Mengenang guru teater... |
Kerjasama dengan Manahan berlanjut untuk menjadi pelatih teater maka mulailah di buka kelas ekstrakurikuler di SMAK IPEKA Tomang . Bu Mega dan sayapun mulai merancang untuk mengadakan pentas seni yang melibatkan semua siswa . Kalau dua tahun yang lalu siswa hanya sebagai penonton , sekarang siswa diberi peran untuk menampilkan seluruh talenta yang dimilikinya . Bu Mega akhirnya ditunjuk sebagai ketua dan saya sebagai sekretaris .Setengah tahun mulai dipersiapkan mulai dari musik , nyanyi , paduan suara , tari dan teater . Pentas seni baru pertama kali dilaksanakan sehingga tidak ada pengalaman untuk mulai mengerjakan . Namun dengan semangat , kerja keras dan doa pentas seni berjalan dengan sukses . Pertunjukan teater pertama mendapat sambutan hangat penonton . Pentas seni diadakan dua kali pertunjukan , pertama pagi untuk siswa sedangkan malam untuk umum .Diakhir pertunjukan dipentaskan Ello sebagai pamungkas acara pentas seni .
Teater menjadi bunga semerbak sehingga banyak kumbang mendekat . Tanggal 4 April 2007 berdirilah Teater Tomang ( TETO ) , mulailah melangkah kaki ke depan . Banyak siswa yang menjadi anggota dan latihan mulai keras dijalankan . Manahan dengan beberapa anggota teater SIM menggembleng dengan disiplin . Hasilnya setiap pementasan di GBB TIM Jakarta selalu mendapat sambutan dan pujian yang positif . .Dalam perjalanannya TETO mulai mengikuti Festival Teater Pelajar se-Jabodetabek . Mengikuti Festival teater pelajar pertama tidak menghasilkan apa-apa . Tetapi ada keberanian untuk tampil di muka publik . Festival ini diselenggarakan di Bulungan Jakarta Selatan . Tempat ini sebagai wahana seniman Jakarta untuk mengekspresikan diri .
Tahun 2011 , TETO mulai unjuk gigi . Semua kategori penilaian juri disabet bersih sehingga menjadikan TETO mendapat predikat teater pelajar terbaik se-Jabodetabek . Perjalanan empat tahun , sejak 2007 ternyata tidaklah sia-sia . Selama itulah TETO menjadi trade mark sekolah kami . Ketika orang luar mengatakan TETO maka yang ada dibenak mereka adalah SMAK IPEKA Tomang . Inilah bagian dari promosi untuk menjaring siswa baru .
Hari Minggu , 8 November 2015 Manahan Hutauruk dipanggil Tuhan . Dunia seni Tanah Air kembali berduka di awal November. Pendiri Teater SIM (Suara Inspirasi Muda) yang berdiri pada 17 Agustus 1993, Manahan Hutauruk tutup usia. Pria kelahiran 8 Juli 1973 itu meninggal dunia karena penyakit jantung.
"Telah berpulang seniman Teater indonesia manahan hutauruk pendiri Teater SIM, meninggal pada hari Minggu dini hari karena terkena serangan jantung dan disemayamkan di TPU PONDOK RANGGON jam 14.00," demikian keterangan dari salah seorang sahabat, Teguh Priahanto kepada detikHOT, Senin (9/11/2015). Berita ini tentu menyedihkan semua orang termasuk TETO yang telah dibimbing sejak awal sampai tutup usia . Bertahun-tahun kak Aan sebutan anak-anak anggota TETO telah menjadi pembimbing , pelatih ,kakak dan guru . Terdengar lengkingan suara keras bang Manahan kalau marah atau pujian menepuk pundak karena puas dengan pementasan menjadi kenangan yang tidak bisa dilupakan oleh para anggota TETO.
Generasi di TETO |
Sepeninggalnya Manahan almarhum , tentu belum ada pelatih pengganti tetapi ada teman-temanya yang seperti Deo assisten sutradara dan Grace alumni yang mendampingi TETO untuk tetap berlatih . Untuk mengenang almarhum Manahan dipentaskan acara TRIBUTE TO MANAHAN ! Acara ini dipersembahkan oleh Teater SIM & Teater Teladan dalam bentuk gabungan kolase dari karya alm. Manahan Hutauruk yang dibawakan oleh teater-teater SLTA yang dibimbing beliau. Persembahan ini dalam rangka mengenang karya dan jasa guru tercinta dengan naskah-naskah terbaik dalam tajuk -TAWA MANAHAN- . Diikuti oleh 5 teater SLTA di Jakarta yaitu Teater Atella,Teater Bias,Teater Nalatar , Teater Patlapiti dan Teater Teto . Acara Sabtu , 9 April 2016 di GRJS Bulungan , Jakarta Selatan .Saat itu saya, ibu Lydia, ibu Mega dan ibu Eunike nonton teater Teto sepeninggalnya almarhum Manahan. Melihar sejarah berdirinya TETO tidak lepas peran Bu Mega , kalau tidak ada keberanian dan perjuangan bu Mega tentu kehadiran TETO tidak pernah ada .
Masa indah di IPTO |
Pertentangan dan tantangan menjadi asisten kesiswaan tentu menjadi pergumulan tersendiri bagi bu Mega . Perbedaan pendapat guru bisa menjadi konfik , kritik dan masukan dari orang tua siswa menjadi pertimbangan untuk menentukan sebuah keputusan dan siswa sering kali tidak konsultasi dengan guru menjadi permasalahan tersendiri. Hal ini menjadi materi untuk disharingkan dan didiskusikan antara Bu Mega dengan saya . Pernah suatu kali kami diskusi tentang hal itu di warung mie di daerah dekat stasiun Mangarai , sambil menikmati mie kamipun mendiskusikan tentang pergumulan Bu Mega di sekolah . Sebagai sahabat dan sesama guru tentu saya memahami tugas Bu Mega cukup berat tetapi itu semua itu harus dijalani dengan baik . Kritikan , pendapat atau mungkin cacian itu menjadi bagian yang harus kita terima dengan legawa dan hati bersih . Menjadi pemimpin harus melayani , bukan dilayani . Tentu itu bukan nasehat tetapi hanya saran sebagai seorang sahabat . Saya tidak tahu ,apakah Bu Mega menerima saran saya tetapi di lihat raut wajahnya ada keceriaan dan semangat untuk melangkah mencapai impian .
Bersama murid , belajar bersama |
Tahun 2014 ketika Bu Juni menjadi kepala sekolah , Bu Mega pindah pelayanan ke SMA K IPEKA Puri . Saat itu tidak pernah ketemu lagi , bertemu kalau ada acara seperti seminar , retret atau rekreasi bersama .
Keluarga bahagia |
Hampir 15 tahun saya bersahabat dengan Bu Mega. Banyak cerita dan peristiwa kita lalui bersama. Dialog , diskusi dan sharing sering kita lakukan bersama . Biarlah waktu yang menilai tentang jejak langkah kaki sejarah bersama IPTO.
Sekarang Bu Mega hidup berbahagia penuh berkat dengan suami dan ketiga putrinya Diwa telah lulus Jurusan Fisika ITB Bandung , Audrey telah lulus dari Kedokteran Unisri Palembang dan si bungsu Charlena masih duduk di sekolah dasar .(abc)