Foto : Kompas.com |
Guru yang sedang-sedang saja memberitahukan. Guru yang baik menjelaskan. Guru yang ulung mendemonstrasikan. Dan Maha guru itu menginspirasi. - William Arthur Ward -
Albert Einstein ketika ditanya oleh wartawan tentang besaran kecepatan cahaya yang ditemukan, Einstein langsung menjawab dengan mengatakan, “cari saja di buku saya, otak saya tidak digunakan untuk menghafal, tapi digunakan untuk berfikir!”
Pernyataan Einstein merupakan kritik tajam terhadap proses pendidikan yang masih banyak mengedepankan hafalan. Sekarang masih dominan guru seolah tugas utamanya adalah menyampaikan serentetan fakta yang harus dihafal oleh muridnya. Semakin banyak yang dihafal, maka nilai tes atau nilai ujian semakin bagus. Namun jangan jadikan hal ini sebagai tujuan utama . Akibatnya bisa kita lihat : siswa hanya belajar saat ulangan/ujian , siswa akan memiliki rasa takut dengan tes tertulis karena tekanan guru dan orangtua , siswa cenderung hanya belajar materi yang akan keluar saat ujian , siswa hanya membaca rangkuman, muncul kasus menyontek dan kecurangan dalam ujian, Hal ini bisa dilihat lagi ketika masih ada ujian nasional dan ujian sekolah pada semester 2, (kelas 6 SD, kelas 9 SMP, dan Kelas 12 SMA), sekolah berubah menjadi lembaga bimbingan belajar yang hanya membahas soal-soal saja.
Setiap sekolah, setiap guru, bahkan juga setiap orang tua memiliki standar sukses yang berbeda-beda. Masih mengutamakan kesuksesan meraih nilai yang bagus saat ulangan atau ujian. Tidak ada yang salah dengan hal ini. Salah satu keberhasilan yang paling mudah diukur dan dilihat adalah hasil nilai saat ujian atau ulangan. Bahkan, tes tertulis merupakan cara termudah mengukur dan mengetahui perkembangan belajar siswa.
Coba kita ingat masa-masa sekolah di tingkat dasar . Apa yang kita ingat ? Apakah materi pelajaran ? Atau yang kita ingat justru pengalaman menyenangkan dan menyedihkan saat mendapat hukuman? Kita lanjutkan ke tingkat SMP. Apa yang kita ingat dengan kuat? Materi pelajaran atau pengalaman berteman dan berinteraksi dengan gurunya? Di tingkat SMA apakah ada materi pelajaran yang masih diingat ? , Coba kita tanya kepada para alumni , jawaban mereka tidak ingat lagi materi yang diajarkan tetapi mereka masih ingat amarah guru karena nyontek di dalam kelas .
Apa yang kita ingat akan memberikan banyak makna . Menghafal fakta-fakta dapat begitu saja berlalu setelah beberapa bulan. Memberikan pengalaman nyata yang melibatkan lima panca indera dalam pembelajaran akan membuat materi pelajaran bertahan lama dalam ingatan. Terlebih lagi, jika yang kita bangun adalah pembentukan cara berkomunikasi dan pembentukan karakter peserta didik.
Pembelajaran menggunakan lima panca indera membantu siswa untuk mempunyai pengalaman yang berkesan bagi siswa . Penggunaan metode V-A-K (Visual-Auditorial-Kinestetik) merupakan penggabungan metode pembelajaran dengan menggunakan media visual (yang dapat dilihat atau diamati), auditorial (yang dapat didengar), atau kinestetik (yang dapat digerakkan atau dimanipulasi), meskipun kadang-kadang juga menggunakan pengecap dan peraba. Dengan demikian siswa terlibat langsung dalam proses pembelajaran maka akan menghasilkan siswa yang “tahu apa “ dan “bisa apa”. Penilaian proses bisa digunakan bukan hanya melalui soal ujian tetapi perlu ada rubrik untuk menentukan kompetensi apa yang sudah tercapai dalam proses pembelajaran.
Saat ini kurikulum yang ada memang masih memiliki produk nilai. Ada Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), ada syarat kenaikan kelas, dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Namun bukan berarti kita tidak dituntut untuk memperbaiki proses belajar.
Standar kurikulum hanyalah ukuran standar yang kita sebagai guru bisa memperluas dan memperbesarnya. Justru dengan adanya standar kurikulum seharusnya membuat guru lebih kreatif dalam melaksanakan proses pembelajaran.
Setiap siswa akan belajar sesuai dengan harapan gurunya. Jika guru memiliki harapan agar peserta didiknya mampu menggunakan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari, mampu memecahkan masalah yang dihadapinya, kemudian mampu mengembangkannya, maka anak peserta didik akan memiliki pengalaman belajar yang menantang dan menyenangkan. Namun, jika gurunya berharap hanya meraih nilai yang bagus, maka pengalaman belajar yang diraih anak juga sebatas tes tertulis.
Kita, sebagai guru, datang ke kelas menjumpai anak-anak, bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar, meningkatkan taraf berpikir, mengembangkan potensi anak, dan memperbaiki perilaku anak.
Guru punya pilihan dan otoritas . Mengajar dengan tujuan hanya untuk menjawab tes tertulis atau memberikan ilmu pengetahuan yang dilengkapi dengan pengalaman mencoba, merasakan, dan mengkomunikasikannya dengan orang lain. Pilihan guru akan mempengaruhi karakter peserta didik dalam mencari ilmu. Kita, para guru, memiliki kesempatan untuk memberikan yang terbaik bagi generasi yang lebih cerdas. Semoga . (abc)