Cari Blog Ini

Sabtu, 22 Agustus 2020

Pendidikan mau kemana ?

Bagaimana sebaiknya kehidupan akademik sekolah dan kampus pada ...
foto : www.dictio.id 

“ Takut akan TUHAN  adalah didikan yang mendatangkan hikmat, dan kerendahan hati mendahului kehormatan.” ( Amsal 15 : 33 )



Kondisi pendidikan sekarang di Indonesia ada istilah fasilitas di sekolah abad 19 , gurunya abad 20 sedangkan muridnya berada di abad 21 . Perubahan yang cepat terjadi di abad ini , akibat teknologi informasi menjadikan dunia hanya dipegang satu jari semua informasi dan komunikasi terbuka lebar untuk semua orang . Ini tantangan bagi guru untuk mempersiapkan diri mengalami perubahan yang begitu cepat . Ada baiknya kita merenungkan pendapat Prof. Ng Aik Kwang dari University of Queensland, dalam bukunya “Why Asians Are Less Creative Than Westerners” (2001) yang dianggap kontroversial tapi ternyata menjadi “best seller”, mengemukakan beberapa hal tentang bangsa-bangsa Asia yang telah membuka mata dan pikiran banyak orang :

  1. Bagi kebanyakan orang Asia, dalam budaya mereka, ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta lain). Passion (rasa cinta terhadap sesuatu) kurang dihargai. Akibatnya, bidang kreativitas kalah populer oleh profesi dokter, lawyer, dan sejenisnya yang dianggap bisa lebih cepat menjadikan seorang untuk memiliki kekayaan banyak.

  2. Bagi orang Asia, banyaknya kekayaan yang dimiliki lebih dihargai daripada CARA memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila lebih banyak orang menyukai cerita, novel, sinetron atau film yang bertema orang miskin jadi kaya mendadak karena beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran dan sejenis itu. Tidak heran pula bila perilaku koruptif pun ditolerir/diterima sebagai sesuatu yang wajar.

  3. Bagi orang Asia, pendidikan identik dengan hafalan berbasis “kunci jawaban” bukan pada pengertian. Ujian Nasional, tes masuk PT dll, semua berbasis hafalan. Sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan hafal rumus-rumus ilmu pasti dan ilmu hitung lainnya bukan diarahkan untuk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus-rumus tersebut.

  4. Karena berbasis hafalan, murid-murid di sekolah di Asia dijejali sebanyak mungkin pelajaran. Mereka dididik menjadi “Jack of all trades, but master of none” (tahu sedikit- sedikit tentang banyak hal tapi tidak menguasai apapun).

  5. Karena berbasis hafalan, banyak pelajar Asia bisa jadi juara dalam Olimpiade Fisika, dan Matematika. Tapi hampir tidak pernah ada orang Asia yang menang Nobel atau hadiah internasional lainnya yang berbasis inovasi dan kreativitas.

  6. Orang Asia takut salah (KIASI) dan takut kalah (KIASU). Akibatnya sifat eksploratif sebagai upaya memenuhi rasa penasaran dan keberanian untuk mengambil risiko kurang dihargai.

  7. Bagi kebanyakan bangsa Asia, bertanya artinya bodoh, makanya rasa penasaran tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan di sekolah.

  8. Karena takut salah dan takut dianggap bodoh, di sekolah atau dalam seminar atau workshop, peserta Asia jarang mau bertanya tetapi setelah sesi berakhir peserta mengerumuni guru/narasumber untuk minta penjelasan tambahan.


Dalam bukunya Profesor Ng Aik Kwang menawarkan beberapa solusi sebagai berikut:

  1. Hargai proses. Hargailah orang karena pengabdiannya bukan karena kekayaannya.

  2. Hentikan pendidikan berbasis kunci jawaban .

  3. Biarkan murid memahami bidang yang paling disukainya.

  4. Jangan jejali murid dengan banyak hafalan, apalagi matematika. Untuk apa diciptakan kalkulator kalau jawaban utk X x Y harus dihafalkan? 

  5. Biarkan murid memilih sedikit mata pelajaran tapi benar-benar dikuasainya.

  6. Biarkan anak memilih profesi berdasarkan PASSION (rasa cinta) nya pada bidang itu, bukan memaksanya mengambil jurusan atau profesi tertentu yang lebih cepat menghasilkan uang.

  7. Dasar kreativitas adalah rasa penasaran berani ambil resiko. AYO BERTANYA!

  8. Guru adalah fasilitator, bukan dewa yang harus tahu segalanya. 

  9. Mari akui dengan bangga kalau KITA TIDAK TAHU!

  10. Passion manusia adalah anugerah Tuhan.Sebagai orang tua kita  bertanggung-jawab untuk mengarahkan anak kita untuk menemukan passionnya dan mensupportnya.

Sekarang bukan waktunya guru sibuk dengan urusan administrasi untuk menyenangkan hati kepala sekolah dan pengawas tetapi dibutuhkan guru yang kreatif dan inovatif bagi siswanya . Setiap waktu pembelajaran dengan siswa ada pertanyaan yang muncul dalam hati saya : Apa yang akan kuberikan kepada mereka ? Apakah hal ini bermanfaat bagi mereka ? Apakah yang aku berikan bisa diterima dengan jelas ? Bagaimana dengan metode yang akan aku gunakan ? Bukankah dengan memberi pemahaman dan pengetahuan mereka dapat mencari digoogle ?  Tidak heran kalau orang tua murid sekarang protes karena anak diberinya  tugas yang sudah ada   di google , anak tinggal copy paste . Hal ini tidak perlu ada guru bisa dikerjakan oleh sang murid . Tidak perlu bayar mahai-mahal lagi kepada sekolah . Disinilah perlu kreatif dan inovatif bagi seorang guru . Guru harus bisa kobelarasi terhadap pokok bahasan yang satu dengan pokok bahasan yang lainnya atau KD yang satu dengan KD lainnya sehingga murid dapat menganalisa , mengklarifikasi dan  mengevaluasi pembelajaran secara ilmiah . Tentu ini pekerjaan yang tidak mudah tetapi perlu dicoba secara perlahan-lahan . Hal ini perlu belajar dari orang lain , intrernet bahkan sang murid . Bukankah belajar seumur hidup ( long life education ) yang tidak akan habis seumur hidup kita .   Tanggungjawab moral  guru bukan kepada kepala sekolah atau yayasan tetapi kepada orang tua yang memberi kepercayaan kepada gurunya . Orang tua murid sebagai consumer pendidikan dan kepercayaan orang tua harus dipegang oleh setiap guru untuk melayani sang murid . Perlu ada paradigma baru setiap guru untuk mengalami perubahan ini . Orang tua adalah pendidik  pertama dan utama di rumah . Pendidikan karakter berawal dari rumah sedangkan sekolah hanya mengkuatkan tentang pendidikan karakter . Ada bagian dan peran masing-masing , saat home learning ini kesempatan bagi orang tua untuk mendampingi putra-putrinya . Sibuk dengan pekerjaan itu kadang-kadang alasan bagi orang tua sehingga tidak  ada waktu untuk anaknya . Tuhan memberi waktu selama 24 jam , apakah tidak ada waktu dua atau empat jam untuk berkomunikasi dengan anak kita . Menjadi pendengar bagi anak-anak atau cerita tentang kita , hal itu lebih menyentuh daripada harta yang akan kita berikan kepada mereka . Ada baiknya kita renungkan Kahlil Gibran tentang “anak” sebagai berikut :


Anakmu Bukanlah Milikmu - By Kahlil Gibran

Anak adalah kehidupan,

Mereka sekedar lahir melaluimu tetapi bukan berasal Darimu.

Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu,

Curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan Pikiranmu

karena mereka Dikaruniai pikiranya sendiri


Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya,

Karena jiwanya milik masa mendatang

Yang tak bisa kau datangi

Bahkan dalam mimpi sekalipun


Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah

Menuntut mereka jadi seperti sepertimu.

Sebab kehidupan itu menuju kedepan, dan

Tidak tengelam di masa lampau.


Kaulah busur,

Dan anak – anakmulah anak panah yang meluncur.

Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian.

Dia menantangmu dengan kekuasaan-Nya,

hingga anak panah itu meleset,

jauh serta cepat.


Meliuklah dengan sukacita

Dalam rentangan Sang Pemanah,sebab Dia

Mengasihi anak- anak panah yang meleset laksana kilat,

Sebaimana pula dikasihiNya busur yang mantap


Orang tua, bagi Kahlil Gibran, hanyalah sebuah busur. Dan anak-anaknya adalah anak panah. Busur hanya bisa berarti atau bermakna jika ia melepas anak panahnya. Biarkan anak panah itu melesat mengejar target berupa mimpi dan cita-citanya.


Tuhan, menurut Kahlil Gibran, mencintai anak panah (anak-anak) yang berjalan lurus menuju targetnya, sebagaimana Tuhan juga mencintai busur (orang tua) yang selalu mendukung setiap kegiatan positif anaknya demi mencapai cita-cita yang diinginkan anaknya.


Puisi ini sangat dramatis, kontroversial, keterlaluan, sekaligus bagai bom yang meledak di telinga orang tua. Kebanyakan orang tua selalu ingin menguasai anak-anaknya sebagai miliknya yang bisa mereka atur semaunya.

Ki Hajar Dewantara pahlawan pelopor pendidikan Indonesia mengingatkan kepada kita tentang Tri Pusat Pendidikan', yang menerangkan bahwa pendidikan berlangsung di tiga lingkungan, baik di keluarga, sekolah, dan masyarakat. Perlu ada kerjasama dalam pendidikan sehingga anak-anak kita menjadi generasi untuk masa depan bangsa .(abc)

 

Kamis, 20 Agustus 2020

Dengan kecerdasan memberi karya bagi kesejahteraan manusia...

Bu Roos beserta anak-anaknya 16 th yang lalu ( foto pribadi)

 


“Untuk Injil  inilah aku telah ditetapkan  sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru”

                                                                                                               ( 2  Timotius 1 : 11 )


Enam belas tahun yang lalu , Yohanes Chadra badannya gemuk ,wajahnya imut-imut dan ingin mencubit pipinya yang temben berwarna kemerah-merahan .Tidak disangka sekarang tubuhnya langsing dan proporsional , semua guru pangling ketika Yohanes datang ke ruang guru SMAK IPEKA Tomang beberapa tahun yang lalu . Tahun 2004 , Yohanes Chandra lulus dan melanjutkan ke Universitas Indonesia Jurusan Structural engineering kemudian melanjutkan ke Paris sekolah di Γ‰cole centrale   tahun 2009 ,  bekerja di Doctorant di IFSTTAR dan Doctorant di ISTerre .

Sebagai seorang peneliti dan bekerja di perusahaan konsultan di Paris salah satunya  mempunyai tanggungjawab  dalam perhitungan  dinamika gempa untuk sebuah proyek energi masa depan  di Inggris . Sejak SMA memang Yohanes sudah mempunyai prestasi dalam bidang IPA khususnya FIsika dan Matematika . Sudah beberapa kompetisi diraihnya baik tingkat lokal   maupun nasional  . Hal ini terlihat dari tampang Yohanes seperti seorang profesor dengan kacamata tebal dan bergumul dengan buku-buku . Tentu hal ini membanggakan  bagi guru karena muridnya telah berhasil sesuai dengan cita-citanya .  

            Seorang penulis dan penyiar radio asal Amerika Serikat bernama Tom Bodett pernah mengatakan “ Di sekolah anda mendapatkan pelajaran , kemudian baru di beri ujian , sedangkan dalam kehidupan anda diberi ujian yang memberikan pelajaran “. Guru mempunyai tugas dan tanggungjawab mengajar dan memberi ujian bagi si murid  di kelas tetapi ketika si murid lepas menjadi manusia dewasa biarlah ujian dalam kehidupan nyata memberi pelajaran akan makna hidup dan kehidupan . Bukankah  tujuan pendidikan untuk mencapai kedewasaan bagi si murid atau kata Romo Mangguwijaya pendidikan pada hakekatnya memanusiakan manusia ? Itu pertanyaan sang guru diakhir tugasnya untuk merenung apakah saya sebagai guru sudah melaksanakannya ? (abc)




Rabu, 19 Agustus 2020

Seorang dokter yang setia dalam pelayanan...

“ Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa “ ( Markus 2 : 17 )


Dr. Indra Wijaya, Sp.PD – KEMD, M.Kes, FINASIM melayani di tiga rumah sakit yaitu RS.PIK Jakarta ,  RS.EKA BSD dan RS.Premier Bintaro .  Bukan hanya mejadi dokter dengan setia melayani pasien tetapi memberi edukasi sebagai dosen  di Universitas Indonesia dan Universitas Cendrawasih di Papua. Hari-harinya sibuk dengan berbagai kegiatan mulai menjadi keynote dalam berbagai  seminar mengenai ilmu kedokteran, talk show di TV swasta dan radio . Tentu semua melelahkan baginya tetapi ini sebuah passion atau panggilan . Tidak ada kata lelah baginya karena ini semua bentuk pelayanan bagi Tuhan dan sesama . Kilas - balik ketika masih di SMA tentu berbeda dengan Indra sekarang . Dua puluh tahun yang lalu saya menjadi guru dan memperhatikan Indra sangat berbeda . Indra dulu orangnya pendiam dan kutu buku . Beda dengan istrinya Frida yang aktif menjadi singer atau mc saat kebaktian atau aktif di OSIS . Pertemuan di SMA  menjadi awal dua sejoli mengikrarkan menjadi suami-istri yang telah membuahkan tiga buah hati mereka  . Profesi yang sama menjadi seorang dokter , Frida istrinya selalu setia mendampingi suaminya .

 Pertemuan  live streming pada saat acara Wawasan Kebangsaan dalam rangka merayakan hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 75 yang diselenggarakan oleh SMA K IPEKA Tomang  sebagai nara sumber Indra jauh berbeda sekarang , berbicara secara lugas dan sistematis secara profesional terlihat jelas sebagai seorang dokter yang mumpuni dalam bidangnya . Tidak berkelebihan kalau Dr. Indra Wijaya sebagai dokter Internist-Endocrinologist  terlibat dalam Pita Tosca Indonesia . Pita Tosca adalah Komunitas Pejuang Tiroid Indonesia dengan tujuan mengedukasi deteksi dini dan pendampingan pasien gangguan tiroid. Tidak hanya itu saja Dr.Indra Wijaya juga sebagai Konsultan Endokrin Metabolik Diabetes .

Penyakit diabetes dengan kadar gula yang tidak terkontrol secara terus-menerus dapat memiliki risiko terhadap komplikasi, yaitu penyakit jantung, kerusakan pada saraf, ginjal, mata dan kaki, infeksi pada kulit, gangguan pendengaran, Alzheimer serta  depresi.Di Indonesia penyadang penyakit diabetes setiap tahun meningkat ,data IDF tahun 2017, Indonesia menempati peringkat ke enam di dunia untuk prevalensi penderita diabetes tertinggi setelah Cina, India, Amerika Serikat, Brazil, dan Meksiko. Di dunia, estimasi jumlah orang dengan diabetes adalah sebanyak 10 juta jiwa.Prevalensi orang dengan diabetes di Indonesia cenderung meningkat, di mana pada tahun 2007 sebesar 5,7% dan tahun 2013 sebesar 6,9%. Pada tahun 2045, jumlahnya diperkirakan menjadi 16,7 juta penderita diabetes dengan usia  20-79 tahun. Kondisi seperti ini membuat Dr.Indra Wijaya mempunyai keprihatian dan misi untuk memerangi penyakit diabetes di Indonesia . Untuk mengembangkan keilmuannya sekarang belajar  S-3 di empat perguraan tinggi di dalam negeri dan luar negeri . Luar biasa untuk menjawab tantangan ke masa depan  , tentu diperlukan persiapan dan hal ini sedang dikerjakan oleh Dr.Indra Wijaya . Semoga berhasil dan sukses selalu…(abc)


Link : https://www.instagram.com/p/CDq0M6QFV9e/ 

Sabtu, 15 Agustus 2020

Berjuang demi tanah air …

detik.new
foto detik.new
“Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan  mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah. “

( 1 Petrus 2 : 6 )


Anthony nama siswa itu , di kelas tidak terdengar suaranya  tetapi di TETO ( Teater Tomang ) cukup terkenal karena perannya menjadi seorang pemain yang handal  . TETO adalah nama teater yang cukup punya nama di komunitas teater pelajar DKI Jakarta dan sekitarnya . Karena hampir tiap tahun TETO mengikuti festival teater pelajar se Jabotabek bahkan TETO pernah  mendapat predikat teater pelajar terbaik se-DKI Jakarta Tahun 2011 .Semua kategori penilaian juri disabetnya dan TETO mulai unjuk gigi . Keberhasilan TETO tentu membanggakan bagi sekolah  dan menjadi trade mark SMA K IPEKA Tomang Jakarta . Tidak hanya menjadi pemain TETO tetapi Anthony mempunyai suara yang  indah  sehingga sering menjadi mc dan song leader dalam setiap kebaktian di sekolah . 

Saya sangat terkejut ketika Bu Lydia guru SMA K  IPEKA BSD memberi rekaman youtube untuk media pembelajaran PPKn , terlihat di situ Anthony dan Kevin sedang menyanyikan lagu nasionalisme berjudul Manisnya Negeriku . Lagu yang sangat sederhana tetapi menyentuh hati . Syair lagu mengingatkan tentang Bhinneka  Tunggal Ika  dan harus dijaga persatuan dengan dasar Pancasila dan UUD 1945  . Tinggal dan belajar di Belanda tentu memberi kerinduan sendiri tentang tanah airnya . Dan itu yang dirasakan oleh Anthony sehingga berkumandang   lagu tersebut. Rasa kebangsaan di tanah air orang lain lebih dirasakan ketimbang  ketika berada di tanah air . Kita masih teringat 28  tahun yang lalu ketika  pasangan Susi Susanti dan Alan Budikusuma mempersembahkan dua buah medali emas dalam ajang Olimpiade 1992 yang diselenggarakan di Barcelona. Saat itu kedua pasangan pemain bulu tangkis meneteskan air mata setelah tangannya memberi penghormatan kepada Sang Merah Putih dan mendengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya . Rasa haru dan bangga menjadi satu raga dan jiwa menyatu untuk ibu pertiwi. Tidak ada kata terucap , hanya sosok terlihat bahwa cinta tanah air terpatri dalam dada. 

Anthony tentu bukan Mohammad Hatta yang mendapatkan beasiswa dari Yayasan van Deventer. Ia resmi menjadi mahasiswa Handelshogeschool atau Sekolah Tinggi Bisnis di Rotterdam pada 19 September 1921. Ia tiba di Belanda pada 5 September 1921. Sepekan kemudian, Nazir Sutan Pamontjak menyambangi Hatta, mengajak bergabung dengan Indische Vereeniging, organisasi mahasiswa Hindia Belanda di Negeri Kincir Angin itu. Tawaran tersebut tak bertepuk sebelah tangan. Pada 23 September 1927, bersama Nazir Sutan Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul Madjid Djojoadiningrat, Hatta ditangkap polisi Belanda. Tuduhannya menghasut publik untuk melawan pemerintah, terutama via tulisan-tulisan di Indonesia Merdeka. Jaksa juga menuduh Perhimpoenan Indonesia bekerja sama dengan kaum komunis dalam menggalang pemberontakan di Hindia Belanda pada 1926.


Pada 9 Maret 1928, Hatta menyampaikan pidato pembelaan yang termasyhur, Indonesie Vrij atau Indonesia Merdeka. Dalam pidato sepanjang 3 setengah jam itu, Hatta menguliti praktik eksploitasi yang dilakukan rezim kolonial di Hindia Belanda. Ia memanfaatkan hasil belajarnya dalam bidang ekonomi-politik untuk melakukan hal tersebut dengan bernas.


Dalam salah satu bagian pledoi, Hatta menulis, "Kami percaya masa datang bangsa kami dan kami percaya atas kekuatan yang ada dalam jiwanya. Kami tahu bahwa neraca kekuatan di Indonesia senantiasa berkisar ke arah keuntungan kami." 13 hari kemudian, pengadilan di Den Haag membebaskan mereka semua. Tetapi ada kesamaan perjuangan , Mohammad Hatta berjuang demi Indonesia merdeka dan Anthony berjuang untuk mengisi kemerdekaan . Anthony belajar untuk masa depan Indonesia merdeka . Kuliah di jurusan pertanian organik di Belanda dan sekarang sedang menyelesaikan tensisnya berharap ke Indonesia untuk ,mengabdi bagi Indonesia Jaya . Semoga semangat dan perjuangan Soekarno &  Hatta   mewarnai batin Anthony untuk mencapai cita-cita membangun bangsa  dan negara .  DIRGAHAYU INDONESIA ke 75 , INDONESIA MERDEKA  (abc)


Link Ini lagu  Anthony dan Kevin 

https://www.youtube.com/watch?v=tf9Qu7zvUwo


Selasa, 11 Agustus 2020

Musik duniaku…

“Para imam telah siap berdiri pada tempat mereka. Begitu pula orang-orang Lewi   telah siap dengan alat-alat   musik untuk memuliakan TUHAN, yakni alat-alat musik yang dibuat raja Daud untuk mengiringi nyanyian syukur bagi TUHAN: "Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!" setiap kali mereka ditugaskan Daud menyanyikan puji-pujian. Dalam pada itu para imam berdiri berhadapan dengan mereka sambil meniup nafiri, sedang segenap orang Israel berdiri.”

( 2 Tawarikh 7 : 6 )


Terima kasih Kokumi telah memercayai kami dalam membuat jingle ini. Menantikan untuk mendengar Watashi Wa Unicorn di setiap toko Kokumi di seluruh dunia 😍😍😍🌈🌈🌈


Ucapan di facebook Nina  Sari Ishak tanggal 20 Juli 2020 membuktikan bahwa Nina seorang musikus Indonesia yang tidak terabaikan .Jingle berjudul Watashi Wa Unicom menjadi lagu promo untuk produk minuman dari Kokumi perusahaan anak bangsa . Tidak heran  kalau sekarang Nina Sari menjadi seorang musikus karena saya sebagai guru mengenal Nina sejak kelas satu SMA telah mahir  bermusik . Setiap kebaktian sekolah atau acara apapun di SMA , Nina Sari terjun menyatu  dalam bermusik . Bahkan sejak SMP sudah mulai main orkestra untuk setiap penampilan di panggung . Dunia musik telah menjadi pilihan hidupnya . Setelah menamatkan SMA K IPEKA Tomang melanjutkan ke  Jurusan Professional Contemporary Performance di Universitas Pelita Harapan . Kemudian mendapatkan beasiswa melanjutkan pendidikan di Jurusan Music di Ouachita Baptist University , USA . Menjadi pengajar di UPH College selama dua tahun dan akhirnya menjadi musikus profesional .


 Menjadi musikus profesional dijalani , berbagai pekerjaan telah dilewati untuk mengasah kepiawian bermusik . Mulai bekerja di pernah bekerja sebagai  Head of Program Development di Unlimited Worship ,bekerja sebagai  Piano Teacher di Gitanada School of Music ,UPH College , bekerja sebagai  Pianist di LaModa , bekerja sebagai  Music Organizer & Consultant di Nina Sari Ishak dan bekerja sebagai  Keyboardist di RAN. Berbagai konser di atas panggung baik di dalam maupun luar negeri membuktikan bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik bagi kehidupan . Hal itu sudah dijalani bertahun-tahun dan bermusik menjadi dunianya .Bukan hanya piano andalannya tetapi hampir semua alat musik bisa dimainkan .Mulai dari gitar , seruling , terompet dan drum menjadi permainannya dalam bermusik . Berbagai arrasement , harmoni dan pepaduan suara menjadi rangkaian orkestra bersuara nyaring bergema bagaikan suara malaikat dari surga . 

Menjadi impiannya adalah berkarya dan menjadi produser dan itu sedang dijalani karena berkat Tuhan . Bulan Agustus tahun ini akan merilis album untuk kesehatan yaitu teman dalam tidur berjudul Lelap .Itulah bukti impiannya telah menjadi kenyataan.

Belajar dari pengalaman Nina Sari  talenta bermusik sejak kecil diasih ,  diasah dan diasuh  akhirnya membuahkan hasil untuk sesama dan kemulian nama Tuhan .(abc) 


Link : Video jugle cipta. Nina Sari Ishak

https://www.facebook.com/ninasariishak/videos/10157772329431559


Minggu, 09 Agustus 2020

TIMBANGAN EMAS TIDAK LEBIH BERHARGA DARI EMASNYA

Belajar Mengajar SD Hingga SMP di Surabaya Menggunakan Animasi
Jatim.net com

“Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu “ ( Yohanes 13:14 )

 

Dalam sebuah diskusi, seorang murid bertanya kepada gurunya,

Murid : "Jika memang benar para guru adalah orang- orang pintar !, Mengapa bukan para guru yang menjadi pemimpin dunia,  pengusaha sukses, dan orang- orang kaya- raya itu ?

Gurunya tersenyum bijaksana, tanpa mengeluarkan separah katapun, ia masuk ke ruangannya, dan keluar kembali dengan membawa sebuah timbangan.

Ia meletakkan timbangan tersebut diatas meja, dan  berkata : " Anakku, ini adalah sebuah timbangan, yang biasa digunakan untuk mengukur berat emas dengan kapasitas hingga 5000 gram".

"Berapa harga emas seberat itu? "

Murid mengernyitkan keningnya, menghitung dengan kalkulator dan kemudian ia mejawab,

"Jika harga satu gram emas adalah 800 ribu rupiah, maka 5000 gram akan setara dengan 4 milyard rupiah".

Guru : " Baiklah anakku, sekarang coba bayangkan seandainya ada seseorang yang datang kepadamu membawa timbangan ini dan ingin menjualnya seharga itu, adakah yang bersedia membelinya? "

Murid terdiam sejenak !, Merasa mulai mendapatkan sedikit pencerahan dari sang guru, lalu ia berkata : "Timbangan emas tidak lebih berharga dari emasnya!, saya bisa mendapatkan timbangan ini dengan harga dibawah dua juta rupiah !, Mengapa harus membayar sampai 4 milyar ? "

Guru menjawab : " Nah, anakku, kini kau sudah mendapatkan pelajaran, bahwa kalian para murid, adalah seperti emas, dan kami adalah timbangan akan bobot prestasi mu, kalianlah yang seharusnya menjadi perhiasan dunia ini, dan biarkan kami tetap menjadi timbangan yang akurat dan presisi untuk mengukur kadar pengetahuanmu. "

"Jika ada seseorang datang kepadamu membawa sebongkah berlian ditangan kanannya dan seember keringat ditangan kirinya, kemudian ia berkata : "Ditangan kiriku ada keringat yang telah aku keluarkan untuk menemukan sebongkah berlian yang ada ditangan kananku ini,  tanpa keringat ini, tidak akan ada berlian, maka belilah keringat ini dengan harga yang sama dengan harga berlian"

"Apakah ada yang mau membeli keringatnya? "

"Tentu tidak."

"Orang hanya akan membeli berliannya dan mengabaikan keringatnya. Biarlah kami, para guru menjadi keringat itu, dan kalianlah yang seharusnya menjadi berliannya”.

Sang murid menangis, ia memeluk gurunya dan berkata : "Wahai guru, betapa mulia hati kalian, dan betapa ikhlasnya, kami tidak akan bisa melupakan kalian, karena dalam setiap kepintaran kami, setiap kilau permata kami, ada tetes keringatmu..”

Guru berkata : " Biarlah keringat itu menguap, menuju alam hakiki disisi Sang Pencipta , karena hakikat akhirat lebih mulia dari segala pernak- pernik dunia ini, mohon jangan lupakan nama kami dalam doa-doa kalian. "

Kebanggaan seorang guru , melihat sang murid menjadi manusia seutuhnya…

  

Minggu, 02 Agustus 2020

Sekolah jangan dipaksakan…

Publikasikan Perjuangan dari Masing-masing Rusun atau Apartemen ...
foto.Kappri .Word Press.com 


“Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi”

 ( 2 Korintus 10:3 )


Billy adalah murid yang mendapatkan bea siswa untuk mengikuti pendidikan di sekolah kami. Anaknya memang dari latar belakang broken home sehingga dia diasuh dalam sebuah panti asuhan . Pendidikannyapun dari persamaan Kejar  paket B  artinya bukan dari sekolah formal . Kelompok Belajar atau Kejar adalah jalur pendidikan nonformal yang difasilitasi oleh Pemerintah untuk siswa yang belajarnya tidak melalui jalur sekolah, atau bagi siswa yang belajar di sekolah berbasis kurikulum non pemerintah seperti Cambridge, dan IB (International Baccalaureate). Di Indonesia ada tiga Kejar Paket yaitu Paket A dapat mengikuti Ujian Kesetaraan SD, peserta Kejar Paket B dapat mengikuti Ujian Kesetaraan tingkat SLTP dan peserta Kejar Paket C dapat mengikuti Ujian Kesetaraan SMU/SMK/MA. Bagi Billy ada kesulitan untuk adaptasi proses pembelajaran dari pendidikan non-formal ke pendidikan formal . Tidak mengherankan rapot semester merah semua hanya olah raga yang nilainya baik . Memang dia jago main sepak bola , dia pemain utama regu futsal di sekolah kami .  Bagi saya  sebagai wali kelas merupakan ujian berat karena harus memberikan motivasi yang baik bagi Billy .Orang tua wali murid sudah saya panggil untuk memberi motivasi bagi Billy , tetapi hasilnya belum memuaskan karena memang Billy tidak mampu untuk belajar di sekolah formal. Guru BP pun sudah berusaha untuk memberikan pembinaan terhadap anak ini tetapi hasilnyapun nihil . Sampai akhirnya Billy tidak naik kelas dan semua itu karena memang anaknya tidak mampu untuk belajar di tingkat SMA.

Pengalaman Billy ini menjadi pelajaran bagi saya sebagai guru , jangan memaksakan seseorang untuk mengikuti kemauan kita yang tidak sesuai dengan kemampuan dirinya . Perlu dicermati apakah latar belakangnya sesuai dengan minat , bakat dan potensi dalam dirinya . Hal ini menjadi perhatian bagi kita  bahwa jangan memaksakan seseorang untuk sekolah yang tidak sesuai dengan potensi yang dimilikinya . Masih banyak pilihan bagi seseorang untuk menjadi apa di kemudian hari ?  Menurut Rocky Gerung , sekolah hanya untuk mendapat ijazah bukan untuk mengubah pikiran seseorang . Kesuksesan seseorang tidak ditentukan oleh sekolah . Banyak orang sukses tidak ditentukan oleh ijazah sekolah . mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti tidak lulus SMA ,Alam Wiyono (Direktur Markrting PT Toyota-Astra Motor),Sukyatno Nugroho (Es Teller 77,Mie Tek-tek ), Stevanus Abrian Natan ( Direktur Eksekutif PT Centranusa  Insancemerlang , trendsetter dan market leader industry MLM di Indonesia ) , Bob  Sadino (KemChick), Willy Sidharta (Presiden Direktur PT Aqua Golden Mississippi) dan lain-lain . Mereka semua tidak mendapat ijazah dari sekolah tetapi mereka bisa hidup sukses .Faktor apa yang menyebabkan mereka sukses , menurut Andrias Harefa dalam bukunya Sekolah Saja Tidak Pernah Cukup mengatakan ada tujuh faktor yaitu pertama ide , keyakianan dan visi kuat mengenai masa depan masyarakat dunia dan bagaimana menangguk keuntungan dari semua hal itu ; kedua , mereka memiliki sensitivitas terhadap kebutuhan pasar ; ketiga ,mereka sangat kreatif untuk menciptakan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar ; keempat ,  mereka mengembangkan keberanian untuk mengambil resiko dalam usia muda (risk-taker); kelima , mereka memiliki kebiasaan bekerja keras , yang bagi mereka justru menyenangkan karena karena pilihan kerja mereka bertalian erat dengan minat dan bakat atau talenta pribadi ; keenam , mereka memiliki toleransi terhadap kegagalan dan tidak menganggapnya sebagi hal yang haram atau najis tetapi justru perlu untuk dapat sungguh-sungguh berhasil ; ketujuh , mereka pantang menyerah dan mendemonstrasikan ketekunan bekerja yang luar biasa . Ketujuh faktor ini tidak diajarkan secara formal di sekolah tetapi justru lebih diajarkan dalam kegiatan ektra-kurikuler  SMA . Anehnya ada beberapa guru yang alergi terhadap kegiatan ekstra-kurikuler , mereka lebih berkutat terhadap pendidikan akademik yang hanya dinikmati oleh segelintir orang saja . Disinilah perlu ada paradigma baru terhadap pendidikan bahwa sekolah bukan hanya untuk mendidik secara akademik saja tetapi lebih dari itu menyiapkan dan mendewasakan seseorang sesuai dengan potensi , talenta dan karakter  dalam diri anak . Ini tugas guru , berat tetapi bisa dilakukan …(abc)

 

 


Organisasi Bayangan versi Nadiem

                   Nadiem dengan belajar merdeka "Pendikan adalah paspor untuk masa depan karena hari esok adalah milik mereka yang mem...