![]() |
(foto pribadi) |
Sebab
siapakah yang lebih besar: yang duduk makan, atau yang melayani ? Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku
ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan. (Lukas 22:27)
Tahun 2005 , SMA K IPEKA Tomang mengadakan talk show alumni bagi kelas tiga yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi . Salah satu alumni yang datang adalah Solihin , dia sekarang sudah bekerja di lembaga akuntan publik . Hal yang membuat saya kaget adalah dia sekarang menjadi seorang penulis untuk masalah akutansi di Indonesia . Betapa cerdas dan ulet menyelimuti kehidupannya , menjadi seorang akuntan publik profesional sekaligus pengamat akutansi . Tanpa disadari , ingatan saya kembali ke masa lalu. Saat itu tahun 1998 , Solihin kelas 3 IPS 2 di SMA K IPEKA Puri sedangkan saya sudah kenal sejak kelas satu . Namun keakraban antara saya dengan Solihin terjalian ketika kelas 3 IPS 2 . Hal ini terjadi karena setiap hari pulang selalu bersama - sama dengan Solihin ke Tangerang . Dalam perjalanan selama setengah jam terjadilah percakapan antara saya dengan Solihin . Banyak hal dibicarakan mulai dari hal-hal kecil sampai hal-hal yang mendalam . Mendengarkan pembicaraan orang lain menjadi hal yang penting dalam suatu komunikasi . Apalagi pergulatan seorang manusia yang membutuhkan pertolongan . Suatu hal tidak dapat saya tolak untuk mendengarkan . Salah satu pergumulan dialami oleh Solihin adalah mengenai hubungan dengan orang tua . Tidak dapat dipungkiri bahwa perpisahan orang tua telah menjadikan luka batin bagi seorang remaja seusia Solihin . Perpisahan itu menjadi kebencian terhadap sosok ayah yang telah meninggalkan keluarganya . Untuk melenyapkan rasa kebencian dan memulai hidup baru akhirnya Solihin ikut ibunya . Namun kondisi ekonomi menjadikan Solihin ikut tantenya di Tangerang . Saya hanya sebagai guru tentu hanya dapat mendoakan dan berharap Solihin menjalani kehidupan dengan sabar dan tabah . Tuhan tentu punya rencana dan indah pada waktunya . Bersyukur karena Solihin mau belajar dengan tekun dan ulet . Tidak mengherankan kalau dia menjuarai setiap tahunnya ketika duduk di SMA . Setelah lulus SMA , melanjutkan ke Universitas Atmajaya jurusan Akutansi dan lulus tahun 2002 kemudian melanjutkan ke Jurusan International Taxation di The University of Sydney Faculty of Law tahun 2007 , sejak SMA dia bercita-cita ingin menjadi seorang akuntan .
Suatu
ketika dia datang ke rumah saya dengan mengendarai sepeda . Jarak antara rumah
saya dengan rumahnya sekitar 7 km . Saya kaget dan tercengang melihat kehadiran Solihin . Tubuhnya basah
terguyur keringat . Saya pikir kecapaian karena menempuh jarak yang cukup jauh.
Air putih diteguk untuk melenyapkan rasa dahaga . Memang dia sengaja untuk
datang ke rumah saya . Sudah cukup lama saya tidak bertemu dengan Solihin .
Sejak lulus dari SMA , dia tidak pernah mengabarkan beritanya. Lalu dia mulai
cerita tentang keluarganya. Sekarang dia sudah mulai menerima sosok seorang
ayah yang dulu dibencinya . Hubungan dengan ayahnya sudah mulai membaik .
Kedewasaan sudah mulai terpancar dari diri Solihin . Ini terlihat dari cara
bicara dan sosok tubuhnya . Bicaranya pelan , tegas dan memperlihatkan auranya
sebagai sosok seorang yang sudah berubah . Tentu sebagai seorang guru , saya
bersyukur karena muridnya telah berubah . Pendidikannyapun dijalani dengan baik
, dia mendapat bea siswa karena prestasinya di bidang akademik . Mendengarkan
cerita Solihin , dalam hati saya merenungkan diri . Betapa banyak anak-anak
yang datang ke sekolah dengan membawa beban yang cukup berat . Broken home ,
tidak mendapat perhatian dari orang tua , kesepian dan keretakan hubungan
antara orang tua dengan anak . Itu
merupakan sebagian kecil beban yang dibawa oleh seorang anak dan tentu beban
yang lain masih banyak . Ketika seorang anak memperlihatkan kenakalannya , tidak
mau mengikuti aturan sekolah dan berontak . Mungkin itu bukan masalahnya . Itu
baru gejolak yang diperlihatkan seorang anak yang membutuhkan perhatian .
Masalah yang sesungguhnya perlu dicari , diamati dan ditangani . Tidak mudah memang untuk mencari jawaban
permasalahannya ini . Tetapi bukan tanpa alasan kalau kita mendiamkan saja
masalah ini. Menjadi pendengar yang baik
dan mau menempatkan hati kita
kepada orang lain . Mungkin hal ini yang dapat kita lakukan
. Saya yakin banyak anak yang mau datang dan mengadu kepada kita . Karena rumah
bagi mereka tidak membahagiakan bagi mereka . Mereka kesepian karena papa -
mama pergi pagi pulang malam . Mereka
kesepian , mereka perlu teman . Betapa
terkejutnya ketika saya harus
menemani latihan basket sehingga pulang
sore , ada seorang murid yang masih main di lapangan sekolah . Ketika saya
tanya mengapa kamu belum pulang ? Jawabannya karena di rumah tidak ada
siapa-siapa . Lebih baik saya main sama teman di sekolah . Tetapi saya
bersyukur mereka masih di sekolah . Saya tidak bisa membayangkan kalau mereka
ke mall , warnet atau main game lalu mereka akhinya terjerumus ke pergaulan
bebas atau narkoba .Saya mulai berfikir ternyata sekolah menjadi tempat
persinggahan dan pelarian bagi murid kesepian . Lalu saya mulai bertanya dalam hati apakah kita mau mendengarkan mereka dan
menempatkan diri kita terhadap orang lain . Apakah
kita mau memakai sepatu orang lain . Mungkin sepatu itu kekecilan bagi kita
atau justru kebesaran bagi kita . Kita akan merasa sakit kalau sepatu itu
kekecilan atau justru kelongaran karena kebesaran sepatunya . Tetapi justru
peran itulah yang kita lakukan . Maka jadilah pendengar yang baik dan pakailah
sepatu orang lain bagi murid kita. ( abc )