Cari Blog Ini

Kamis, 04 Agustus 2022

Seragam sekolah

"Pakaian tetaplah pakaian, manusia tetaplah manusia, manusia bukan budak dari pakaian." -                                                                                                                Matoi Ryuko

Semua  ada aturannya

Pemaksaan terhadap siswa SMAN 1 Banguntapan Bantul  menggunakan jilbab oleh oknum guru BK menyebabkan siswa mengalami depresi  telah mencoreng kebhinekaan Indonesia . Setiap upaya untuk melakukan penyeragaman termasuk dalam pemaksaan pemakaian jilbab di sekolah bertentangan dengan hak asasi manusia . Kejadian ini sudah berkali-kali terjadi di Indonesia. Menurut Federasi Serikat Guru Indonesia(FSGI) mencatat setidaknya terjadi 10 kasus terkait intoleransi seragam sekolah yang terungkap ke publik sejak 2014 sampai tahun 2021 ( Beritasatu.com 21/2/2021 ).

Seragam sekolah menjadi budaya sekolah

Aturan tentang seragam sekolah sudah termuat dalam Permendikbud No.45 tahun 2014 yang memberi opsi bagi siswa-siswi untuk memilih dan menggunakan seragam pendek , seragam panjang maupun menggunakan jilbab . Ketentuan ini memberikan kebebasan bagi siswa  untuk menggunakan seragam sekolah namun kenyataannya masih ada oknum memaksakan penggunaan seragam sekolah. Kasus ini berdampak terhadap cuitan viral di media sosial . Seruan untuk mengembalikan seragam sekolah negeri menjadi seperti dulu mengemuka di media sosial. Melalui sebuah cuitan yang viral di media sosial seorang pengguna Twitter membagikan sebuah gambar yang menyerukan agar seragam sekolah dikembalikan seperti dulu (BBC .com 1/8/2022). Tentu cuitan ini sah-sah saja di jaman keterbukaan saat ini.

Tahun 1970 - 1990 tidak terdengar kasus seperti ini , saya sekolah di sekolah negeri tidak merasakan adanya pemaksaan seragam sekolah. Saya bebas menggunakan seragam  , saat itu jarang sekali orang menggunakan jilbab bahkan tidak ada . Kalau ada paling guru agama itu saja memakai kerudung bagi bu  guru sedangkan pak guru menggunakan peci hitam . Saya sekolah merasa senang dan happy tidak stress apalagi depresi .Kenakalan remaja tentu wajar dilakukan seperti bolos , tidur di kelas , lupa tidak mengerjakan pr dan godain guru cantik. Saat itu tidak pernah memikirkan seragam sekolah seperti sekarang ini sehingga membuat depresi seorang siswa.

Gaya anak sekolahan 80-90-an

Cerita tentang anak sekolah tahun 1980 digambarkan oleh Arswendo di cerita Kiki dan komplotannya di majalah Hai kemudian dilanjutkan oleh Hilman di majalah yang sama dengan Lupus sampai dengan tahun 1990. Film tahun 1980 - 1990 banyak menceritakan kehidupan remaja sekolah mulai dari Gita Cinta dari SMA ,  Merpati tak pernah ingkar Janji , Blok M , Ada apa dengan Cinta sampai yang terakhir Dilan yang menceritakan anak SMA tahun 90-an . Tahun 80-an muncul drama televisi berjudul ACI cerita tentang remaja SMP produksi TVRI . Semua menceritakan tentang remaja anak sekolah yang tidak ada beban , terbuka dan nyata tidak terbebani oleh masalah seragam sekolah . Memang pernah terjadi pada masa Orde Baru adanya aturan yang represif terkait penggunaan jilbab pada era tahun 1970-1980. Dirjen Pendidikan dan Menengah Prof . Darji Darmodiharjo pernah mengeluarkan Surat Keputusan pada 17 Maret 1982 tentang Seragam Sekolah Nasional yang melarang jilbab di sekolah negeri. Namun akhir tahun 1990-an  pemerintahan Soeharto lebih dekat dengan kelompok-kelompok agama mulailah pemakaian jilbab tidak dilarang di sekolah negeri .

Setiap sekolah mempunyai seragam sendiri

Praktik kebebasan memilih seragam sempat terlaksana cukup baik pada era 2000-an awal yang masih merupakan masa transisi dari era Orde Baru menuju era demokrasi pasca-reformasi. Di era pasca-reformasi tapi sebelum tahun 2010 itu belum ada aturan detail terkait seragam sekolah . Baru tahun 2014 muncul Permendikbud No.45 tahun 2014 yang masih berlaku sampai saat ini  telah mengakomodasi kebebasan bagi siswa untuk memilih apakah hendak menggunakan seragam pendek, panjang, maupun berjilbab. Walaupun sudah ada peraturan tetapi kasus pemaksaan seragam sekolah masih saja terjadi .



Mengapa hal ini bisa terjadi ? Menurut Koordinator Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Satriwan Salim mengatakan “Persoalannya sekarang ada pada pemda yang menggunakan pendekatan kekuasaan yang lain dengan dalih otonomi daerah tadi. Diatur lah soal itu, padahal sebetulnya sudah diatur berdasarkan Permendikbud, tapi daerah merasa dia memiliki kekuasaan,” ( BBC.com 1/8/2022) . Hal ini berbeda dengan  pelarangan pada era Orde Baru dilakukan secara terstruktur atas nama negara, sedangkan saat ini dilakukan oleh aktor-aktor di pemerintah daerah hingga sekolah dan guru. Kondisi ini yang melanggengkan terjadinya pemaksaan seragam di sekolah karena tiap daerah mengeluarkan peraturan sendiri sebagai akibat adanya otonomi daerah . 

Keluarga artis pakai seragam sekolah

Sekolah sebagai institusi pendidikan semestinya hanya sebatas mengedukasi para siswa akan kesadaran berpakaian sesuai ajaran agama. Bukan dengan peraturan yang memaksa seperti menggunakan seragam berkerudung, sampai-sampai yang bukan muslim pun dipaksa, tetapi seharusnya lebih mengedukasi agar kesadaran mereka tumbuh sendiri . Disisi lain sekolah semestinya menjadi arena bagi para siswa untuk merayakan keberagaman bukan menjadi arena intoleransi dan diskriminasi . (ABC)


Rabu, 03 Agustus 2022

Mencermati kurikulum Merdeka...


Kurikulum ada di guru

     Kurikulum Merdeka adalah kurikulum yang bertujuan untuk mengasah minat dan bakat anak sejak dini dengan berfokus pada materi esensial, pengembangan karakter, dan kompetensi peserta didik.

Kurikulum Merdeka sudah diuji coba di 2.500 sekolah penggerak. Tidak hanya di sekolah penggerak, kurikulum ini juga diluncurkan di sekolah lainnya. Menurut data Kemdikbud Ristek, sampai saat ini, telah ada sebanyak 143.265 sekolah yang sudah menggunakan Kurikulum Merdeka. Jumlah ini akan terus meningkat seiring mulai diberlakukannya Kurikulum Merdeka pada tahun ajaran 2022/2023 di jenjang TK, SD, SMP, hingga SMA.

Sudah siapkah sekolah

Kurikulum Merdeka memberikan pilihan kepada sekolah untuk menggunakan kurikulum apa sesuai kemampuan dan kesiapan sekolah . Ada tiga pilihan bagi sekolah untuk menerapkan kurikulum yaitu kurikulum 2013 , kurikulum darurat dan kurikulum merdeka . Dengan demikian otoritas ada di tangan sekolah untuk menerapkan kurikulum sesuai kesiapan sekolah masing - masing . 

Isi kurikulum diserahkan kepada sekolah untuk meracik kurikulum sesuai dengan visi,misi dan budaya sekolah . Keunggulan dan kelebihan sekolah akan mempengaruhi isi kurikulum . Tidak bisa membandingkan sekolah yang satu dengan lainnya . Setiap sekolah mempunyai keunggulan dan kelebihan masing-masing yang berdampak terhadap lulusan peserta didik . Adanya keragaman isi kurikulum sesuai potensi , visi dan misi tiap sekolah berdampak positif terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia . Fleksibilitas kurikulum merdeka menjadi keunggulan terhadap kurikulum ini , sekolah tidak terbebani oleh kebijakan - kebijakan Kemdikbud yang menghalangi potensi yang ada di setiap sekolah . Otoritas yang diserahkan sepenuhnya kepada sekolah untuk merancang kurikulum sesuai kondisi di setiap sekolah . 

Perlu ada perencanaan

Project Based Learning menjadi penerapan kurikulum merdeka , hal ini memberi pembelajaran terhadap sebuah proyek yang harus diselesaikan oleh siswa . Pembelajaran ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengkolaborasi beberapa mata pelajaran untuk mengakhiri sebuah proyek . Pendekatan interdisipliner menjadi pendekatan untuk menyimpulkan dan memberi solusi terhadap sebuah proyek . Project Based Learning merupakan model pembelajaran yang menjadikan peserta didik sebagai subjek atau pusat pembelajaran, menitikberatkan proses belajar yang memiliki hasil akhir berupa produk. Artinya, peserta didik diberi kebebasan untuk menentukan aktivitas belajarnya sendiri, mengerjakan proyek pembelajaran secara kolaboratif sampai diperoleh hasil berupa suatu produk. Itulah mengapa kesuksesan pembelajaran ini sangat dipengaruhi oleh keaktifan peserta didik. . 

Perlu ada daya dukung

Ketiga keunggulan kurikulum merdeka yaitu pilihan , isi kurikulum dan project based learning seperti dijelaskan di atas perlu dicermati dalam implementasinya di lapangan . Kurikulum Merdeka sangat tepat kalau diimplementasikan di sekolah unggulan artinya sekolah itu mempunyai daya dukung untuk menerapkan kurikulum merdeka tersebut . Daya dukung itu meliputi manajemen sekolah , fasilitas sekolah ,  SDM guru yang mumpuni dan dana yang cukup besar untuk biaya operasional . Kalau kita melihat kondisi sekolah di Indonesia hanya sekolah-sekolah di kota-kota besar yang mempunyai daya dukung tersebut . Sekolah-sekolah di daerah masih memprihatinkan bahkan banyak sekolah-sekolah swasta di daerah yang gulung tikar karena kekurangan murid . Bahkan ada sekolah negeri di tahun pelajaran ini mempunyai satu murid .  Kondisi ini diperparah dengan hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) yang rata-rata secara nasional di angka 50 . Angka ini menunjukkan kompetensi guru masih sangat rendah karena dianggap tidak lulus . Infrastruktur  sekolah pun masih buruk , banyak gedung-gedung roboh karena kualitas gedung di bawah standar . Melihat kondisi ini ,  apakah tepat adanya pergantian kurikulum ? 

Guru menjadi ujung tombak

OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development)  menjawab keterpurukan hasil PISA ( Programme for International Student Assessment ) untuk mengukur kemampuan anak-anak usia 15 tahun di bidang membaca, matematika dan sains.di Indonesia mengalami kemunduran . Untuk itu OECD memberikan rekomendasi untuk meningkatkan kemampuan siswa membaca , matematika dan sains yaitu penguatan kapabilitas dan kapasitas guru-guru di Indonesia . Rekomendasi ini seharusnya  dilakukan oleh Kemdikbud bukan adanya gonta-ganti kurikulum . Seharusnya Kemdikbud memfokuskan peningkatan kompetensi guru dengan cara pelatihan dan monitoring guru . Namun hal ini kurang diperhatikan oleh pemerintah . Bagaikan mengasah pisau terus-menerus supaya tajam , demikian juga dengan seorang guru harus diberi pelatihan secara konsisten dan kontinyu sehingga kompetensi kinerja guru meningkat . 

Siap melayani

Akhir-akhir ini pemerintah melalui Kemdikbud sudah melakukan pelatihan guru penggerak , hampir 400 ribu menjadi guru penggerak tetapi hal ini belum mencukupi untuk jumlah 3 juta guru di Indonesia . Fakta seperti ini  seharusnya menjadi titik perhatian pemerintah sehingga kualitas pendidikan tercapai . 

Kurikulum Merdeka tergesa-gesa untuk dilakukan dan itu bukan jawaban sebuah solusi . Kesiapan dan daya dukung sekolah itu menjadi prasyarat untuk penerapan kurikulum merdeka . Terlebih muncul buku paket PPKn untuk SMP kelas 7 yang menghebohkan karena terjadi kesalahan penulisan . Buku yang disiapkan untuk kurikulum merdeka tetapi terkesan apa adanya. Ada baiknya kita kaji ulang untuk memperbaiki kualitas pendidikan yang lebih baik .(abc)


Selasa, 02 Agustus 2022

Belajar dari kesalahan kasus buku PPKn ...

"Hidup dengan melakukan kesalahan akan tampak lebih terhormat daripada selalu benar karena tidak melakukan apa-apa." - George Bernard Shaw

Kesalahan yang viral
Berita viral di Medsos beberapa waktu yang lalu tentang kesalahan ajaran agama Kristen Protestan dan Katolik di buku PPKn SMP kelas 7 . Tertulis di buku itu tentang ajaran Tritunggal yaitu Allah , Bunda Maria dan Yesus Kristus , tentu ajaran ini tidak benar dan tidak sesuai iman Kristen dan Katolik . Akhirnya buku itu oleh Kemdikbud Ristek ditarik dan direvisi. Kesalahan ini tentu sangat urgen dan vital karena menyangkut ajaran iman agama tertentu .

Perlu kecermatan dalam penulisan

Buku tersebut beredar tahun 2021 dan baru ketahuan tahun 2022 , sudah satu tahun buku menjadi referensi bagi siswa SMP kelas 7 . Anehnya kesalahan itu ditemukan oleh seorang pastur kemudian beredar di Medsos. Menjadi pertanyaan guru PPKn kemana ? Diam saja tak berkutik . Sebagai seorang guru pasti setiap hari membuat RPP dan mencari referensi untuk materi pembelajaran di depan kelas. Mungkin di sekolah negeri , guru PPKn seorang muslim jadi ketika membaca materi tersebut tidak tahu dan tidak paham ajaran tentang agama Kristen dan Katolik. Hal ini tentu bisa dimaklumi , namun di sekolah Kristen dan Katolik tentu gurunya beragama Kristen dan Katolik pasti akan membaca tentang materi tersebut . Tetapi bisa juga sekolah itu tidak menggunakan buku dari Kemdikbud Ristek melainkan buku referensi lainnya yang banyak dijual di toko buku. Dengan demikian guru pun tidak tahu tentang kesalahan tersebut .

Saling menghargai dan menghormati
Terlepas dari semua itu kita belajar dari kesalahan ini . Pertama kita harus mencermati penulisan buku , sebelum buku itu dicetak atau diedarkan perlu adanya cek and ricek , disini peran editor sangat penting karena akan meneliti dari berbagai segi sehingga buku itu layak untuk dibaca oleh pembaca. Kedua penulis buku itu sendiri harus memahami apa yang ditulis dan untuk siapa buku itu ditulis sehingga informasi sesuai dengan fakta dan data . Bukan menulis sesuai dengan persepsi dan halusinasi penulis . Seandainya kalau ada pemahaman yang tidak tahu oleh si penulis perlu  referensi dari orang yang berkompeten untuk dijadikan acuan terhadap permasalahan tersebut . Dengan demikian kesalahan bisa diperbaiki . Ketiga materi penulisan , kalau kita perhatikan konteks materi pembelajaran sedang membicarakan tentang toleransi dan kerjasama antar umat beragama . Memang kita perlu tahu dan memahami ajaran agama lain tetapi tidak terlalu dalam sehingga tidak tersesat dalam penafsiran  , lebih tepat kalau kita ambil nilai universal yang dapat diterima oleh umat agama lain.   Keempat sebagai seorang guru PPkn bisa bekerja sama dengan guru agama atau guru beragama lain di sekolah . Ketika berkaitan dengan materi ajaran agama lain  kita bisa minta bantuan guru agama atau guru beragama lain untuk menjelaskan tentang ajaran agama selama satu jam di kelas. Hal ini tentu bisa dilakukan di sekolah negeri yang siswa dan guru beragam latar belakangnya.   Di sini perlu adanya team teaching untuk membahas materi tertentu. Kelima , di setiap kota / kabupaten ada MGMP sebagai wadah guru mata pelajaran membahas berbagai hal mulai dari silabus materi , kurikulum dan berbagai program untuk meningkatkan profesi dan kompetensi guru . MGMP sebagai tempat komunikasi dan informasi sehingga ada satu kesatuan persepsi untuk memperjelas dan memperkaya wawasan sebagai seorang guru. Dengan demikian dialog antar guru di MGMP menjadi aspirasi ke tingkat jenjang lebih tinggi . Itulah beberapa hal yang bisa dilakukan dan menjadi harapan kesalahan penulisan yang fatal tidak terjadi lagi di waktu yang mendatang .Semoga.(ABC)

Rabu, 13 Juli 2022

Melayani di hari tua....


In - action

“ Ya Allah, Engkau telah mengajar  aku sejak kecilku, dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatan-Mu   yang ajaib; juga sampai masa tuaku dan putih rambutku, ya Allah, janganlah meninggalkan aku, supaya aku memberitakan kuasa-Mu  kepada angkatan ini , keperkasaan-Mu kepada semua orang yang akan datang..” ( Mazmur 71 : 17-18 )


Hampir delapan tahun tidak bertemu , akhirnya 13 Juli 2022 saya datang ke  rumah pak Tri  di Serdang Asri 1 No. E2 No.19 Pecenongan Curug Tangerang . Tidak terlalu jauh tempatnya sekitar 7 km dari tempat tinggal saya . Kita satu wilayah di kecamatan Curug Tangerang . Berbekal alamat di buku tahunan saya berkunjung di tempat pak Tri . Memang no HP pak Tri sudah hilang dan alamat tidak tahu sehingga saya merasa kesulitan untuk berhubungan dengan pak Tri , beruntunglah saya mencari buku-buku di lemari ditemukan alamat di Yearbook tahun 2008-2009 . Saya berangkat naik motor menuju ke alamat rumah , bingung juga karena sudah banyak perubahan , jalan sudah rapi teratur dan banyak ditemukan kompleks perumahan . Kira-kira delapan tahun yang lalu saya pernah ke rumah pak Tri tetapi jalan belum rapi masih berlumpur dan masih jarang ada rumah tetapi sekarang sudah ramai banyak perumahan , ruko dan pedagang di pinggir jalan . Hampir 45 menit perjalanan akhirnya ketemu rumahnya . Rumahnya sepi , pintu tertutup kata tetangganya sedang keluar , di tunggu saja sebentar lagi paling sudah pulang kata tetangganya yang bernama pak Yanto setelah saya berkenalan dengan orang tersebut . Akhirnya saya ngobrol dengan pak Yanto di pos depan samping rumah pak Tri . Sepuluh menit kemudian muncul pak Tri boncengan naik Suzuki Smash dengan istrinya . Akhirnya pertemuan terjadi saya lihat pak Tri tubuhnya kurus dan istrinya pun tambah langsing . Kami pun masuk ke rumah pak Tri , suasana rumah  asri dengan perabotan klasik khas Yogyakarta  , ada patung , lukisan dan suasana rumah Jawa . Di halaman terlihat banyak ayam , ternyata untuk mencari kesibukan sehari-hari pak Tri memelihara ayam kampung . Kami Pun ngobrol tentang masa lalu  ketika masih menjadi guru di IPTO dan cerita kabar  teman-teman . Sambil disuguhi kopi dan makan siang masakan padang kami asyik ngobrol ngalor-ngidul tanpa akhir .

Bersama kita keluarga

Pak Tri Atmojo lahir di Yogyakarta 1 Juli 1958 , setelah menamatkan di SMA BOPKRI melanjutkan di UGM Fakultas Sastra Indonesia . Kemudian setelah menikah hijrah bersama istri ke Jakarta . Selama tiga tahun menjadi guru di Pusaka Abadi di daerah Jelambar Jakarta Barat , tahun 1995 diterima di SMP K IPEKA Tomang menjadi guru bahasa Indonesia . Tahun 1999 membantu menjadi guru di SMAK IPEKA Tomang . Sejak itulah saya menjadi sahabat dengan pak Tri . Kita Pun menjadi redaksi majalah Bijak selama beberapa tahun . Pak Tri sebagai sahabat , saudara , kakak maupun orang tua bagi saya . Selama menjadi guru kami pun berinteraksi dan bergaul layaknya saudara . Banyak pergumulan , permasalahan dan problematika kehidupan selalu menjadi bahan diskusi tiap hari . Di kantor guru , ruang piket , perpustakaan dan kantin menjadi tempat diskusi . Materi diskusi mulai masalah rohani , keluarga , kebijakan sekolah sampai dengan politik . Diakhir waktu sambil menunggu jam pulang kita sering nyanyi bersama dengan lagu jadul . Pak Tri orangnya sangat terbuka , empati dan banyak memberi nasehat kepada  saya . Karena menurut saya pak Tri seperti sesepuh memberi petuah kepada kami . Setelah lulus S2 di Sekolah Tinggi Teologi Amanat Agung Jakarta pak Tri memang aktif menggereja di GKI Citra . Menjadi anggota Majelis sering melayani di pos-pos GKI di luar kota . Kadang-kadang diundang untuk berkhotbah di gereja-gereja . 

Saat waktu tidak mengajar kadang kala beberapa guru makan siang di warung Dewi di samping sekolah dekat toko buku Emmanuel . Warung itu jual makanan , lauk dan minuman . Sarapan dan makan siang sering dilakukan di situ . Tempe goreng dan tahu memang enak dan laris terjual .Apalagi dimakan panas-panas setelah digoreng dan seteguk kopi hangat terasa nikmat dunia . 

foto ktp

Tahun 2014 pak Tri mengakhiri menjadi guru karena pensiun , tugas mengajar dan mendidik siswa di sekolah IPTO sudah berakhir . Sekarang usia pak Tri sudah 64 tahun , seperti waton Jawa mengatakan umur sewidak yang artinya sejatine wis wayahe tindak . Masa dimana orang harus mempersiapkan diri untuk pergi meninggalkan dunia . Masa yang tidak memikirkan lagi masalah dunia tetapi mempersiapkan kehidupan masa depan . Hal inilah yang dilakukan oleh pak Tri beserta  istri. Sekarang mereka berdua lebih banyak melayani di gereja . Pak Tri oleh GKI Citra sekarang dipercaya untuk melayani bidang pendidikan . Di Tenjo Tigaraksa didirikan dua sekolah TK gratis , hampir lima tahun yang lalu pak Tri mengkoordinasi guru untuk mendidik dan mengajar anak-anak gratis bagi masyarakat yang kurang mampu . Bentuk pelayanan untuk kemuliaan Tuhan , keduniaan dan kedagingan sudah mulai ditinggalkan . Kedua anaknya Naomi dan Ruth sudah bekerja dan mandiri , tidak ada lagi beban . Hidup harus diatur dan terencana , semua ada waktunya , ada waktu suka , ada waktu duka , ada waktu kerja , ada waktu istirahat . Seperti firman Tuhan mengatakan  “ Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita. Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya. “ (Mazmur 92:13-16 ). Itulah yang dilakukan oleh pak Tri di hari-hari  masa tuanya ….(abc)


Minggu, 10 Juli 2022

Gonta-ganti kurikulum

 

Bongkar pasang kurikulum


Kurikulum berubah, tidak otomatis kualitas pendidikan meningkat. Namun, jika kualitas guru meningkat, kualitas pendidikan pasti meningkat, itu kuncinya.( Anies Baswedan )

       Tahun pelajaran 2022-2023 berlaku kurikulum baru yang bernama kurikulum merdeka (Kurma) sebagai pengganti kurikulum darurat akibat adanya pademi covid 19 . Pergantian ini sepertinya tergesa - gesa , dengan kurun waktu sekitar 6 bulan terjadi pergantian kurikulum . Sering berganti kurikulum tetapi mengapa kualitas pendidikan masih rendah ? Dimana kesalahan terjadi ? Pertanyaan ini ada karena kita disuguhi data tentang hasil Tren Nilai dan Peringkat PISA Indonesia  tahun 2019 yaitu :

Dari data tersebut di atas diperlihatkan ada kenaikan nilai dan peringkat setiap tahun tetapi terjadi kemunduran juga . Tidak ada kenaikan yang berlangsung terus-menerus bahkan mengalami kemunduran . Untuk mencari solusi ini ,kemudian  Kemdikbud gonta-ganti kurikulum mulai dari kurikulum 2003 dengan KBK , kurikulum 2006 , kurikulum 2013 , masa pademi Covid 2019 keluar kurikulum darurat sampai yang terakhir tahun 2022 keluar kurikulum merdeka . Namun  dalam kenyataannya  tidak ada pengaruh yang signifikan antara kurikulum dengan kualitas pendidikan di Indonesia . Padahal rekomendasi dari OECD tidak mencantumkan adanya perubahan kurikulum tetapi bagaimana meningkatkan kompetensi membaca , matematika dan sains bagi siswa . Kondisi ini menurut Prof . Indra Charismiadji praktisi dan pengamat pendidikan menganalogikan bangsa Indonesia sedang sakit pusing selalu  minum paramex tetapi tidak sembuh-sembuh  sampai akhirnya di periksa di rumah sakit OECD dengan test namanya PISA . Kemudian hasil testnya ternyata terkena hypertensi sehingga perlu diubah pola makannya tidak boleh makan asin-asin , makan daging kambing dan minum amlodipine . Tetapi yang dilakukan oleh bangsa kita bukan  membeli amlodipine melainkan   bodrex . Jadi sakitnya apa ,obatnya apa  itu yang menjadi problem bangsa kita . Antara penyakit dan obatnya sudah keliru tetapi pemerintah tetap yakin  obatnya  tanpa  rekomendasi . Bagaimana kita akan meningkatkan PISA kita kalau  satu rekomendasi dari OECD tidak kita dilakukan tetapi kita tetap ngotot dengan cara kita sendiri . Analogi ini tentu ada benarnya ketika mengamati kondisi pendidikan kita , biaya milyaran rupiah terbuang percuma kalau kita tidak memperhatikan permasalahan yang terjadi untuk mencari solusi yang benar .

Data UKG secara nasional


Rekomendasi OECD pada dasarnya adalah  penguatan kapabilitas dan kapasitas guru-guru di Indonesia . Hal ini sudah dipahami oleh pemerintah dan hasil uji kompetensi guru di Indonesia masih rendah karena kurang dari 50 sehingga kompetensi  guru perlu ditingkatkan . Tetapi hal ini tidak kunjung diperbaiki oleh pemerintah . Kurikulum bagaikan partitur musik  , kita mau bisa partitur lagunya Mozart , Rinto Harahap atau Didi Kempot . Tetapi kalau problemnya pemain orkestra tidak bisa main musik , jelak hasilnya . Diajari dulu pemainnya bukan gonta-ganti partiturnya . Demikian juga dengan dunia pendidikan kita , guru-guru perlu ada pelatihan terhadap kompetensinya sehingga bisa mampu dan menguasai kurikulumnya bukan gonta-ganti kurukulum tetapi guru masih belum jelas dan masih bingung . Hal ini yang terjadi di Indonesia . Kita gonta-ganti kurikulum tetapi guru belum jelas kurikulumnya . Kurikulum baru tahap proses tetapi kurikulum sudah diganti . Kenapa pemerintah tidak membenahi guru dengan memperdayakan guru sehingga kualitas guru meningkat  kompetensinya .

Guru bukan satu-satunya sumber belajar

Kalau kita lihat kurikulum 2013 punya standart proses pendidikan yang  sangat baik yang tercantum dalam Permendikbud no.22 tahun 2016 . Kalau ini sudah dilaksanakan saat  pademi covid 19 tidak terjadi learning loss . Dalam Permendikbud no.22 tahun 2016 bisa menjadi evaluasi   pendidikan kita . 

1.Kita lihat dari peserta didik diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu;

2. dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis

aneka sumber belajar;

3. dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan

pendekatan ilmiah;

4. dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis

kompetensi;

5. dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu;

6. dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju

pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi;

7. dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif;

8. peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskills)

dan keterampilan mental (softskills);

9. pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan

peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat;

10. pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan

(ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun

karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses

pembelajaran (tut wuri handayani);

11. pembelajaran yang berlangsung di rumah di sekolah, dan di masyarakat;

12. pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru,

siapa saja adalah peserta didik, dan di mana saja adalah kelas;

13. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan

efisiensi dan efektivitas pembelajaran; dan

14. Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya peserta

didik. 

Keberhasilan bersama

Kalau Permendikbud no.22 tahun 2016 ini dilaksanakan dengan sungguh-sungguh maka tidak perlu lagi adanya kurikulum merdeka (KURMA) . Misalnya dari peserta didik diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu . Guru melakukan hal ini dengan cara memberi tugas kepada murid untuk mencari pengetahuan dimana saja bukan hanya memberi tahu di buku teks atau menghabiskan materi  buku teks setelah itu pembelajaran selesai .Dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber belajar. Di kelas guru bukan satu-satunya sumber belajar tetapi hanya salah satu saja , perpustakaan , internet , buku referensi bisa menjadi sumber belajar . Kalau semua ini dilakukan dengan sungguh-sungguh maka pendidikan di Indonesia mengalami kemajuan . Hal yang menjadi penting sekarang adalah SDM guru-guru di tingkatkan bukan kurikulum yang gonta-ganti . Semua ini adalah PR bersama untuk kemajuan pendidikan kita . (abc)


Kamis, 07 Juli 2022

Baju tentara

Hobi tidak  bisa dipaksa

Ingat kembali hobi anda , temukan passion anda (Dedy Dahlan)

Ketika saya menjadi guru sejarah , saat menjelaskan tentang masa perjuangan melawan Jepang . Ditampilkan sosio drama tentang perjuangan kemerdekaan melawan tentara Nippon . Setiap kelompok diberi tugas , terserah tentang cerita apa saja yang jelas temanya tentang perjuangan  mencapai kemerdekaan . Dalam satu kelompok , ada seorang murid dengan penampilan baju lengkap tentara Jepang , saya terkejut dan takjub karena bajunya persis seperti tentara Jepang sungguhan . Murid itu namanya Jasen Purwaadi , ketika saya tanya itu baju sewa dimana ? " Ngak pak ini baju saya sendiri , saya di rumah mempunyai puluhan baju tentara dari berbagai negara" katanya dengan rasa bangga memperlihatkan baju tentaranya .

Siap menjadi tentara

Ternyata Jasen mempunyai hobi mengumpulkan baju tentara dari berbagai negara . Setelah lulus SMA , saya lihat FBnya banyak aktivitas yang dilakukan berkaitan dengan bajunya , Jasen ternyata aktif dalam komunitas yang mendemonstrasikan dalam kegiatan contest kostum militer  seperti Heiho , Peta ( Pembela Tanah Air ) ataupun tentara Jerman masa perang dunia pertama dan kedua . Bukan hanya militer jaman perang dunia pertama dan kedua tetapi masa sekarang pun ada kostumnya . Tidak hanya kostum saja tetapi aksesoris lainnya juga lengkap tersedia seperti samurai , pedang , pistol mulai dari senjata perang dunia pertama  dan kedua sampai dengan persenjataan modern .


Dalam komunitas ini tidak hanya mengenal kostumnya saja tetapi sejarahnya pun tahu. Tidak mengherankan Jasen membaca berbagai buku sejarah untuk referensi tentang kostumnya . Jadi seorang yang memakai kostum kemiliteran , dia tahu tentang sejarah kemiliteran berkaitan dengan kostumnya . Misalnya dia mengenakan kostum Peta ( Pembela Tanah Air ) maka dia tahu tentang sejarah Peta , jadi tidak hanya pakai kostumnya saja tetapi sejarah tentang Peta dia tahu . Di Indonesia komunitas ini bernama Komunitas Reenactor Indonesia . Reenactor berasal dari kosa kata bahasa Inggris dari kata reenact mempunyai arti menghidupkan kembali . Sehingga reenactor bisa diartikan sebagai seseorang yang menghidupkan kembali momen-momen sejarah tertentu . Cara yang dilakukan untuk menghidupkan kembali momen bersejarah dengan cara membuat suatu reka adegan peristiwa bersejarah lengkap dengan mengenakan pakaian-pakaian yang ada pada masanya . Komunitas ini didirikan atas dasar kesamaan hobi yakni mencintai sejarah , mengoleksi pakaian momen sejarah tertentu serta melakoni reka ulang momen sejarah tertentu . Anggota komunitas tak hanya mempelajari sejarah melalui internet atau buku begitu saja , mereka juga menghidupkan kembali suatu peristiwa sejarah. Salah satu kegiatan yang telah dilakukan adalah melakukan sesi foto reka ulang perjuangan pergerakan pemuda Indonesia dengan tema Boedi Oetomo dan siswa  STOVIA di museum Kebangkitan Nasional . Mereka juga pernah memerankan momen perang dunia ll lengkap dengan menggunakan atribut tentaranya .

Bergabung dengan komunitas
Tentu ada perbedaan antara komunitas Reenactor dan Cosplay . Reenactor tidak hanya tampang baju saja untuk di foto seperti Cosplay tetapi lebih dari itu mencari baju dengan aksesoris yang benar-benar seperti asli sehingga seorang Reenactor harus mencari bahan-bahan untuk kostumnya seperti aslinya. Tentu hal ini mahal untuk membeli kostum dengan berbagai aksesoris pendampingnya dibandingkan dengan Cosplay yang hanya nampang di foto saja . Keberadaan Komunitas Reenactor ini tentu menarik bagi kita semua karena masih memberikan makna terhadap sejarah peradaban manusia . Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah itu kata-kata bung Karno proklamator negara kita . Dengan mengulang kembali peristiwa-peristiwa sejarah kita mendapat pembelajaran untuk melangkah lebih baik dan itu yang kita pelajari dari sejarah …(ABC)


Minggu, 15 Mei 2022

Pancasila  dasar negara


Memperjuangkan Ideologi harus Realistis, bukan harga Mati. (Chairul Tanjung)

Berdasarkan Kepmendikbudristek No. 56 Tahun 2022 tentang Pedoman Penerapan Kurikulum dalam rangka Pemulihan Pembelajaran (Kurikulum Merdeka), mata pelajaran Pendidikan Pancasila akan menjadi mata pelajaran wajib yang diajarkan dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga SMA atau SMK. Dengan keputusan ini mulai bulan Juli  2022 , Pendidikan Pancasila akan mengganti mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) . Perubahan ini tentu berdampak terhadap materi pembelajaran karena lebih menekankan kepada Pancasila sebagai nilai-nilai hidup dan karakter bangsa   sehingga kalau dahulu Pancasila bagian dari kewarganegaraan sekarang kewarganegaraan bagian dari Pancasila .  

Pancasila mempersatukan bangsa

Melalui pendidikan Pancasila sebagai mata pelajaran wajib diharapkan sebagai upaya untuk mewujudkan profil Pelajar Pancasila . Profil Pelajar Pancasila ini dicetuskan sebagai pedoman untuk pendidikan Indonesia. Tidak hanya untuk kebijakan pendidikan di tingkat nasional saja, akan tetapi diharapkan juga menjadi pegangan untuk para pendidik, dalam membangun karakter anak di ruang belajar yang lebih kecil. Pelajar Pancasila disini berarti pelajar sepanjang hayat yang kompeten dan memiliki karakter sesuai nilai-nilai Pancasila. Pelajar yang memiliki profil ini adalah pelajar yang terbangun utuh keenam dimensi pembentuknya. Dimensi ini antara lain: 1) Beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia; 2) Mandiri; 3) Bergotong-royong; 4) Berkebinekaan global; 5) Bernalar kritis; 6) Kreatif. Keenam dimensi ini perlu dilihat sebagai satu buah kesatuan yang tidak terpisahkan. Apabila satu dimensi ditiadakan, maka profil ini akan menjadi tidak bermakna. 

Menerapkan nilai-nilai Pancasila

Pemerintah dalam hal ini melalui Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang telah menyusun 15 buku pelajaran Pancasila dari mulai tingkat PAUD hingga perguruan tinggi. Di dalam buku itu, sebanyak 70 persen isinya adalah praktik ber-Pancasila, sedangkan sisanya 30 persen tentang teori, misalnya tentang sejarah Pancasila . 

Pendidikan Pancasila menjadi penting saat ini karena untuk menjaring pengaruh paham radikalisme dan intolerensi dalam masyarakat . Tidak dipungkiri paham radikalisme dan intoleransi telah masuk ke segala bidang sehingga dibutuhkan pemahaman Pancasila untuk dilaksanakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara . Serangan terhadap ideologi Pancasila menjadi pengalaman bagi bangsa Indonesia . Dalam masa Orde Lama Pancasila mau diganti dengan berbagai paham dan aliran tetapi bangsa Indonesia tetap mau melawan dan mempertahankan ideologi Pancasila . Demikian juga dengan serangan komunis dapat dipatahkan sampai akar-akarnya dengan ideologi Pancasila . Masa Orde Baru , Pancasila dijadikan alat untuk mencari status quo kekuasaan . Reformasi untuk mengevaluasi pemahaman dan pelaksanaan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan pemahaman ini tentu diharapkan pendidikan Pancasila menjadi bekal untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai Pancasila sehingga paham intoleransi dan radikalisme dapat terkikis di bumi Nusantara ini .

Melestarikan Pancasila

Founding father telah menetapkan Pancasila sebagai dasar negara menjadi warisan sejarah bagi bangsa Indonesia . Mengganti Pancasila dengan ideologi lain berarti telah mengubah NKRI yang telah diperjuangkan dengan keringat dan nyawa para pahlawan yang telah gugur untuk memperjuangkan kemerdekaan . Sekarang kita sebagai generasi penerus untuk mengisi kemerdekaan mempunyai kewajiban untuk mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara . Janganlah kita mendukakan para pahlawan kita yang telah memperjuangkan demi NKRI. Pancasila telah menjadi karakter bangsa , janganlah diubah dan diganti dengan ideologi lain . (abc)


Organisasi Bayangan versi Nadiem

                   Nadiem dengan belajar merdeka "Pendikan adalah paspor untuk masa depan karena hari esok adalah milik mereka yang mem...