Dalam dunia pewayangan Resi Durna menjadi guru bagi Pandawa dan Kurawa . Durna berwatak; tinggi hati, sombong, congkak, bengis, banyak bicaranya, tetapi kecakapan, kecerdikan, kepandaian dan kesaktiannnya luar baisa serta sangat mahir dalam siasat perang.
Pandawa digambarkan sebagai lima satria yang membela kebenaran dan keadilan sedangkan Kurawa digambarkan seratus satria dengan hati bengis, jahat dan licik . Di tangan Resi Durna kedua sifat melambangkan kebaikan dan kejahatan bertarung untuk sebuah tujuan kehidupan . Resi Durna digambarkan bermata kriyipan (berkejab-kejab) berhidung mungkal gerang, seperti batu asahan yang sudah aus. Bermulut gusen (kelihatan gusinya). Berdagu mengerut, menandakan dagu orang tua. Berjenggot. Berkain bentuk rapekan pendeta. Hanya tangan belakangnya yang bisa digerakkan. Tangan yang lainnya memegang tasbih. Bercelana cindai dan bersepatu. Dua watak terpatri dalam diri Resi Durna yang melambangkan hitam dan putih manusia . Dalam diri manusia terdapat kebaikan sekaligus keburukan . Namun akhirnya dalam perang Baratayuda, Durna tewas oleh Raden Drustajumna karena tusukan keris yang telah kemasukan jiwa Prabu Palgunadi yang membalas dendam pada Durna. Kejahatan selalu dikalahkan oleh kebaikan .
Plato adalah murid Socrates yang juga pendiri Universitas Pertama di Dunia. Plato adalah seorang filsuf besar dari Athena yang hidup antara 428-347 SM. Ia adalah salah satu tokoh penting dari dunia Yunani Kuno dan sangat berpengaruh dalam sejarah pemikiran Barat. Ia adalah murid dari Socrates dan guru dari Aristoteles. Secara historis, filsafat Socrates mengandung pertanyaan karena Socrates sendiri tidak pernah diketahui menuliskan buah pikirannya. Sesuatu yang dikenal sebagai pemikiran Socrates pada dasarnya adalah berasal dari catatan Plato, Xenophone (430-357) SM, dan siswa-siswa lainnya yang paling terkenal di antaranya adalah penggambaran Socrates dalam dialog-dialog yang ditulis oleh Plato. Dalam karya-karyanya, Plato selalu menggunakan nama gurunya sebagai tokoh utama sehingga sangat sulit memisahkan gagasan Socrates yang sesungguhnya dengan gagasan Plato yang disampaikan melalui mulut Socrates. Nama Plato sendiri hanya muncul tiga kali dalam karya-karyanya sendiri yaitu dua kali dalam Apologi dan sekali dalam Phaedrus.Plato sangat menghargai Socrates karena setiap karya Plato selalu dicantumkan tentang Socrates . Namun akhir hidup Socrates sangat tragis karena dituduh telah merusak moral generasi muda . Akhirnya wafat pada usia tujuh puluh tahun dengan cara meminum racun sebagaimana keputusan yang diterimanya dari pengadilan dengan hasil voting 280 mendukung hukuman mati dan 220 menolaknya. Plato sebagai muridnya tidak bisa membela gurunya . Keberaniannya dalam menghadapi maut digambarkan dengan indah dalam Phaedo karya Plato. Kematian Socrates dalam ketidakadilan peradilan menjadi salah satu peristiwa peradilan paling bersejarah dalam masyarakat Barat.
Dalam Injil diceritakan tentang Yesus dengan dua belas muridnya . Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri itu ajaran kasih yang diajarkan Yesus kepada murid-muridnya . Namun dalam perjalanannya Yudas Iskariot muridnya mencium pengkhianatan untuk gurunya . Petrus sebagai muridNya melawan dengan pedang tetapi keberanian luluh ketika tiga kali menyangkal Yesus saat diadili di Mahkamah Pengadilan Agama . Tidak ada pembelaan , melarikan diri dan ketakutan para murid ketika tangan dan kaki Sang Guru tertusuk paku di salib . Setelah kebangkitan dan kenaikan Yesus ke sorga baru ada keberanian dalam diri murid-muridNya yang disebut dengan para rasul . Mereka menjalankan Amanat Agung di seluruh bangsa . Banyak diantara para rasul mati menjadi martil untuk membela sebuah kebenaran Sang Guru . Kematian Petrus dikisahkan dibunuh dengan cara disalibkan secara terbalik dengan posisi kepala dibawah. Kematian tragis yang dialami Andreas yaitu dia mati disalib dengan posisi membentuk huruf X. Matius mati karena disiksa kemudian dibunuh menggunakan pedang di daerah Etiopia. Yakobus mati karena dirajam dan dilemparkan dari puncak bumbungan bait Allah .Yohanes pernah direbus hidup-hidup pada kuali minyak yang mendidih, akan tetapi menurut sejarah Yohanes berhasil selamat dan tidak mengalami luka-luka sedikitpun karena pertolongan Tuhan. Akan tetapi setelah itu Yohanes dibuang dan diasingkan ke sebuah pulau. Bartolomeus yang lebih dikenal sebagai Natanael ia menjadi misionaris di Asia, antara lain ia memberikan kesaksian di Turki. Ia meninggal dunia di Armenia setelah ia mendapat hukuman pukulan cambuk yang sedemikian kejamnya sehingga semua kulitnya menjadi hancur terlepas kebeset. Itu sebagian murid Yesus yang mati untuk sebuah kebenaran yang diajarkan oleh Yesus Sang Guru .
Dalam sejarah Indonesia kita bisa melihat HOS Tjokroaminoto merupakan guru bagi tokoh-tokoh yang kelak sangat berpengaruh, seperti Soekarno, Semaoen, Musso, hingga Maridjan Kartosoewirjo. Maka, tidak berlebihan jika Tjokroaminoto boleh disebut sebagai bapaknya bapak bangsa Indonesia. Jejak langkah Tjokroaminoto. Lahir di Bakur, Madiun, Jawa Timur, tanggal 16 Agustus 1882. Ayahnya, R.M. Tjokroamiseno, adalah seorang wedana atau asisten bupati. Sedangkan sang kakek, R.M. Adipati Tjokronegoro, pernah menjadi Bupati Ponorogo.Lulus dari Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) di Magelang. OSVIA adalah sekolah bagi calon abdi negara pemerintah kolonial Hindia Belanda. Tamat dari OSVIA, Tjokroaminoto sempat bekerja di kesatuan pegawai administratif di Ngawi. Atas saran Tjokroaminoto, Haji Samanhoedi mengubah nama Sarekat Dagang Islam (SDI) menjadi Sarekat Islam (SI). Tjokroaminoto sendiri adalah anggota SI Surabaya yang kemudian menjadi ketua cabang.Dalam Kongres SI pertama pada 25 Maret 1913 di Surakarta, Tjokroaminoto ditunjuk menjadi wakil Ketua CSI (Centraal Sarekat Islam) mendampingi Hadji Samanhoedi sebagai Ketua CSI yang berpusat di Solo.Tjokroaminoto terpilih sebagai Ketua CSI dalam kongres kedua pada 19-20 April 1914 di Yogyakarta menggusur Samanhoedi. Kantor pusat SI pun dipindahkan dari Surakarta ke Surabaya. Di tahun pertama kepemimpinan Tjokroaminoto, anggota resmi SI tercatat mencapai 400.000 orang.Awal Februari 1918, Tjokroaminoto memimpin Tentara Kandjeng Nabi Mohammad (TKNM) di Surabaya dan menggerakkan aksi bela Islam sebagai respons atas tulisan di majalah Djawi Hiswara yang dianggap menghina Nabi Muhammad. Tahun itu, massa SI berjumlah 450 ribu orang. Pada 1919, sebagai dampak aksi tersebut, anggota SI membengkak menjadi 2,5 juta orang.Setelah berhasil mendepak anggota SI yang terindikasi berafiliasi dengan paham kiri, Tjokroaminoto mengubah nama SI menjadi Partai Sarekat Islam (PSI) yang jelas-jelas berhaluan politik.Dalam kongres yang digelar pada Januari 1929, diputuskan bahwa PSI berganti nama lagi menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Tjokroaminoto kembali terpilih sebagai ketua umum untuk kesekian kalinya.Tanggal 17 Desember 1934, Tjokroaminoto meninggal dunia. Setelah itu, PSII terpecah-belah dengan hengkangnya beberapa tokoh penting, termasuk Haji Agus Salim setelah berselisih dengan adik Tjokroaminoto, Abikoesno Tjokrosoejoso.
Di rumah Tjokroaminoto di Jalan Peneleh VII, Surabaya, Jawa Timur, dihuni sekitar 30 pemuda Indonesia, diantaranya yaitu Soekarno, Semaoen, Musso dan Maridjan Kartosoewirjo. Mereka bergulat dengan ambisi dan ideologinya .Tjokroaminoto sebagai guru bagi para pejuang pergerakan tentu memberikan nilai-nilai kepada para muridnya . Tentu bukan indokrinasi dan paksaan melainkan nilai kebangsaan bagi muridnya . Sampai akhirnya pilihan jatuh pada tangan para muridnya Soekarno beraliran ideologi nasionalis , tahun 1927 mendirikan Partai Nasional Indonesia Aktivitas Soekarno di PNI menyebabkannya ditangkap Belanda pada tanggal 29 Desember 1929 di Yogyakarta dan esoknya dipindahkan ke Bandung, untuk dijebloskan ke Penjara Banceuy. Pada tahun 1930 ia dipindahkan ke Sukamiskin dan di pengadilan Landraad Bandung 18 Desember 1930 ia membacakan pledoinya yang fenomenal Indonesia Menggugat, hingga dibebaskan kembali pada tanggal 31 Desember 1931.
Tahun 1914, ketika masih 15 tahun, Semaoen masuk ke Sarekat Islam (SI) Surabaya yang dipimpin H.O.S. Tjokroaminoto. Dia selalu menganggap Ketua SI itu sebagai guru politiknya. Di antara murid-murid Tjokro yang menonjol (macam Musso, Kartosuwiryo dan Sukarno), Semaoen paling rendah sekolahnya. Setelah pertemuannya dengan Henk Sneevliet, dia juga bergabung dengan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV), sebuah organisasi sosialis di Hindia. Di situ, Sneevliet juga bertindak sebagai mentor politik Semaoen. Tapi, Tjokroaminoto memiliki pengaruh lebih mendalam baginya ketimbang Sneevliet.
Dari Surabaya, Semaoen kemudian pindah ke Semarang pada Juli 1916 dan bekerja sebagai propagandis VSTP. Dia juga tetap berperan jadi juru propaganda SI. Ia memperluas basis SI Semarang yang saat itu hanya beranggotakan 1.700 orang (1916). Serentak dengan dengan pertambahan jumlah menjadi 20.000 orang (1917) untuk mempermudah pengorganisasian ia melakukan penataan struktur organisasi. Di bawah SI Semarang dibentuk kelompok-kelompok (suborganisasi) atas dasar latar belakang sosial ekonomi.
Selain itu, Semaoen juga berkiprah di bidang jurnalistik. Dia bekerja sebagai redaktur koran Si Tetap, organ VSTP berbahasa Melayu. Koran terkenal yang pernah digelutinya adalah Sinar Djawa, sejak 19 November 1917. Pada Hari Buruh 1 Mei 1918, Sinar Djawa berubah nama menjadi Sinar Hindia. Lewat tulisan-tulisannya, Semaoen yang jago propaganda itu berani berdebat dan menyerang orang-orang yang lebih tua dan tinggi sekolahnya. Musuh besar Semaoen tentu saja pemerintah kolonial.
Di tahun 1920-an pula ISDV akhirnya memakai nama Partai Komunis Hindia, dan belakangan menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Di partai ini, Semaoen menjadi salah satu pemimpin terkemuka. Pada awal pendiriannya, PKI kerap bersentuhan dengan para buruh. Semaoen, sebagai pemimpin buruh, tentu menjadi orang yang dimintai tanggung jawab oleh pemerintah kolonial jika ada pemogokan. Saat itu, pemogokan buruh memang banyak terjadi. Salah satu yang paling bikin pusing pemerintah kolonial adalah pemogokan buruh kereta api pada 1923 karena pengangkutan komoditas penghasil duit bagi pemilik modal dan pemerintah jadi tersendat.
Tak heran jika rumah Semaoen di Tegalwareng, Semarang, disatroni polisi pada awal Mei. Padahal, menurut koran Darmo Kondo (9/5/1923), saat itu Semaoen sedang menanti kehadiran anaknya. Menurut Darmo Kondo pula (22/8/1923), Semaoen akhirnya dibuang ke negeri Belanda karena dianggap mengganggu ketentraman umum. Istrinya yang baru saja melahirkan tak bisa ikut serta. Di antara kawan-kawannya, hanya Darsono saja yang bisa menemuinya sebelum berangkat dengan menumpang kapal api Koningin de Nederlander pada 18 Agustus 1923. Pembuangan ini sebenarnya ditentang seorang anggota Volksraad wakil golongan sosialis Belanda, Stokvis; tapi pemerintah kolonial tidak menghiraukannya.
Semaoen tiba di Amsterdam pada 20 September 1923. Darsono kemudian menyusulnya pada 1926. Sekitar tahun 1927, Semaoen aktif menulis di surat kabar dwimingguan Recht en Vrijheid (Keadilan dan Kemerdekaan). Semasa di Belanda, Semaoen dianggap sebagai orang yang mendekatkan Perhimpoenan Indonesia dengan kelompok komunis.
Sewaktu berada di Surabaya, Musso kos di rumah Tjokroaminoto dan bertemu dengan H.J.F.M. Sneevliet. Musso muda juga satu kos bersama Soekarno dan Kartosuwiryo muda yang kelak mereka akan berbeda haluan ideologi dalam pemikiran.Ketika Tjokroaminoto mendirikan Sarekat Islam pada 1912, Musso aktif di dalamnya. Musso juga aktif di ISDV bentukan Sneevliet yang menjadi cikal bakal Partai Komunis Indonesia.Musso adalah salah satu pemimpin PKI di awal 1920-an. Dia adalah pengikut Stalin dan anggota dari Internasional Komunis di Moskwa. Pada tahun 1925 beberapa orang pemimpin PKI membuat rencana untuk menghidupkan kembali partai ini pada tahun 1926, meskipun ditentang oleh beberapa pemimpin PKI yang lain seperti Tan Malaka. Pada tahun 1926 Musso menuju Singapura dimana dia menerima perintah langsung dari Moskwa untuk melakukan pemberontakan kepada pemerintahan kapitalis Belanda. Musso dan pemimpin PKI lainnya, Alimin, kemudian berkunjung ke Moskwa, bertemu dengan Stalin, dan menerima perintah untuk membatalkan pemberontakan dan membatasi kegiatan partai menjadi dalam bentuk agitasi dan propaganda dalam perlawananan nasional. Akan tetapi pikiran Musso berkata lain. Pada bulan November 1926 terjadi beberapa pemberontakan PKI di beberapa kota termasuk Batavia (sekarang Jakarta), tetapi pemberontakan itu dapat dipatahkan oleh penjajah Belanda. Musso dan Alimin ditangkap. Setelah keluar dari penjara Musso pergi ke Moskwa, tetapi kembali ke Indonesia pada tahun 1935 untuk memaksakan "barisan populer" yang dipimpin oleh 7 anggota Kongres Komintern. Akan tetapi dia dipaksa untuk meninggalkan Indonesia dan kembali ke Uni Soviet pada tahun 1936.
Setelah lulus dari ELS pada tahun 1923, Kartosoewirjo melanjutkan studinya di Perguruan Tinggi Kedokteran Nederlands Indische Artsen School.Pada masa ini, ia mengenal dan bergabung dengan organisasi Syarikat Islam yang dipimpin oleh H. O. S. Tjokroaminoto. Ia sempat tinggal di rumah Tjokroaminoto. Ia menjadi murid sekaligus sekretaris pribadi H. O. S. Tjokroaminoto. Tjokroaminoto sangat memengaruhi perkembangan pemikiran dan aksi politik Kartosoewirjo. Ketertarikan Kartosoewirjo untuk mempelajari dunia politik semakin dirangsang oleh pamannya yang semakin memengaruhinya untuk semakin mendalami ilmu politik. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila nanti Kartosoewirjo tumbuh sebagai orang yang memiliki integritas keIslaman yang kuat dan kesadaran politik yang tinggi. Tahun 1927, Kartosoewirjo dikeluarkan dari Nederlands Indische Artsen School karena ia dianggap menjadi aktivis politik serta memiliki buku sosialis dan komunis.Kariernya kemudian melejit saat ia menjadi sekretaris jenderal Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). PSII merupakan kelanjutan dari Sarekat Islam. Kartosoewirjo kemudian bercita-cita untuk mendirikan negara Islam (Daulah Islamiyah). Ia kemudian keluar dari PSII dan mendirikan Komite Pembela Kebenaran Partai Sarekat Islam Indonesia (KPKPSII).
Masa kemerdekaan akhirnya Soekarno-Moh.Hatta memproklamirkan kemerdekaannya tanggal 17 Agustus 1945 . Satu hari kemudian tanggal 18 Agustus 1945 , PPKI memilih Soekarno menjadi Presiden dan Moh.Hatta menjadi Wakil Presiden . Dalam perjuangan setelah proklamasi kemerdekaan, Soekarno masih berjuang untuk mempertahankan kemerdekaannya . Musuh bukan hanya dari Belanda yang ingin menguasai kembali di Indonesia tetapi pemberontakan dalam negeri terjadi ingin memisahkan wilayah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia . Dua sahabat, Musso–Sukarno, berjumpa tepatnya pada 13 Agustus 1948 di Istana Negara. Banyak saksi sejarah yang melukiskan betapa mengharukannya pertemuan itu.Bung Karno nyerocos berbicara tentang perkembangan komunisme di dunia, dan ini membuat Musso ternganga. Demi melihat itu, Bung Karno cepat menjawab, “Saya ini kan masih tetap muridnya Marx, Pak Cokroaminoto, dan Pak Musso.” Usai pertemuan yang lebih bernuansa kangen-kangenan itu, keduanya langsung kembali kepada habitatnya. Sukarno sebagai presiden dengan kesibukan mengatur sistem tata-negara , Muso dan PKI-nya .
Setelah pertemuan Bung Karno dan Musso, pecahlah pemberontakan Madiun. Terjadilah perang statemen antara Musso dan Bung Karno. Mereka pun saling memaki di media. Puncak pernyataan Bung Karno yang terkenal waktu itu adalah, “Pilih Musso atau Sukarno”.Pada 11 Agustus 1948 Musso kembali ke Indonesia lewat Yogyakarta. Pada tanggal 5 September 1948 dia memberikan pidato yang menganjurkan agar Indonesia merapat kepada Uni Soviet. Pemberontakan terjadi di Madiun, Jawa Timur ketika beberapa militan PKI menolak untuk dilucuti. Pihak militer menyebutkan bahwa PKI memproklamasikan "Republik Soviet Indonesia" pada tanggal 18 September 1948 dan mengangkat Musso sebagai presiden dan Amir Sjarifuddin sebagai perdana menteri. Akan tetapi pemberontakan dapat dipadamkan oleh pihak militer. Pada tanggal 30 September 1948, Madiun direbut oleh TNI dari Divisi Siliwangi. Ribuan kader partai terbunuh dan sejumlah 36.000 orang dipenjarakan. Di antara yang terbunuh adalah Musso pada tanggal 31 Oktober, ketika rombongannya bertemu dengan pasukan TNI yang memburunya.Pemberontakan Madiun berhasil ditumpas, dan para tokohnya dihukum. Apa kata Bung Karno tentang Musso pada bukunya? Ia tetap menghormati Musso sebagai salah seorang gurunya. “Ajaran Jawa mengatakan, seseorang yang menjadi guru kita, harus dihormati lebih dari orangtua.”
Pada masa perang kemerdekaan 1945-1949, Kartosoewirjo terlibat aktif tetapi sikap kerasnya membuatnya sering bertolak belakang dengan pemerintah, termasuk ketika ia menolak pemerintah pusat agar seluruh Divisi Siliwangi melakukan long march ke Jawa Tengah. Perintah long march itu merupakan konsekuensi dari Perjanjian Renville yang sangat mempersempit wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Karena semua perjanjian yang dibuat pemerintah Belanda menyengsarakan rakyat Indonesia, perjanjian-perjanjian semuanya hanya untuk mengelabui orang orang penting agar mereka taat kepada Hindia Belanda. Maka dari itu Kartosoewirjo menolak mentah mentah semua perjanjian yang diadakan oleh Belanda.
Kekecewaannya terhadap pemerintah pusat semakin membulatkan tekadnya untuk membentuk Negara Islam Indonesia. Kartosoewirjo kemudian memproklamirkan NII pada 7 Agustus 1949. Tercatat beberapa daerah menyatakan menjadi bagian dari NII terutama Jawa Barat, Sulawesi Selatan dan Aceh. Pemerintah Indonesia kemudian bereaksi dengan menjalankan operasi untuk menangkap Kartosoewirjo. Gerilya NII melawan pemerintah berlangsung lama. Perjuangan Kartosoewirjo berakhir ketika aparat keamanan menangkapnya setelah melalui perburuan panjang di wilayah Gunung Rakutak di Jawa Barat pada 4 Juni 1962. Pemerintah Indonesia kemudian menghukum mati Kartosoewirjo pada 5 September 1962 di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu, Jakarta.
Berkat bantuan Soekarno, pada 1961, Semaoen bisa pulang ke Indonesia. Dia tak pernah bersentuhan lagi dengan PKI yang sudah sangat berubah. Di masa Orde Lama, Semaoen diangkat sebagai Wakil Ketua Badan Pengawasan Kegiatan Aparatur Negara yang diketuai Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Sebelum meninggal pada April 1971, Semaoen sempat mengajar di Universitas Padjadjaran, Bandung.
Dunia seperti misteri , Tjokroaminoto tidak terbayang akan pilihan murid-muridnya . Soekarno sebagai seorang nasionalisme untuk mempertahankan NKRI , Musso dengan ideologi komunisme ingin mendirikan "Republik Soviet Indonesia" dan Kartosoewiryo ingin mendirikan NII sedangkan Semaoen meninggalkan PKI kembali kepada pangkuan ibu pertiwi . Guru dengan murid beda politik dan ideologi . Tetapi apa kata Soekarno tentang gurunya ““Ajaran Jawa mengatakan, seseorang yang menjadi guru kita, harus dihormati lebih dari orangtua.”
Saya menjadi guru sudah hampir 25 tahun , belajar dari sejarah kita bisa mengetahui bagaimana hubungan antara guru dengan murid .Guru memberi inspirasi kepada murid-muridnya , guru bisa memberi motivasi dan pengaruh kepada murid-muridnya . Tetapi dibalik itu guru juga bisa menjadi racun bagi murid-muridnya seperti yang dilakukan oleh resi Durna .