![]() |
| Halimun telah menyapa |
"Jangan pernah menganggap belajar sebagai tugas, tetapi anggaplah sebagai kesempatan berharga untuk mempelajari sesuatu." (Albert Einstein)
Gunung Halimun merupakan gunung yang terletak di antara sebagian besar Kabupaten Bogor, juga Kabupaten Sukabumi, dan Kabupaten Lebak. Gunung dengan ketinggian sekitar 1.925 mdpl ini merupakan gunung tertinggi di provinsi Banten dan termasuk dalam wilayah Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Di sebelah timur gunung ini terdapat Gunung Salak. Nama Halimun berasal dari bahasa Sunda yang berarti "kabut".
| Gunung salak dari kejauhan |
Taman Nasional Gunung Halimun–Salak (TNGHS) adalah salah satu taman nasional yang terletak di Jawa bagian barat. Kawasan konservasi dengan luas 113.357 hektare ini menjadi penting karena melindungi hutan hujan dataran rendah yang terluas di daerah ini, dan sebagai wilayah tangkapan air bagi kabupaten-kabupaten di sekelilingnya. Dengan lingkup wilayah yang bergunung-gunung, dua puncaknya yang tertinggi adalah Gunung Halimun (1.929 m) dan Gunung Salak (2.211 m). Lebih dari 700 jenis tumbuhan berbunga hidup di hutan alam di dalam TNGHS,dan keberadaan beberapa jenis fauna penting yang dilindungi di sini seperti elang jawa, macan tutul jawa, owa jawa, surili, dan lain-lain. Kawasan TNGHS dan sekitarnya juga merupakan tempat tinggal beberapa kelompok masyarakat adat, antara lain masyarakat adat Kasepuhan Banten Kidul dan masyarakat Baduy.
| Siap bertempur |
Study lapangan SMAK IPEKA Tomang ke Halimun dilakukan dua kali yaitu tahun 2004 dan 2005 . Jarak Jakarta ke Halimun 98,2 km ditempuh dengan menggunakan bis selama dua jam turun di Jalan Raya Gunung Salak berhenti kemudian diganti dengan menggunakan L 300 Colt Mitsubishi ke desa Malasari dekat dengan Taman Nasional Gunung Halimun . Perjalanan membutuhkan dua jam sampai ke desa Malasari . Di desa Malasari kami disambut dengan perkebunan teh yang sangat luas . Sejauh mata memandang hamparan perkebunan teh menjadi daya tarik tersendiri . Setelah itu baru kami turun ke bawah menginjak desa Malasari tempat kami menginap tiga hari dua malam . Desa Malasari memiliki 6.470 Hektar atau 78% dari total luasan desa yang seluas 8.262,22 Hektar adalah Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Serta sebesar 971,22 Hektar atau 11.8% merupakan perkebunan teh Nirmala Agung dan sisanya sebagian besar merupakan persawahan dan kebun-kebun masyarakat. Desa Malasari menjadi obyek study lapangan karena memiliki tiga karakter yaitu hutan tropis dengan berbagai macam pesona flora dan fauna didalamnya, kawasan agro dengan pesona lansekap alam dan perilaku sosial budaya masyarakatnya menjunjung tinggi kearifan lokal dan budaya leluhur. Ketiga karakter ini menjadi obyek pengamatan bagi siswa untuk mencari informasi , mengkaji dan merumuskan hasil pengamatan sebagai hasil evaluasi dalam bentuk laporan sebagai prasyarat kelulusan siswa .
Selama tiga hari dua malam kami menginap di desa Malasari , hari pertama kami istirahat dan malamnya siswa IPA secara berkelompok pergi ke Taman Nasional Gunung Halimun yang jaraknya 1 km dari penginapan . Mereka berjalan berkelompok dengan cahaya lampu senter . Badan diselimuti jaket untuk menahan dinginnya malam dan gelapnya kabut . Terlihat dari kejauhan seperti hantu dewa api karena hanya terang lampu senter yang terlihat . Setelah sampai di Taman Nasional Gunung Halimun mereka disuruh mematikan lampu senter , mereka kaget dan tercengang memandang alam disekitarnya . Terlihat dengan jelas nyala api seperti lampu natal gemerlap memancarkan sinar di malam hari . Mereka mengadakan pengamatan Glowing Mushroom atau jamur menyala memiliki kemampuan bioluminescent yang dapat mengeluarkan cahaya hijau di malam hari untuk menarik serangga dalam membantu menyebarkan spora jamur. Jamur ini merupakan salah satu ikon flora Taman Nasional Gunung Halimun Salak, masyarakat setempat sering menyebutnya dengan sebutan “Supa Lumar” . Tentu ini pengalaman yang indah bagi siswa IPA memperkaya pengetahuan sambil mengamati secara lansung di lapangan bukan hanya berupa teori saja dalam kelas .
Hari ke dua , siswa dibagi menjadi dua kelompok yaitu jurusan IPA dan IPS . Siswa IPA ke Taman Nasional Gunung Halimun untuk mengadakan pengamatan di hutan lindung Halimun . Hutan Halimun adalah sebuah ekosistem yang dicirikan oleh tutupan pepohonan yang cukup rapat dengan Komposisi pohon tegakan yang terdiri atas semua jenis tumbuhan yang menonjol dengan beraneka ragam karakter. Dalam segarnya udara rimba, dapat menikmati aneka pohon berusia hingga sekitar 200 tahun dengan balutan lumut dan sulur liana yang mendompleng.Dari beberapa pohon yang bertumbangan akan ditemukan anggrek dengan umbi semu menutup hampir rata pohon tumbang dengan umbinya, di cabang pohon yang berdiri tegak atau dibawah kanopi pohon , keindahan tanaman anggrek hutan halimun yang laksana Laboratorium alam yang menyimpan sejuta anggrek. Tidak kurang dari 244 spesies burung dan 90 jenis diantaranya adalah burung yang menetap 27 spesies di antaranya adalah jenis endemik Pulau Jawa yang memiliki daerah sebaran terbatas seperti elang jawa (Spizaetus bartelsi), luntur jawa (Apalharpactes reinwardtii), ciung-mungkal jawa (Cochoa azurea), celepuk jawa (Otus angelinae), dan gelatik jawa (Padda oryzivora). Burung elang Jawa yang identik dengan lambang Negara Indonesia banyak di jumpai di Halimun . Di kawasan ini pula bermukim setidaknya, 16 jenis katak, 12 jeniskadal, 9 jenis ular, 77 jenis kupu-kupu, dan 37 jenis mamalia kecil, beberapa di antaranya adalah kelelawar yang tergolong dalam ordo Chiroptera. Halimun menjadi laboratorium alam untuk belajar kehidupan hayati sebagai tempat untuk memperkaya pengetahuan .
Mengkaji permasalahan masyarakat
Siswa IPS mengadakan pengamatan terhadap masyarakat desa Malasari .Dengan wawancara terhadap masyarakat Malasari ingin dikaji tentang perubahan masyarakat terhadap modernisasi dilihat dari pengaruh modernisasi tersebut . Tradisi pertanian masyarakat dengan berbagai aktivitas pendukung kegiatan bercocok tanam yang masih terjaga oleh hukum-hukum leluhur dengan apik pada keseharian penduduk Malasari. Akumulasi perilaku pertanian dapat terlihat dari beragam tradisi yang kerap menjadi hajatan tahunan seperti upacara seren taun serta sedekah bumi sebagai perlambang rasa syukur manusia terhadap Tuhan yang maha kuasa yang telah memberikan rezeki yang berlimpah melalui Bumi. Hal ini tentu menarik untuk dikaji dengan berbagai teori perubahan masyarakat yang telah dipelajari dalam kelas dalam pelajaran Sosiologi . Dengan demikian siswa dapat mengintegrasikan antara teori di kelas dengan fakta di lapangan .
Jam dua belas siang mereka kembali ke Base camp untuk makan siang dan sore hari jam tiga siap-siap untuk berjalan-jalan 7 km ke air terjun Curug Pi’it yang memiliki ketinggian + 70 meter, curahan airnya yang sejuk berwarna hijau tosca membentuk kolam besar berdiameter 10 meter dengan kedalamnya mencapai empat meter. Berjalan ke curug Pi’it melewati jalan perkebunan teh , sawah , sungai yang mengalir dengan jernihnya . Setelah sampai di air terjun badan lelah terbayar sudah dengan keindahan air terjun dan derasnya air membasahi tubuh memberi kesegaran yang tiada tara .
Perpisahan untuk sebuah kenangan
Esok hari jam delapan pagi , kami pamit dan kembali ke Jakarta . Sejuk angin pegunungan dan mentari bersinar memberi salam perpisahan untuk sebuah kenangan..[abc]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar