| Baduy yang masih asri |
Pendidikan bukan cuma pergi ke sekolah dan mendapatkan gelar. Tapi, juga soal memperluas pengetahuan dan menyerap ilmu kehidupan" (Shakuntala Devi)
Suku Baduy salah satu suku di Indonesia yang tinggal di Desa Kanekes,Kecamatan Lebak, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten . Berjarak sekitar 120 km dari Jakarta. Mereka tinggal di daerah yang terpencil di Gunung Kendeng, sehingga untuk mencapai daerah tersebut juga dibutuhkan waktu yang relatif lebih lama dan jalan yang berat. Untuk menjelajahi Desa Kanekes dengan luas 5130,8 hektar, kita harus berjalan kaki, karena tidak ada alat transportasi apa pun.
Menurut sejarahnya orang Baduy merupakan bagian dari suku Sunda yaitu suku asli masyarakat Propinsi Jawa Barat dan Propinsi Banten, bahasa yang digunakan mereka juga bahasa sunda. Diperkirakan mereka pindah di daerah terpencil di Gunung Kendeng ini pada abad 16, bersamaan dengan runtuhnya Kerajaan Pajajaran. Dahulu sebelum Islam masuk ke Indonesia dan Jawa, pengaruh agama Hindu dan Budha sangat kuat, termasuk Kerajaan Pajajaran. Pada tahun 1579 masuklah Islam untuk menghancurkan Pajajaran dan masyarakat disana berpindah ke agama Islam. Ada sekelompok masyarakat yang menolak untuk masuk kedalam Islam, kemudian mereka berpindah tempat dan mengasingkan diri. Kelompok tersebut yang kemudian dinamakan Suku Baduy. Sebutan "Baduy" merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau "orang Kanekes" sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo.
| Tak ada kata lelah... |
Demikian kondisi suku Baduy yang menjadi obyek study lapangan bagi siswa SMAK IPEKA Tomang .Awal study lapangan ke Baduy tahun 1996 di SMAK IPEKA Puri .Saat itu rombongan naik kereta api dari Stasiun Kota menuju stasiun Rangkasbitung .Kami menyewa dua gerbang kereta api .Setelah sampai di Rangkasbitung dilanjutkan perjalanan dengan menggunakan mobil Isuzu menuju desa Kanekes kabupaten Lebak . Butuh satu setengah jam perjalanan menuju Kanekes .Dari Kanekes mulai berjalan kaki menuju Gajeboh tempat suku Baduy Luar tinggal .Dibedakan Baduy dalam dan luar . Dilihat dari pakaiannya kita bisa menentukan mana Baduy dalam dan luar . Pakain putih- putih dikenakan oleh suku Baduy dalam sedangkan pakaian hitam-hitam dikenakan oleh suku Baduy luar.Tempat Baduy dalam masih 10 Bukm dari tempat Baduy Luar . Cukup capai juga perjalanan kaki sejauh 7 km .
Berjumpa dengan suku Baduy Dalam
Dalam perjalanan kita bisa menikmati keindahan alam asri , hutan dan jalan naik-turun perbukitan .Sesampainya di Gajeboh ,diperlihatkan rumah asli beratap rumbai bambu dan dinding terbuat dari bambu dan diikat dengan tali dari bambu juga.Tidak dipaku terhadap dinding rumah karena paku dianggap buatan orang luar. Suku Baduy menurut hukum adat dilarang menggunakan benda-benda buatan orang dari luar . Tidak ada listrik , barang elektronik dan transportasi .Kemanapun pergi suku Baduy akan berjalan kaki .Membawa barangpun diangkut dengan pundak atau dipikul .Tidak menggunakan hewan seperti sapi atau kuda.Jangan harap kita bisa makan daging atau ikan .Mereka makan vegetarian atau umbi-umbian direbus atau dibakar , jarang digoreng dengan minyak sehingga kalau kita makan rasanya hambar . Untuk itu , kami membawa lauk - pauk sendiri dari Jakarta . Sebagai obyek study lapangan , siswa telah diberi tugas sesuai dengan jurusan.Siswa jurusan IPA berkaitan dengan pelajaran Biologi meneliti keanekaragaman hayati di sekitar lingkungan dan pelajaran Fisika meneliti energi gerak di arus sungai .Siswa jurusan IPS berkaitan pelajaran Sosiologi mengamati pengaruh masyarakat dunia luar dengan masyarakat Baduy yang masih tertutup , pelajaran Sejarah mengamati peninggalan masa lalu dari masyarakat Baduy dan berkaitan dengan hukum adat Baduy untuk pelajaran PPKn.Karena menggunakan bahasa Sunda untuk wawancara dengan penduduk setempat maka setiap kelompok ada peterjemah dari penduduk di luar Kanekes. Komunikasi akhirnya dapat berjalan baik tanpa kendala. Untuk perangkat desa bisa menggunakan bahasa Indonesia mulai dari Jaro pemimpin tertinggi suku Baduy sampai sekretaris desa dan ketua dusun .Walaupun dengan kondisi masyarakat seadanya tanpa ada pengaruh dari dunia luar terlihat kebahagian terpancar dalam wajah para siswa.Mereka gembira bersenda gurau mandi bersama di sungai dekat rumah penduduk .Tentu belum pernah mereka nikmati di Jakarta. Kondisi yang tenang ,semilir angin sejuk dan suara gemericik air sungai memberi kedamaian menghilangkan sejenak suara berisik kebisingan kota Jakarta. Tiga hari dua malam kami menikmati kehidupan Baduy , hari begitu singkat tetapi ada pembelajaran yang kami pelajari kehidupan suku Baduy . Mereka sangat dekat dengan alam .Mereka peduli dengan alam dan bersatu dengan alam .Kelestarian alam dijaga dengan serasi tanpa mengganggu kehancuran alam sekitarnya.
Tahun 2001 dan 2002 SMAK IPEKA Tomang datang ke Baduy tetapi kondisi berbeda dengan kedatangan kami tahun 1996 karena Baduy sekarang sudah dijadikan cagar budaya .Dengan semakin banyaknya orang ingin datang ke Baduy menjadikan Baduy menjadi daya tarik wisatawan .Tentu ini berdampak terhadap infrastruktur untuk memenuhi akomodasi para pelancong .Sekarang sudah banyak agen travel yang menawarkan Baduy sebagai tempat wisata dengan berbagai fasilitas yang tersedia. Dampak negatif tentu bisa terjadi , suku Baduy dijadikan industri bisnis pariwisata dan akhirnya keaslian suku Baduy sebagai keanekaragaman budaya semakin lama akan semakin mengilang tertelan oleh waktu…(ABC)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar