Cari Blog Ini

Kamis, 15 April 2021

Pancasila dihapus sebagai pelajaran wajib

           
foto : Inpas.Online.com

             Webinar siaran pers yang diselenggarakan oleh PUSAT STUDI PANCASILA UNIVERSITAS GADJAH MADA mengenai Peraturan Pemerintah (PP) No. 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan tanggal 15 April 2021 menjadi topik viral di wa MGMP PKN Jakarta Barat .Guru-guru mulai menanyakan tentang PP No.57 Tahun 2021 yang menyatakan telah menghilangkan Pancasila sebagai materi dan muatan wajib kurikulum mulai dari jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Hal ini tertuang dalam pasal 40 ayat 2 dan 3 yang menyebutkan, kurikulum pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi hanya wajib memuat pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, dan bahasa. Wajar saja para guru menanyakan PP N0.57 tahun 2021 apabila dikaitkan dengan kondisi sekarang dengan berkembangnya radikalisme dan intoleransi di lingkungan masyarakat bahkan sudah sampai di lngkungan pendidikan .Menghapus pendidikan Pancasila dalam standard kurikulum sebagai pelajaran dan mata kuliah wajib menimbulkan banyak pertanyaan mengenai penyebabnya. Tetapi dengan tidak disebutkannya Pancasila sebagai pelajaran atau mata kuliah wajib pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dan pendidikan tinggi dalam standard kurikulum pendidikan di PP 57/2021 memberikan petunjuk tentang tiadanya penghargaan atas pengertian penting sejarah Pancasila bagi pembentukan identitas, dan cara hidup bersama yang terbaik sebagai warga negara. Kebijakan dalam PP 57/2021 terkait Pancasila karena itu merefleksikan pengambilan keputusan tanpa informasi lengkap dan tanpa pertimbangan yang mendalam (neither well-informed nor thoughtful) dan mencerminkan sikap yang tidak bertanggungjawab terhadap Pancasila.         
  Dengan latar belakang tersebut di atas , Pusat Studi Pancasila Universitas Gajah Mada mengeluarkan siaran pers yang menyatakan :  1) Pendidikan sangat berkepentingan dalam pengembangan karakter, etika, dan integritas pada anak didik. Sementara Pancasila menempati posisi unik, mengandung nilai yang kaya akan sejarah dan bermakna dalam memberi sumbangan bagi pemikiran masa depan, karena Pancasila adalah nilai moral dan basis pendidikan kewarnegaraan. "Nilai moral" mengungkapkan apa yang dianggap penting oleh warga negara dalam hidup mereka dan kehidupan bersama orang orang yang berbeda.  2) Terbitnya PP 57/2021 tentang Standar Nasional Pendidikan telah menghilangkan Pancasila sebagai materi dan muatan wajib kurikulum mulai dari jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Hal ini tertuang dalam pasal 40 ayat 2 dan 3 yang menyebutkan, kurikulum pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi hanya wajib memuat pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, dan bahasa  3) Konsideran mengingat PP 57/2021 tidak memuat dan merujuk sama sekali UU No.12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, tetapi hanya merujuk UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Sudah kita ketahui bersama bahwa dalam UU No. 20 tahun 2003 di Pasal 37, baik di ayat 1 untuk Kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah, maupun ayat 2 untuk kurikulum Pendidikan Tinggi, tidak memuat secara khusus dan penyebutan secara eksplisit tentang Pendidikan Pancasila.    4) Konsideran mengingat PP 57/2021 ini tidak merujuk prinsip lex specialis UU No.12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi dalam Pasal 35 ayat 3 butir c, yang secara jelas menyebutkan kurikulum Pendidikan Tinggi wajib memuat mata kuliah Pancasila. Atau kalau mau merujuk UU No. 20 tahun 2003, di BAB I Ketentuan Umum dalam Pasal 1 ayat 2 yang berbunyi: “Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik 3 Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman”.  5) Menghapus pendidikan Pancasila sebagai kurikulum wajib, apalagi hanya Pancasila saja yang dihapus merupakan tindakan yang berbahaya karena potensial mengubur Pancasila dalam upaya Pembudayaan Pancasila melalui jalur Pendidikan Nasional. Secara politik, jika agama dan kewarganegaraan adalah penting dan diwajibkan, maka penghapusan Pancasila adalah menghapus landasan sebagai nilai moral. Maka hal ini akan membayakan bagi masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
            Berdasarkan pada latar belakang dan hasil konsultasi yang telah dilakukan Pusat Studi Pancasila UGM, maka diperoleh rekomendasi dan tindak lanjut sebagai berikut: 
         1) Pusat Studi Pancasila UGM meminta Pemerintah untuk membatalkan Peraturan Pemerintah No. 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan dan atau merevisi Pasal 40 muatan kurikulum di berbagai jenjang pendidikan.   2) Pusat Studi Pancasila UGM merekomendasikan untuk melakukan uji materi (judicial review) terhadap pasal-pasal yang tidak relevan dalam mendukung kemajuan pendidikan karakter bangsa yang tertuang UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 3) Pusat Studi Pancasila UGM mengajak segenap elemen bangsa, para relawan advokat/lawyer, para ahli untuk bahu membahu bersama dengan guru, dosen, pendidik, dan pegiat Pancasila di tanah air untuk bergabung mewujudkan uji materi ke Mahkamah Agung Republik Indonesia. Tentu saya sebagai guru mendukung tentang siaran pers ini untuk bersama-sama berjuang mewujudkan uji materi ke Mahkamah Agung Republik Indonesia agar pendidikan Pacasila menjadi pelajaran wajib mulai dari pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi .(abc)

Sabtu, 03 April 2021

PASKAH

Foto : https://detiks.github.io

 

" Tetapi andai kata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sia jugalah kepercayaan kamu." (1Kor.15:14).



Paskah (bahasa Latin: Páscha, bahasa Yunani: Πάσχα, Paskha; bahasa Aram: פַּסחא‎ Pasḥa; dari bahasa Ibrani: פֶּסַח Pesaḥ adalah perayaan terpenting dalam tahun liturgi gerejawi Kristen. Bagi umat Kristen, Paskah identik dengan Yesus, yang oleh Paulus disebut sebagai "anak domba Paskah"; jemaat Kristen hingga saat ini percaya bahwa Yesus disalibkan, mati dan dikuburkan, dan pada hari yang ketiga,  bangkit dari antara orang mati. Paskah merayakan hari kebangkitan tersebut dan merupakan perayaan yang terpenting karena memperingati peristiwa yang paling sakral dalam hidup Yesus, seperti yang tercatat di dalam keempat Injil di Perjanjian Baru. Perayaan ini juga dinamakan Minggu Paskah, Hari Kebangkitan, atau Minggu Kebangkitan. 

Dalam Paskah Kristen, Yesus adalah persembahan itu sendiri, menggantikan anak domba.  Dia adalah Anak Domba yang dipersembahkan Allah untuk keselamatan manusia. Anak Domba itu telah dibantai. Darah-Nya  ditumpahkan di kayu salib untuk membebaskan manusia dari kuasa dosa dan belenggu maut.

Pagi hari setelah tiga malam dikuburkan atau sehari setelah  hari Sabat, Maria Magdalena, Maria yang lain, dan Yohanes, murid-Nya, ke kubur Yesus. Di sana mereka menemui kubur yang kosong. Batu penutup pintu kubur telah tergeser,  kubur terbuka, dan malaikat Tuhan duduk di atas batu penutup kubur. Penjaga ketakutan dan tak berdaya seperti orang mati. Mereka yang datang ke kubur pun gemetar ketakutan. "Janganlah kamu takut, sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring," kata Malaikat.

 Malaikat itu minta mereka segera  pergi untuk menyampaikan kabar gembira itu kepada murid-murid-Nya, bahwa Yesus telah bangkit dari antara orang mati. "Ia mendahului kamu ke Galilea, di sana kamu akan melihat Dia," ujar Malaikat. Inilah  kabar tentang kebangkitan Yesus dan mereka baru menyadari tentang perkataan Yesus bahwa setelah tiga hari akan bangkit dari kematian .

Tiada kebangkitan tanpa salib atau penderitaan dan kematian di kayu salib.  Karena itu, salib bagi orang Kristen merupakan simbol paling hakiki. Salib bukan tanda kekalahan, melainkan simbol kemenangan. Salib bukan hanya dilihat sebagai beban tugas dan tanggung jawab yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh,  tapi  juga simbol  pembebasan.

Kebangkitan adalah kabar paling penting bagi manusia. Bahwa badan yang binasa oleh kematian akan bangkit. Umat Kristen percaya pada kebangkitan badan dan kehidupan kekal. Tubuh yang telah  bangkit sama seperti tubuh Yesus, yang tidak terikat pada ruang dan waktu. Tubuh yang telah dirohanikan. Tubuh yang bisa berada di beberapa tempat sekaligus karena mengatasi ruang dan waktu. Setelah bangkit, Yesus menampakkan diri kepada para murid-Nya di berbagai kesempatan. Satu saat, ketika para murid-Nya sedang berkumpul di sebuah ruang terkunci, tiba-tiba Yesus sudah berada di tengah mereka.

"Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi.  Pada waktu itu,  datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu! " "Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya   kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita  ketika mereka melihat Tuhan. Maka kata Yesus sekali lagi,  Damai sejahtera bagi kamu!" (Yohanes 20:19 )

Apa artinya semua ini  bagi kita ? Paskah telah membebaskan diri kita dari belenggu dosa dan kuasa maut. Dan itu hanya mungkin kalau kita mempunyai hati yang baru. Hati yang bersedia membebaskan sesama yang menderita. Selamat hari paskah , semoga kasih paskah membebaskan kita  dari kuasa dosa …(abc)







Kamis, 01 April 2021

Jum'at Agung

foto : orami.co.id


 Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring:  "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu  Kuserahkan nyawa-Ku  . " Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya. ( Lukas 23 : 26)


Kesengsaraan dan kematian Tuhan Yesus sudah dinubuatkan oleh para Nabi . Dr.Stephen Tong dalam bukunya 7 Perkataan Salib , Penerbit  Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta 1995 menyatakan sepuluh nubuat yang besar tentang kematian Kristus sudah tergenapi dalam satu hari. Sepanjang seribu tahun sebelum Kristus lahir ke dunia, sudah ada nubuat-nubuat tentang bagaimana Dia akan mati. Salah satunya adalah Nabi Yesaya  tujuh ratus tahun yang  sudah menulis tentang kesengsaraan Mesias  . Dalam Yesaya 53 : 3-5 tertulis  53: 3 Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan   dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina,  sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. 53:4 Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya , dan kesengsaraan  kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas  Allah. 53:5 Tetapi dia tertikam   oleh karena pemberontakan  kita  , dia diremukkan   oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan   bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh . Penderitaan Kristus sudah dinubuatkan kira-kira tujuh ratus tahun sebelumnya dan itu digenapkan dalam Matius 26:67-68; 27:30. 

Hari-hari kesengsaraan dan kematian Tuhan Yesus sudah diceritakan dan dikabarkan kepada orang-orang dan murid-muridNya . Tetapi mereka tidak tahu , salah paham dan tidak mengerti sampai pada akhirnya peristiwa itu terjadi dan mereka baru menyadari tentang kebenaran Kristus . Orang Farisi  Saduki dan bangsa Yahudi tidak percaya akan kedatangan Mesias yang lemah dan disalibkan . Mereka percaya akan kedatangan Mesias dengan gagah , naik kuda dan siap berperang untuk melawan penjajahan dari bangsa Romawi . Bukan seorang penista agama sehingga layak untuk dihukum mati sebagai  penjahat dengan hukum disalibkan . Saat itu hukum salib merupakan hukuman bagi seorang penjahat yang besar . Setelah diadili oleh Mahkamah Agung kemudian Yesus  diserahkan kepada Raja Herodes , saat itu Raja Herodes dengan gubernur Pontius Pilatus tidak akur tetapi ketika Yesus diadili mereka menjadi sepakat untuk menghukum Yesus . Pontius Pilatus cuci tangan  dan menyerahkan hukuman kepada massa . Salibkan Dia dan bebaskan Barabas seorang penjahat besar teriak massa yang sebelumnya di Minggu Palma mereka memuji Hosana bagi Raja di Yerusalem . Dengan darah bercucuran , tubuh luka dicabuk dan mahkota duri di kepala Yesus memikul dan memanggul salib menuju Golgota bukit  tengkorak tempat penghukuman untuk menebus dosa manusia . 

Kira-kira  jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga,   sebab matahari tidak bersinar. Dan tabir Bait Suci  terbelah  dua.  Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring:   "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku  . " Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya.  Ketika kepala pasukan melihat apa yang terjadi, ia memuliakan Allah, katanya: "Sungguh, orang ini adalah orang benar!" . Itulah kesaksian Injil Lukas yang menyatakan Yesus mati untuk kita peringati bersama di hari Jum’at Agung ini…(abc)


Rabu, 31 Maret 2021

Kamis Putih...

 

Foto : SIGNO TEMPORUM Wordpress.com

13: 1 Sementara itu sebelum hari raya Paskah  mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba  untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa.  Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya. 13:2 Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisik kan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia.  13:3 Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya   dan bahwa Ia datang dari Allah   dan kembali kepada Allah. 13:4 Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya,  13:5 kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya  lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. 13:6 Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: "Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?" 13:7 Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak.  " 13:8 Kata Petrus kepada-Nya: "Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya." Jawab Yesus: "Jikalau Aku tidak membasuh engkau  , engkau tidak mendapat bagian dalam Aku." 13:9 Kata Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!" 13:10 Kata Yesus kepadanya: "Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih,  hanya tidak semua.  " 13:11 Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: "Tidak semua kamu bersih." 13:12 Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? 13:13 Kamu menyebut Aku Guru  dan Tuhan,   dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. 13:14 Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu  ;   13:15 sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.   13:16 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya,   ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya. 13:17 Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.   13:18 Bukan tentang kamu semua   Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih.  Tetapi haruslah genap nas ini:  Orang yang makan roti-Ku,  telah mengangkat tumitnya  terhadap Aku.  13:19 Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya,   bahwa Akulah Dia.  13:20 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku. ( Yohanes 13 : 1 - 20 )


Kamis Putih adalah hari Kamis sebelum Paskah, pada Hari Raya Pekan Suci ini umat Kristen mempunyai tradisi memperingati Perjamuan Malam terakhir yang dipimpin oleh Yesus. Saat itu Yesus membasuh kaki muridNya sebelum mengalami penderitaan disalib untuk menebus dosa manusia . Dalam Injil Yohanes diceritakan tentang peristiwa pembasuhan tersebut dan tidak terdapat dalam Injil sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas) lainnya. Pembasuhan  kaki adalah hal yang sudah biasa dilakukan oleh orang Yahudi pada zaman Yesus. Kaki adalah bagian yang kotor dalam tubuh manusia. Kaki manusia menginjak debu tanah. Pembasuhan merupakan sebuah bentuk dari simbolisasi tata gerak. Proses pembasuhan kaki itu biasanya dilakukan oleh bawahan terhadap atasan. Dalam dunia Yunani, pembasuhan kaki adalah hal yang hina, yang biasa dilakukan oleh budak.

Namun apa yang dilakukan oleh Yesus saat itu . Yesus adalah Guru yang mau melakukan pembasuhan kaki kepada kedua belas muridNya . Sebuah ritual yang yang seharusnya tidak layak dilakukan oleh seorang Guru . Tata gerak membasuh kaki ini menyimbolkan suatu teladan untuk merendahkan diri dan melayani.

Tindakan Yesus membasuh kaki merupakan tindakan simbolis yang menyimbolkan penyerahan diri, pembersihan, pengampunan, pembaharuan, kemuridan dan ibadah. Penyerahan diri yang dimaksudkan adalah penyerahan diri Yesus dalam kematian untuk "menebus dosa / membersihkan" orang lain. Pembasuhan kaki yang Yesus lakukan juga menyimbolkan kerendahan hati dan keinginan untuk menjadi "hamba" yang mau melayani orang yang hina sekalipun.

Seorang pemimpin haruslah melayani bagi sesama ,bukan jabatan , kekuasaan dan kekayaan tetapi merendahkan diri untuk menjadi pelayan seperti Yesus mau menjadi hamba  untuk melayani sesama . Sangat sulit untuk dilakukan pada masa sekarang , bagaimana sekarang banyak orang dengan segala macam cara untuk mencari kekuasaan , jabatan dan popularitas . Ada ketamakan dalam dirinya setelah menguasai , ingin menguasai lebih jauh lagi sebelum semuanya dikuasai. Menjadi hamba dengan merendahkan diri adalah suatu kesadaran bahwa kita pelayan untuk melayani bagi sesama . 

Banyak hal yang bisa kita pelajari dari Kamis Putih ini. Kita bisa belajar tentang pelayanan, kerendahan hati, kebersamaan, dan kesederhanaan. Selain itu, kita bisa mempelajari bahwa Yesus dalam bentuk manusia bisa sedih. Dalam Kamis Putih, kita juga tahu bahwa Yudas Iskariot mengkhianati Yesus. Peristiwa-peristiwa yang terjadi selama makna Kamis Putih, antara lain adalah: Perjamuan Kudus , Peristiwa Pembasuhan ,Yesus berdoa di Taman Getsemani kepada Bapa , Yudas Iskariot mengkhianati Yesus , Petrus memotong kuping seorang prajurit dan Yesus menyembuhkan kupingnya.  Kamis Putih merupakan peristiwa  menjelang kesengsaraan Yesus sebelum disalibkan untuk menebus dosa manusia . Mari kita peringati peristiwa ini dengan kesadaran untuk mengenang kesengsaraan Tuhan Yesus….(abc)



Minggu, 28 Maret 2021

Kembali ke PMP ...

Foto: siedoo.com

  
Pendidikan Moral Pancasila (PMP) didengungkan lagi untuk menjadi mata pelajaran mengantikan PPKn yang sekarang masih menjadi mata pelajaran di kurikulum tingkat SD s/d SLTA . Pengantian ini tentu dilatarbelakangi oleh ancaman ideologi yang sekarang mulai dirasakan dikalangan masyarakat. Fenomena ancaman ideologi terlihat begitu maraknya kasus intoleransi dan paham radikalisme di masyarakat  bahkan menjalar ke tingkat pendidikan . Hasil kajian Bambang Pranowo yang juga seorang antropolog pada tahun 2011, menyebutkan 50 persen mahasiswa terpapar paham radikalisme dan intoleransi. Selain itu, terdapat 84 persen pelajar dan 21 persen guru setuju jika Pancasila sudah tidak relevan lagi dan setuju dengan penegakkan syariat Islam di Indonesia. Berdasarkan hasil temuan Komnas HAM tahun 2012-2018 kecenderungan sikap intoleransi ini sudah di atas 50 persen, dari yang tadinya baru 20-an persen. Ada kondisi yang meningkat terus sejak 2012 hingga 2018. Kecenderungan ini tentu perlu ada pengawasan dan penindakan dari instansi yang terkait . Tetapi yang lebih penting bagaimana pendidikan karakter bisa menjawab ancaman ini? Pendidikan  karakter adalah suatu usaha manusia secara sadar dan terencana untuk mendidik dan memberdayakan potensi peserta didik guna membangun karakter pribadinya sehingga dapat menjadi individu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungannya. Pendidikan karakter (character education) sangat erat hubungannya dengan pendidikan moral dimana tujuannya adalah untuk membentuk dan melatih kemampuan individu secara terus-menerus guna penyempurnaan diri kearah hidup yang lebih baik.  Dengan demikian diharapkan PMP menjadi pendidikan karakter untuk menjawab ancaman tersebut .
        Pertama kali PMP di sekolah diatur dalam Kurikulum 1975 yang merupakan amanat Ketetapan MPR No. IV tahun 1973 (tentang GBHN) .  Sesuai dengan ketetapan tersebut, pemerintah menetapkan bahwa setiap warga negara wajib menyimak materi pendidikan moral yang bernama Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4).Di sekolah, PMP diatur dalam Kurikulum 1975. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia memastikan setiap sekolah mendapatkan materi PMP sebagai pengganti pelajaran Civics. Sebagaimana P4, PMP memiliki dasar konstitusional karena berlandaskan pada TAP MPR 1973 yang kemudian disempurnakan pada tahun 1978 dan 1983.  Dalam TAP MPR 1983 dengan jelas tertulis “Untuk mencapai cita-cita [pembangunan jangka panjang], maka kurikulum di semua tingkat pendidikan mulai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta harus berisikan Pendidikan Moral Pancasila,”  
        Dengan demikian PMP menjadi mata pelajaran yang bertujuan menanamkan doktrin ideologi Pancasila secara sistematis pada masa Orde Baru.  Menurut Doni Koesoema dalam Pendidikan Karakter (2007: hlm 50), langkah ini sangat tepat karena berhasil menyatukan watak bangsa Indonesia di bawah pemerintahan tunggal.

Kritikan terhadap PMP
          Implementasi pelajaran PMP juga menuai kritik. Darmaningtyas dalam Pendidikan yang Memiskinkan (2004: hlm. 10) menyebut bahwa pergantian pelajaran Civics ke PMP memiliki implikasi politik yang cukup besar. Pelajaran Civics pada praktiknya dianggap tidak berkontribusi kepada penguasa sehingga patut diganti.
Sebaliknya, mata pelajaran PMP justru dinilai dapat membendung sikap kritis siswa sekolah. Melalui cara ini, para siswa didoktrin sejak dini kepada ideologi yang sesuai kehendak rezim. Sepanjang pelaksanaannya, kurikulum Orde Baru yang sentralistik menghasilkan model pengajaran PMP yang hanya berputar pada sistem hapalan butir-butir Pancasila tanpa disertai pemahaman yang dalam.
          Lebih jauh Darmaningtyas menyatakan bahwa “Mata pelajaran PMP tekanannya hanya menjadi orang yang taat dan patuh pada ideologi negara saja, tapi tidak pernah diperkenalkan dengan hak-haknya. Maka wajar bila kemudian produk pendidikan yang lahir dari mata pelajaran PMP ini adalah orang-orang yang taat, takut, dan sekaligus pengecut, tidak kritis, serta tidak memiliki prinsip sendiri.”
    Perubahan Kurikulum 1975 menjadi Kurikulum 1984 secara tidak langsung juga menimbulkan masalah bagi pelaksanaan kegiatan pengajaran PMP. Kekacauan ini timbul karena upaya Nugroho Notosusanto, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1983-1985), yang bersikeras memasukkan pelajaran Pendidikan Sejarah dan Perjuangan Bangsa (PSPB) ke dalam Kurikulum 1984.
      Materi baru ala Nugroho ini menimbulkan kontroversi karena dinilai tumpang tindih dengan pelajaran Sejarah Nasional dan PMP. Setelah Nugroho wafat pada tahun 1985, kekacauan dalam mata pelajaran PMP baru diakui oleh Fuad Hassan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru.
“Terus terang saya katakan, saat ini terjadi tumpang tindih antara P4, PSPB, PMP, dan Sejarah Nasional. Tumpang tindih tersebut akan mengakibatkan hilangnya waktu yang bisa dipakai untuk keperluan lain, atau mendesak mata pelajaran lain,” kata Fuad seperti dikutip Kompas (11/9/1985).
     Beban yang ditanggung para murid sebagai dampak politik pendidikan kian bertambah. Mereka tak hanya wajib mempelajari PMP, tapi juga harus mengikuti penataran P4 yang ditetapkan sebagai kegiatan wajib oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sejak tahun 1982. Dalam Penjelasan Ringkas tentang Pendidikan Moral Pancasila (1982), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjelaskan bahwa “Hakikat PMP tiada lain adalah pelaksanaan P4 melalui jalur pendidikan formal. Di samping pelaksanaan PMP di sekolah-sekolah, di dalam masyarakat umum giat diadakan usaha pemasyarakatan P4 lewat berbagai penataran.”

PMP yang mana ?
           PMP kembali menjadi pembicaraan hangat di kalangan pendidik sejak tahun lalu. Pada November 2018 seperti dilansir CNN Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mewacanakan untuk kembali menghidupkan pelajaran PMP di sekolah.
Supriano selaku Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan menegaskan, rencana tersebut disusun sebagai respons terhadap kemunculan paham radikalisme dan paham-paham lain yang bertentangan dengan Pancasila.
        Pada Oktober 2019, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menegaskan tentang akan diterapkannya kembali pelajaran PMP. Menurutnya, rencana ini akan direalisasikan pada tahun 2020 dengan mengadopsi konsep pembelajaran yang baru. Baru- baru ini juga Bambang Soesatyo ( Bamsoet ) ketua MPR RI mengatakan bahwa pelajaran PMP perlu dijadikan pelajaran wajib mulai dari tingkat taman kanak-kanak , SD , SMP, SMA sampai dengan Perguruan Tinggi .
Tidak sedikit yang mendebat keputusan pemerintah yang memisahkan materi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dengan Pendidikan Pancasila. Pasalnya, Pendidikan Pancasila sangat rawan dijadikan “alat untuk melanggengkan kekuasaan melalui cara-cara indoktrinasi nilai-nilai Pancasila dan manipulasi terhadap makna demokrasi yang sebenarnya.”
Pernyataan yang dikemukakan oleh Ahmad Ubaedillah, pakar Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam Pendidikan Kewarganegaraan Pancasila, Demokrasi dan Pencegahan Korupsi (2006: hlm. 7) itu secara khusus menjadikan Orde Baru sebagai contoh kasus. Lebih jauh, Ubaedillah mengkritisi jalannya pendidikan Pancasila di bawah rezim Soeharto yang tidak lebih dari sekadar instrumen pelanggengan kekuasaan.
     Kegagalan PMP hasil peninggalan Orde Baru menjadi pembelajaran bagi kita jangan sampai menjadi alat politik untuk melanggengkan kekuasaan dengan cara indokrinasi dan manipulasi terhadap makna demokrasi .  Kita perlu mendidik anak bangsa dengan mencari kebenaran hakiki untuk menyosong masa depan yang lebih baik. 

Bagaimana dengan PMP sekarang ?
Belajar dari kegagalan PMP pada jaman Orde Baru menjadi pelajaran berharga bagi kita .Tentu PMP bukan menjadi alat indoktrinasi untuk melegangkan kekuasaan melainkan menjadi pendidikan karakter (character education) bagi generasi muda. Generasi milinial sekarang tidak perlu lagi diindokrinasi secara paksa untuk menghafal nilai-nilai Pancasila tetapi di beri pemahaman secara rasional tentang nilai-nilai Pancasila sehingga nilai-nilai itu mengkristal dalam diri generasi muda dan sampai akhirnya menjadi pedoman untuk melaksanakan dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat . Tentu ini semua membutuhkan keteladanan dari semua pihak , mulai dari pejabat negara, lembaga negara , pemuka agama , guru sampai dengan keluarga di rumah sehingga bukan hanya perkataan saja di mulut tetapi benar-benar dilakukan dalam kehidupan sehari-hari .Untuk itu generasi muda akan melihat tentang kelakuan orang tua yang menjadi teladan bagi generasi mudanya.Semoga ! (abc)



Sabtu, 27 Maret 2021

Minggu Palma

Foto : www.SantoAlbertus.com


12:12 Keesokan harinya ketika orang banyak yang datang merayakan pesta mendengar, bahwa Yesus sedang di tengah jalan menuju Yerusalem, 12:13 mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: "Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan,   Raja Israel !  " 12:14 Yesus menemukan seekor keledai muda lalu Ia naik ke atasnya, seperti ada tertulis: 12:15 "Jangan takut, hai puteri Sion, lihatlah, Rajamu datang, duduk di atas seekor anak keledai.  " 12:16 Mula-mula murid-murid Yesus tidak mengerti akan hal itu,  tetapi sesudah Yesus dimuliakan,   teringatlah mereka, bahwa nas itu mengenai Dia, dan bahwa mereka telah melakukannya juga untuk Dia. 12:17 Orang banyak yang bersama-sama dengan Dia  ketika Ia memanggil Lazarus keluar dari kubur dan membangkitkannya dari antara orang mati, memberi kesaksian tentang Dia. 12:18 Sebab itu orang banyak itu pergi menyongsong Dia, karena mereka mendengar, bahwa Ia yang membuat mujizat itu.  12:19 Maka kata orang-orang Farisi seorang kepada yang lain: "Kamu lihat sendiri, bahwa kamu sama sekali tidak berhasil, lihatlah, seluruh dunia datang mengikuti Dia. ( Yohanes 12:12-19 )


Minggu Palma adalah hari peringatan dalam liturgi gereja Kristen yang selalu jatuh pada hari Minggu sebelum Paskah. Perayaan ini merujuk kepada peristiwa yang dicatat pada empat Injil, yaitu Markus 11:1-11, Matius 21:1-11, Lukas 19:28-44 dan Yohanes 12:12-19. Dalam perayaan ini dikenang peristiwa masuknya Yesus ke kota Yerusalem sebelum Ia disalibkan. Masuknya Yesus Kristus ke kota suci Yerusalem adalah hal yang istimewa, sebab terjadinya sebelum Yesus mati dan bangkit dari kematian. Itulah sebabnya Minggu Palma disebut pembuka pekan suci, yang berfokus pada pekan terakhir Yesus di kota Yerusalem.

Daun palem adalah simbol dari kemenangan. Dalam Injil, kata "daun-daun palem" hanya dikatakan dalam Injil Yohanes (12:13). Injil-injil lain sama sekali tidak menyebut "daun-daun palem". Injil Matius menyebut "ranting-ranting dari pohon-pohon" (Mat 21:8), Injil Markus menyebut "ranting-ranting hijau yang mereka ambil dari ladang" (Mrk 11:8), dan Injil Lukas sama sekali tidak menyebut ranting. Tetapi ketiga Injil tersebut menyebutkan tentang "menghamparkan pakaian". 

Dari Injil Yohanes inilah lahir nama Minggu Palma. Nama Minggu Palma digunakan karena menunjukkan makna peristiwa yang terjadi pada saat Yesus dielu-elukan di Yerusalem. Dalam tradisi Yahudi, daun-daun palem merupakan lambang kemenangan (Why 7:9; bdk Im 23:40). Menghamparkan daun palem (dan ranting serta pakaian) di jalan Yesus melambangkan harapan masyarakat Israel waktu itu bahwa Yesus akan menjadi Mesias bangsa Israel yang membawa kemenangan dan pembebasan. Pandangan atas Yesus ini sesuai dengan Za 9:9, yang menafsirkan kedatangan Mesias sebagai Raja dengan menunggang keledai dan membawa damai dan kemenangan. 

Tanda profetis Yesus sebagai Mesias ini ditunjukkan oleh penggunaan daun palem dan fakta bahwa Yesus, setelah tiba di Yerusalem, langsung mengunjungi Bait Allah. Palem dan kunjungan Bait Allah digambarkan juga dalam 1 Mak 13:51. Karena itulah, orang banyak melontarkan seruan mesianis kepada Yesus : "Diberkatilah Dia yang datang atas nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!" (Mat 21:9; bdk Mzm 118:26). Perlu diketahui juga bahwa harapan banyak orang Yahudi tersebut lebih bersifat politis dan militer. Jadi, peristiwa Minggu Palma ini menunjukkan harapan banyak orang di Yerusalem bahwa Yesus akan memimpin kebangkitan bangsa dan membawa kepada pembebasan politis dan militer. Mereka mengelu-elukan dan mencintai Yesus karena apa yang mereka harapkan dari Yesus, bukan karena menerima Yesus apa adanya dan mendengarkan serta menerima ajaran-Nya. Mereka tidak mengerti misi Yesus dan memaksakan pengertian dan harapan mereka sendiri kepada Yesus. Oleh karena itu sebenarnya Yesus sudah menyampaikan pesan-Nya kepada orang banyak di Yerusalem itu, yaitu dengan menunggang keledai (Za 9:9). Dalam tradisi Timur, keledai dipandang sebagai binatang damai, yang dilawankan dengan kuda sebagai binatang perang. Maka dikatakan bahwa raja yang datang dengan menunggang kuda ketika dia berangkat ke medan perang. Sedangkan raja menunggang keledai ketika ia ingin menunjukkan bahwa ia datang membawa damai. Jadi, kedatangan Yesus yang menunggang keledai jelas-jelas menunjukkan pesan perdamaian. Ajaran perdamaian ini sangat kuat dalam seluruh ajaran Yesus. Namun ajaran Yesus ini jelas tidak ditangkap oleh orang banyak di Yerusalem. 

 Peristiwa MInggu Palma  gereja tidak hanya mengenang peristiwa masuknya Yesus ke kota Yerusalem melainkan juga mengenang akan kesengsaraan Yesus. Oleh karena itu, Minggu Palma juga disebut sebagai Minggu Sengsara. Dalam tradisi peribadatan gereja, setelah umat melakukan prosesi daun palem (melambai-lambaikan daun palem), umat akan mendengarkan pembacaan kisah-kisah sengsara Yesus yang diambil dari Injil. Memang kisah-kisah ini akan dibacakan ulang dalam liturgi Jumat Agung tetapi pemaknaannya berbeda. Pembacaan kisah sengsara Yesus dalam liturgi Minggu Palma dimaksudkan agar umat mengerti bahwa kemuliaan Yesus bukan hanya terletak pada kejayaan-Nya memasuki Yerusalem melainkan pada peristiwa kematian-Nya di kayu salib. Selamat mengikuti ibadah Minggu Palma .(abc)



Minggu, 21 Maret 2021

Youtuber...

 


Belajar sebanyak mungkin saat Anda masih muda, karena hidup menjadi terlalu sibuk nanti."

-Dana Stewart Scott-


Generasi now menjadi generasi Youtuber . Perubahan besar akibat teknologi informasi dan komunikasi berubah seketika . Dunia televisi sekarang sudah mulai ditinggalkan dan mulai ke dunia virtual salah satunya adalah Youtube . Pengguna Youtube adalah Youtuber  . Tak dapat dipungkiri, YouTube merupakan salah satu media alternatif untuk memanjakan mata dan telinga kita dengan berbagai videonya. Berbeda dengan televisi yang kanalnya terbatas, YouTube menyediakan aneka ragam video yang bisa kita pilih sendiri, mengingat model user-generated content yang membuat setiap orang dapat mengunggah video kreasi mereka.

    Ditonton lebih dari satu milyar pengunjung setiap bulannya, setiap menit ada sekitar seratus video diunggah oleh YouTuber. Banyak Youtuber giat mengunggah video ke YouTube dengan berbagai alasan, namun secara umum mereka berbagi konten yang mereka suka. Mulai dari video klip, komedi, film pendek, dokumenter, walkthrough game, dan masih banyak lagi.

Para celebriti , tokoh politik  , tokoh agama bahkan presiden menggunakan Youtube untuk media informasi dan komunikasi dengan beragam content sesuai dengan kreativitas masing-masing . Dari beribu-ribu channel  yang ada di YouTube salah satu adalah buatan alumni dengan nama Youtube Kelana Kemari. Menurut Helmy di video pertama dengan judul Berkelana ke museum sejarah Jakarta kota tua menyatakan bahwa Kelana Kemari sebagai channel berkelana kesana-kemari untuk mencari tempat yang seru .Apa itu tempat seru , menurut channel Kelana Kemari ada tiga katagori tempat seru yaitu : pertama tempat yang exis / tempat hits yaitu restoran , tempat bermain , theme park di lingkungan Jakarta dan dunia , kedua tempat yang mempunyai latar belakang sejarah di lingkungan Jakarta dan dunia dan kategori ke tiga yaitu tempat yang terbengkalai artinya dulu tempat itu berexis tetapi sekarang terbengkalai . Kelana Kemari terdiri dari empat pemuda  yaitu Helmy , Johan , Ricky dan Raymond tetapi dalam video sering terlihat tiga orang karena Raymod sering sibuk dengan pekerjaannya sehingga kadang-kadang tidak ikut dalam Kelana Kemari . Sudah hampir satu tahun Kelana Kemari berjumpa di Youtube karena mulai muncul 28 Juni 2020 dan sekarang sudah mencapai subscribe 122,043 views . Tentu hal ini membanggakan bagi saya sebagai gurunya , paling tidak mereka mempunyai ide dan kreativitas untuk membuat karya bukan saja bagi Indonesia tetapi dunia . Karena content mereka bicara tempat sejarah ,unik dan penuh misteri . Hal ini membuat kita sebagai subscribe ingin terus mengikuti perjalanan  mereka ke berbagai tempat menarik di belahan dunia melalui virtual tour channel Kelana Kemari. Tentu harapan kita banyak para alumni atau yang masih sekolah untuk menjadi Youtuber seperti yang telah dilakukan oleh para alumni kita .  Bisa kita ikuti mereka dengan https://www.youtube.com/channel/UC7R1xURtHSNY-ytqlVly9Vg/ (abc)


Organisasi Bayangan versi Nadiem

                   Nadiem dengan belajar merdeka "Pendikan adalah paspor untuk masa depan karena hari esok adalah milik mereka yang mem...