya kakek saya berdoa dengan menyebut nama Tuhan Yesus .Akhirnya kakek saya dibebaskan karena satu iman dengan tentara Belanda yang beragama Kristen . Sejak kecil kalau pergi ke rumah kakek saya selalu naik becak kalau ke gereja di kota. Namun karena jarak rumah nenek saya dengan gereja jauh sehingga disamping rumah nenek saya yang dulunya rumah pak Lik saya dijadikan gereja pepathan . Setiap pagi jam 07.00 pagi diadakan sekolah minggu dan jam 09.00 diteruskan dengan kebaktian . Beberapa tahun kemudian setelah jemaatnya banyak , tempatnya tidak mencukupi di beli sebidang tanah untuk didirikan sebuah gereja . Dari gereja pepathan menjadi gereja induk di kampung dan mentasbihkan seorang pendeta . Sejak ayah datang ke kampung dipilihlah menjadi ketua majelis dan sampai akhirnya aktif di Manula . Ayah saya menjadi pinisepuh untuk menasehati setiap permasalahan di gereja .

            Sejak muda setelah menamatkan sekolah di SGTA  di Jakarta , ayah kembali ke kota kecil menjadi guru SMP . Tahun 1960-an , ayah melamar di SMP Kristen dan menjadi pegawai negeri yang diperbantukan di sekolah swasta . Teman satu angkatan dengan ayah saya sudah menjadi pengawas tetapi ayah saya tetap menjadi guru swasta di SMP Kristen . Dalam hati ayah  ingin melayani anak-anak yang belum mengenal Kristus .Biji yang di tanam , tumbuh , berkembang dan berbuah.Sekarang anak-anak yang dididik ayah sudah ada yang percaya dan menerima Kristus sebagai juru selamat.Sekolah Kristen di kotaku sebagian besar siswanya adalah muslim hampir 80% sehingga ayah saya ada kerinduan untuk mengabarkan Injil kepada murid-muridnya.Banyak tuian tetapi sedikit pengarapnya .Itulah yang selalu diingat oleh ayah saya sampai akhir hidupnya. Setelah pensiun ayah saya masih mengajar agama. Dan aktif di gereja di bidang panatalayan gereja. Seluruh hidupnya untuk Tuhan , ketika pulang libur natal saya selalu minta didoakan. Doa orang benar , besar kuasanya .Itu permintaan saya ketika ayah masih hidup dan selalu saya ingat setiap waktu……

Foto Bapak dalam kenangan 

Gambar mungkin berisi: 11 orang, termasuk Fajar Christ Rahmanu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Organisasi Bayangan versi Nadiem

                   Nadiem dengan belajar merdeka "Pendikan adalah paspor untuk masa depan karena hari esok adalah milik mereka yang mem...